Cegah Penyakit Sebelum Terlambat, Pakar UCL Soroti Kebiasaan Sehat Warga RI

John Deanfield menekankan pentingnya pencegahan penyakit melalui kebiasaan sehat yang realistis. Survei yang dipaparkannya menunjukkan mayoritas responden mengapresiasi program Cek Kesehatan Gratis.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Cegah Penyakit Sebelum Terlambat, Pakar UCL Soroti Kebiasaan Sehat Warga RI
Pakar kardiologi dari University College London (UCL), Prof. John Deanfield.

Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan berobat ketika sakit. Upaya pencegahan perlu dimulai sejak dini melalui kebiasaan hidup sehat yang realistis dan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pakar kardiologi dari University College London (UCL), Prof. John Deanfield, menilai penguatan ketahanan kesehatan perlu diiringi perubahan pendekatan, dari yang berfokus pada pengobatan menjadi pencegahan penyakit dan pengurangan faktor risiko.

Hal itu disampaikan Deanfield dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA III) yang digelar Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (PERTASINDO) di Jakarta, (21/10).

Deanfield memaparkan hasil survei terhadap 2.000 penduduk Indonesia. Survei tersebut menunjukkan 92 persen responden mengapresiasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah.

Namun, apresiasi terhadap program pemeriksaan kesehatan perlu diikuti upaya mendorong masyarakat menerapkan rekomendasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 77 persen responden dalam survei yang sama berharap rekomendasi kesehatan dari pemerintah dapat disesuaikan agar lebih realistis untuk diterapkan.

Menurut Deanfield, anjuran kesehatan perlu mempertimbangkan kebiasaan dan kondisi masyarakat. Perubahan gaya hidup tidak selalu harus dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai dari langkah sederhana yang lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Alternatif untuk Mendukung Gaya Hidup Sehat

Deanfield juga menyampaikan bahwa 82 persen responden percaya alternatif yang lebih baik dapat membantu masyarakat beralih menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Dia menilai pendekatan pencegahan perlu didukung inovasi medis, kebijakan yang tepat, serta kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan industri.

Dalam paparannya, Deanfield mencontohkan pilihan produk dengan kandungan gula lebih rendah atau tanpa gula serta beras multigrain sebagai alternatif yang dapat mendukung perubahan kebiasaan konsumsi.

Rilis acara juga menyebut produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang tetap menggunakan nikotin. Namun, penyebutan alternatif tersebut tidak serta-merta berarti produk terkait bebas risiko atau aman bagi kesehatan.

Karena itu, upaya pencegahan tetap perlu mengacu pada bukti ilmiah dan mempertimbangkan risiko kesehatan dari setiap pilihan.

"Ketahanan kesehatan bukan hanya tentang kemampuan menghadapi penyakit dan krisis, tetapi juga tentang kemampuan menjaga masyarakat tetap sehat dalam jangka panjang," ujar Deanfield.

Ketahanan Kesehatan Perlu Kolaborasi

Ketua PERTASINDO Mayjen TNI (Purn.) Dr. Dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi mengatakan ketahanan kesehatan nasional semakin penting di tengah tantangan yang kompleks, mulai dari penyakit menular, penuaan populasi, hingga perubahan iklim.

Melalui SIERA III, PERTASINDO mendorong penguatan ketahanan kesehatan menggunakan kerangka 5M, yakni Man, Money, Material, Machine, dan Methods. Kerangka ini mencakup sumber daya manusia, pembiayaan, material, teknologi atau peralatan, serta metode dan tata kelola.

Dian berharap forum tersebut dapat mempertemukan tenaga kesehatan, akademisi, pemerintah, unsur militer, industri, dan organisasi internasional untuk menjembatani bukti ilmiah dengan kebijakan serta inovasi kesehatan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus dalam sambutan melalui video menegaskan ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional.

Menurutnya, pengalaman menghadapi bencana alam, penyakit menular, dan berbagai krisis kesehatan menunjukkan pentingnya sistem kesehatan yang mampu mengantisipasi, merespons, serta pulih dari ancaman secara cepat dan efektif.

Dia menekankan perlunya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi krisis, sinergi kesehatan sipil dan militer, inovasi teknologi kesehatan, serta kolaborasi internasional.

SIERA III berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 melalui rangkaian simposium, diskusi ilmiah, dan lokakarya yang membahas kebijakan kesehatan berbasis bukti, kesiapsiagaan layanan medis saat bencana, inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan.

Rekomendasi