Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan. Namun, apakah penggunaan oksigen tambahan melalui selang hidung atau nasal cannula diperlukan untuk mencegah dampak asap, meski kadar oksigen dalam darah masih normal?
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan, Profesor Ari Fahrial Syam menjelaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah bahwa pemberian oksigen secara rutin dapat mencegah kerusakan akibat paparan asap karhutla pada orang dengan saturasi oksigen normal.
"Secara medis, pemberian oksigen memang bermanfaat bagi pasien yang mengalami kekurangan oksigen dalam darah atau hipoksemia," kata Ari melalui pesan tertulis pada Senin (26/10).
Advertisement
Mengapa Asap Karhutla Berbahaya bagi Kesehatan?
Asap karhutla mengandung berbagai zat yang dapat mengganggu kesehatan, antara lain partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau PM2,5, karbon monoksida, serta berbagai gas iritan.
Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat mencapai alveolus, yaitu bagian paru-paru tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung.
Menurut Ari, paparan partikel tersebut dapat memicu beberapa dampak kesehatan, seperti Stres oksidatif yang dapat merusak sel. Peradangan pada saluran pernapasan. Gangguan fungsi paru. Respons inflamasi sistemik yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, paparan asap karhutla bukan hanya berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara lebih luas.
Advertisement
Apakah Oksigen Tambahan Bisa Melindungi Paru-Paru dari Asap?
Pemberian oksigen tambahan tidak dapat menghilangkan partikel PM2,5 yang telah masuk ke saluran pernapasan. Oksigen juga tidak secara langsung menetralisasi zat beracun maupun menghentikan proses peradangan akibat partikel tersebut.
"Pemberian oksigen tambahan tidak dapat menghilangkan partikel PM2,5 yang telah masuk ke saluran pernapasan. Oksigen juga tidak secara langsung menetralisasi zat toksik maupun menghentikan proses inflamasi yang dipicu oleh partikel tersebut," jelas Ari.
Oksigen melalui nasal cannula tetap dapat dibutuhkan apabila seseorang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap, sesuai dengan kondisi klinisnya.
"Pasien dengan hipoksemia, gangguan pertukaran gas, atau cedera inhalasi berat mungkin membutuhkan suplementasi oksigen sesuai kondisi klinis," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.
Ari juga menjelaskan bahwa oksigen konsentrasi tinggi merupakan bagian penting dari terapi keracunan karbon monoksida. Namun, kondisi ini berbeda dengan paparan PM2,5 pada masyarakat yang saturasi oksigennya masih normal.
Advertisement
Bagaimana Cara Mengurangi Dampak Asap Karhutla?
Jika oksigen tambahan tidak dapat mencegah kerusakan akibat paparan asap pada orang dengan kadar oksigen normal, langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya?
Ari menekankan bahwa upaya paling efektif adalah membatasi paparan terhadap polutan. Berikut langkah yang dianjurkan selama kualitas udara memburuk.
Batasi Paparan Polutan
Utamakan berada di dalam ruangan ketika kualitas udara memburuk. Minimalkan pula sumber paparan asap dari luar agar jumlah polutan yang terhirup dapat dikurangi.
Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Tunda atau kurangi kegiatan luar ruang ketika indeks kualitas udara menunjukkan kategori tidak sehat atau lebih buruk. Langkah ini membantu mengurangi paparan partikel halus dan polutan dalam asap.
Gunakan Masker N95 dengan Pemasangan yang Tepat
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan respirator N95 yang terpasang dengan baik. Masker ini membantu menyaring partikel halus seperti PM2,5.
Namun, masker N95 tidak melindungi pemakainya dari karbon monoksida maupun seluruh jenis gas iritan yang mungkin terkandung dalam asap kebakaran.
Advertisement
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Masyarakat perlu memperhatikan gejala yang muncul setelah terpapar asap karhutla. Jangan mengabaikan keluhan yang mengindikasikan gangguan pernapasan.
Ari mengimbau masyarakat segera menjalani pemeriksaan medis apabila mengalami sesak napas.Batuk berat. Nyeri dada. Gangguan pernapasan yang semakin memburuk.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380481/original/048155500_1792711880-000_D3Y98GK.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2965309/original/097420700_1573551048-20191112-Larangan-Vape-dan-Rokok-Elektrik-FANANI-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381194/original/023499700_1792763392-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_17.02.50__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5094055/original/038682400_1736839977-1736837474424_cara-menghilangkan-sariawan-di-bibir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4673581/original/027346000_1701683913-WhatsApp_Image_2023-12-04_at_16.45.42_f2e8e815.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4132502/original/016758000_1661224670-avinash-uppuluri-pAgXv4W1Iu0-unsplash.jpg)