Fenomena Ekonomi India: Pengangguran Turun karena Putus Asa Cari Kerja

CMIE mencatat penurunan pengangguran ke 3,99% pada September. Di balik angka itu, partisipasi kerja dan jumlah pekerja justru menyusut. Ini konteksnya.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Fenomena Ekonomi India: Pengangguran Turun karena Putus Asa Cari Kerja
Negara Ini Punya Sekolah Pencuri (Sumber: Ilustrasi Pexels)

Momentum pertumbuhan India menghadapi ujian baru seiring melemahnya indikator ketenagakerjaan dan tekanan eksternal. Pengangguran memang turun tajam menurut Centre for Monitoring Indian Economy (CMIE) dari 7,3% pada Januari menjadi 3,99% pada September namun penurunan ini terjadi bersamaan dengan menyusutnya angkatan kerja, total pekerjaan, dan tingkat partisipasi.

Mengutip Financial Express, Minggu (1/11/2026), tren tersebut mengindikasikan banyak pencari kerja yang putus asa dan keluar dari pasar tenaga kerja.

Pemerintah sebelumnya menegaskan ketersediaan lapangan kerja sebagai penopang utama konsumsi dan pertumbuhan berkelanjutan. Di sisi lain, Periodic Labour Force Survey (PLFS) menunjukkan tingkat pengangguran nasional berada di sekitar 5% dan cenderung stagnan dalam beberapa kuartal, sementara CMIE dengan metodologi berbeda secara historis mencatat angka 2% hingga 3% lebih tinggi.

Untuk kelompok usia 15–29 tahun, PLFS menempatkan pengangguran di kisaran 15%–16%, jauh di atas rata-rata nasional. Kenaikan tipis pada tingkat partisipasi kerja dan rasio pekerja terhadap populasi belum memberi kepastian, apalagi sebagian orang memilih berhenti mencari kerja.

Sinyal pelemahan juga terekam pada Purchasing Managers’ Index (PMI) Oktober. Penyerapan tenaga kerja melambat ke titik terendah sepanjang 2026, dan sektor jasa stagnan setelah sembilan bulan ekspansi beruntun. Pelaku usaha dinilai belum melihat urgensi menambah karyawan, menandakan ketahanan bisnis belum bertransformasi menjadi pembukaan lapangan kerja yang merata antarwilayah dan sektor.

Statistik resmi dipandang belum sepenuhnya menangkap distress employment: pekerja mandiri yang bertahan hidup, buruh harian lepas, hingga pengangguran terselubung di pertanian. Meski jutaan orang terserap bekerja, aspirasi 7–8 juta pendatang baru ke angkatan kerja tiap tahun masih belum terakomodasi, dan sebagian akhirnya keluar dari pasar kerja sehingga mengaburkan angka pengangguran utama.

Faktor intensitas modal yang tinggi, stagnasi upah riil, dan migrasi balik tenaga kerja ke pedesaan mempertebal kekhawatiran terjadinya jobless growth. Pasar tenaga kerja perkotaan menanggung tekanan struktural akut, sementara sektor informal masih menampung lebih dari 85% tenaga kerja dengan perlindungan sosial yang terbatas.

Peluang berupah tinggi terkonsentrasi pada teknologi informasi dan keuangan. Pertumbuhan di banyak subsektor jasa justru didominasi layanan pengiriman, pramusaji ritel, serta transportasi lokal. Saat ini sektor jasa menampung sekitar 190 juta pekerja, berbanding jauh dengan manufaktur terorganisir yang hanya menyerap 27 juta orang.

Kontrak, Gig Economy, dan Ketimpangan Keterampilan

Ilustrasi Keluarga India
Ilustrasi keluarga India (Unsplash/Gene Brutty)

Fleksibilitas sistem kerja kontrak memberi ruang bagi industri, tetapi kini porsi pekerja kontrak telah mencapai 42% dari total tenaga kerja di manufaktur terorganisir. Pada saat bersamaan, gelombang pekerja lepas (gig worker) diperkirakan meningkat dari sekitar 10 juta pada 2024–2025 menjadi 23,5 juta pada 2029–2030. Pola ini menawarkan pendapatan cepat, namun minim kepastian karier dan pengembangan keterampilan jangka panjang.

Kesenjangan antara kualifikasi pekerja dan kebutuhan industri juga melebar. Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi digital, dan ekonomi hijau mengubah peta kompetensi, sementara banyak program pelatihan belum mampu mengejar ketertinggalan tersebut.

Pemerintah telah menginisiasi PM Internship Scheme, Employment Linked Incentive Scheme, National Apprenticeship Promotion Scheme, serta modernisasi lembaga pelatihan vokasi (ITIs). Namun, capaian masih terbatas akibat kendala anggaran, kelemahan desain program, dan partisipasi industri yang minim. Sinergi kuat antara penyedia pelatihan dan dunia usaha menjadi kunci agar lulusan segera terserap.

Urgensi Anggaran, Kenaikan Upah Riil, dan Pengangguran

Anggaran Negara (Union Budget) berikutnya perlu memprioritaskan penciptaan jutaan pekerjaan berupah layak tanpa mengabaikan insentif bagi investasi dan kewirausahaan. Dengan pendapatan per kapita yang relatif rendah, India tidak bisa hanya bertumpu pada sedikit posisi berbayar tinggi di AI, desain produk, dan keuangan. Diperlukan banyak pekerjaan kerah biru berbasis teknologi yang berjalan seiring perluasan serapan tenaga kerja produktif di manufaktur dan jasa tradisional.

Kebijakan publik harus mendorong investasi padat karya, memperkuat pelatihan vokasi, serta membantu UMKM tumbuh tanpa beban regulasi yang rumit. Pernyataan Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman bahwa fase pertumbuhan konsumsi berikutnya sangat bergantung pada kenaikan upah dinilai tepat waktu.

Kenaikan upah riil yang kuat akan memperkokoh daya beli rumah tangga, menumbuhkan keyakinan pelaku usaha, dan membuat ekspansi ekonomi lebih tahan lama. Tanpa perbaikan kualitas pekerjaan dan pendapatan yang lebih merata, pertumbuhan utama India berisiko kehilangan momentum.

Rekomendasi