33 Negara Kumpulkan Pangan Darurat, Indonesia Diklaim Aman

Saat 33 negara mengimbau warganya menimbun logistik darurat, Mentan memastikan ketahanan pangan RI aman. Berapa stok beras dan asal pasokannya?

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
33 Negara Kumpulkan Pangan Darurat, Indonesia Diklaim Aman
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat meninjau lokasi Toko/Rumah Beras Kayumanis di Jalan Kayumanis X No. 46A, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (28/10). Foto: Kementan

Di tengah seruan kesiapsiagaan dari sedikitnya 33 negara, Indonesia memastikan ketahanan pangan berada pada kondisi aman. Krisis Pangan menjadi perhatian global, namun pemerintah menyebut produksi dalam negeri dan cadangan pemerintah menjadi penopang persediaan.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyatakan masyarakat Indonesia patut bersyukur karena ketersediaan pangan nasional tetap terjaga meski rantai pasok dunia berpotensi terganggu. Pernyataan itu disampaikan merespons dinamika geopolitik yang mendorong banyak negara menyiapkan skenario darurat.

"Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan,dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat," kata Amran dikutip dari Antara, Minggu (1/11/2026).

Amran menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja petani, dukungan pemerintah, dan kebijakan yang mendorong peningkatan produksi.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan,dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman," ujar dia.

"Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," kata Amran menambahkan.

33 Negara Siaga, Stok Pangan RI dan Angka CBP

Fenomena kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat kini menjadi kebijakan di banyak negara. Sedikitnya 33 negara menerbitkan panduan agar warga menyimpan kebutuhan dasar di rumah, seperti makanan tahan lama, air bersih, dan obat-obatan, untuk setidaknya 72 jam.

Inggris meminta setiap rumah tangga menyiapkan stok bahan pokok minimal tiga hari. Jepang mengimbau warganya menyimpan pasokan untuk tiga hari hingga satu minggu, menyesuaikan kebutuhan keluarga.

Kebijakan preventif tersebut ditetapkan untuk mengantisipasi beragam risiko, mulai dari konflik antarnegara, bencana alam, cuaca ekstrem, ancaman siber pada infrastruktur, hingga hambatan distribusi pangan dunia.

Di dalam negeri, Amran menyebut modal ketahanan Indonesia sangat solid. Per 26 Oktober 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Perum Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton.

Pasokan juga ditopang potensi panen (standing crop) sekitar 10 juta ton, serta simpanan di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) sekitar 10 juta ton.

Secara akumulatif, ketersediaan beras nasional diperkirakan menyentuh sekitar 25 juta ton. Angka ini dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras masyarakat Indonesia sekitar 2,5 juta ton per bulan.

"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," ujar dia.

Swasembada di Tengah Krisis Pangan

Amran menekankan kemandirian sebagai pilar utama. Menurutnya, mempertahankan swasembada beras tanpa bergantung pada impor menjadi benteng keselamatan bangsa ketika arus perdagangan global tak menentu.

Ia mengingatkan risiko tinggi jika pasokan pangan masih ditopang impor saat konflik internasional membuat jalur dagang tersendat atau negara eksportir menahan kiriman barang.

"Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," tegasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian memacu program strategis, antara lain optimalisasi lahan, percepatan pompanisasi, perbaikan sarana irigasi, distribusi benih unggul, serta peningkatan produktivitas hasil tani.

Upaya mitigasi juga diperketat guna menghadapi perubahan iklim dan potensi kekeringan agar alur produksi tidak terputus.

Amran mengingatkan agar stabilitas pangan yang dirasakan saat ini tidak membuat seluruh pihak lengah.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir," katanya.

Rekomendasi