Jumlah Penderita Kusta Masih Tinggi, Ketahui Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Dampaknya
Indonesia masih menduduki peringkat ketiga negara dengan beban kusta tertinggi, pencegahan dini bisa membantu mencegahnya memburuk.
Indonesia masih menduduki peringkat ketiga negara dengan beban kusta tertinggi, pencegahan dini bisa membantu mencegahnya memburuk.
Jumlah Penderita Kusta Masih Tinggi, Ketahui Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Dampaknya
Penyakit kusta, meskipun termasuk penyakit tropis yang terabaikan, masih menjadi ancaman kesehatan yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data, Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan beban kasus kusta tertinggi. Oleh karena itu, deteksi dini kusta menjadi langkah krusial untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas, termasuk disabilitas permanen bagi penderitanya.
Dr. Regina T. Sidjabat, Ketua Tim Kerja Neglected Tropical Disease (NTDs) Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa kusta dapat disembuhkan sepenuhnya tanpa meninggalkan disabilitas, asalkan ditemukan sejak dini dan diobati dengan tepat.
"Penemuan kasus kusta tersebut harus melibatkan semua pihak, termasuk pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama," ujarnya. Hal ini menyoroti pentingnya kerjasama lintas sektor dalam upaya eliminasi kusta di Indonesia.
Penyebab dan Penularan Kusta
Kusta adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini dapat menular melalui kontak langsung dengan pasien atau melalui pernapasan, dengan masa inkubasi yang cukup panjang, yakni antara 2 hingga 5 tahun setelah bakteri masuk ke dalam tubuh. Meskipun penyakit ini relatif jarang terdengar di masyarakat, kusta tetap menjadi ancaman kesehatan yang memerlukan perhatian serius.
Stigma Terhadap Pengidap Kusta
Salah satu tantangan besar dalam penanganan kusta adalah stigma yang melekat pada penderitanya. Agus Wijayanto, Direktur Eksekutif NLR Indonesia, menyatakan bahwa stigma ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pengidap kusta, termasuk mata pencaharian mereka.
Untuk mengatasi stigma, diperlukan advokasi lintas sektor yang efektif. "Mengakui diri mengidap kusta itu berat," katanya, menekankan perlunya dukungan emosional dan sosial bagi penderita.
Peran Edukasi Masyarakat
Ahmad Idris Afandi, seorang mantan pasien kusta, bersama organisasinya, Sahabat Pendamping Indramayu, aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang kusta. Ahmad sering menemui kasus di mana penyandang kusta, termasuk anak-anak, dan keluarganya menjadi korban stigma dari tetangga-tetangganya.
"Kami datangi dari pintu ke pintu rumah warga di sekitar penyandang kusta untuk mengedukasi," kata Ahmad. Upaya ini bertujuan untuk menghilangkan stigma dan memberikan informasi yang benar tentang kusta kepada masyarakat.
Upaya Eliminasi Kusta
Astri Ferdiana, Ph.D., peneliti dari Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM, menekankan pentingnya penghapusan stigma dalam upaya pemberantasan kusta. "Penyakit kusta masih ada di tengah masyarakat sehingga tidak boleh abai," ujarnya.
Astri juga mengapresiasi kerja keras NLR Indonesia yang telah aktif dalam penanggulangan kusta sejak 1975 dengan pendekatan yang meliputi nihil penularan, nihil disabilitas, dan nihil eksklusi.
Tahun lalu, PKT UGM turut terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kusta 2023-2027. Langkah ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mengurangi dan menghilangkan kusta di Indonesia. Dengan adanya kerjasama antara berbagai pihak, diharapkan deteksi dini kusta dapat dilakukan lebih efektif sehingga dampak negatif penyakit ini dapat diminimalisir.