Dinkes P2KB Ungkap Situasi Kusta Gorontalo, Tantangan Stigma Masih Mengemuka
Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo membeberkan situasi terkini Kusta Gorontalo pada Hari Kusta Sedunia 2026, menyoroti penemuan kasus baru dan tantangan besar dalam mengakhiri stigma.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo mengungkapkan situasi kusta di wilayahnya. Hal ini disampaikan dalam rangka peringatan Hari Kusta Sedunia Tahun 2026. Situasi kusta di Gorontalo memerlukan kewaspadaan serta penguatan upaya pengendalian berkelanjutan, khususnya dalam penemuan kasus dini, pengobatan tuntas, dan penghapusan stigma di masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Jeane Istanti Dalie, menegaskan pentingnya upaya tersebut. Beliau menyampaikan bahwa peringatan Hari Kusta Sedunia tahun ini mengusung tema global dari World Health Organization (WHO) yakni “Leprosy is curable, the real challenge is stigma”.
Tema nasional yang ditetapkan adalah “Kusta: Temukan Dini. Obati Tuntas. Akhiri Stigma”. Tema tersebut menekankan bahwa kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi pengobatan, melainkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita serta penyintas kusta.
Data Terkini Kasus Kusta di Gorontalo
Berdasarkan data Program Kusta Provinsi Gorontalo Tahun 2025, tercatat sebanyak 213 kasus baru kusta di seluruh kabupaten dan kota. Seluruh kasus baru ini teridentifikasi sebagai kusta tipe Multi Basiler (MB). Sementara itu, kusta Pausi Basiler (PB) tidak ditemukan pada periode tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah pasien kusta yang terdaftar mencapai 290 orang. Angka ini mencakup 77 pasien lanjutan dari tahun 2024 yang masih menjalani pengobatan. Data ini menunjukkan adanya beban kasus yang berkelanjutan di wilayah Gorontalo.
Dari total kasus baru, 11 kasus kusta ditemukan pada anak usia di bawah 15 tahun, atau sekitar 5,16 persen. Persentase ini masih berada di atas target nasional yang ditetapkan kurang dari lima persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penularan aktif masih terjadi di masyarakat Gorontalo.
Selain itu, persentase cacat tingkat dua pada kasus kusta baru tercatat sebesar 4,69 persen, atau sebanyak 10 kasus. Angka ini menunjukkan adanya keterlambatan dalam penemuan dan penanganan kasus kusta di beberapa wilayah. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kecacatan.
Tantangan Stigma dan Upaya Pengendalian Kusta Gorontalo
Meskipun demikian, Jeane Istanti Dalie menyatakan bahwa capaian pengobatan kusta di Provinsi Gorontalo tergolong cukup baik. Angka kesembuhan atau Release From Treatment (RFT) mencapai 92,26 persen. Capaian ini telah memenuhi target nasional minimal 90 persen.
Capaian RFT yang tinggi menunjukkan bahwa layanan pengobatan kusta berjalan dengan baik. Namun, penemuan kasus pada anak dan masih adanya cacat tingkat dua menjadi pengingat penting. Deteksi dini dan skrining kontak serumah harus terus diperkuat untuk menekan angka penularan.
Selain upaya medis seperti pengobatan tuntas dan pemberian kemoprofilaksis untuk memutus rantai penularan, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci penting. Edukasi ini berperan vital dalam eliminasi kusta di Gorontalo. Masyarakat perlu memahami bahwa kusta dapat disembuhkan.
Jeane menekankan pentingnya mengakhiri stigma. “Kita harus bersama-sama mengakhiri stigma. Kusta bukan penyakit kutukan dan penderita tidak boleh dikucilkan,” katanya. Dengan lingkungan yang mendukung, penderita akan lebih berani memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan sejak dini. Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo berharap kesadaran masyarakat meningkat untuk mendukung percepatan eliminasi kusta.
Sumber: AntaraNews