Jangan Disepelekan! Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Menahan Buang Air Besar
Kebiasaan menahan buang air besar (BAB) bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Ketahui apa saja yang terjadi pada tubuh saat Anda sering menahan BAB.
Buang air besar (BAB) adalah proses alami tubuh untuk membuang sisa-sisa pencernaan. Namun, apa jadinya jika kita sering menahan BAB? Kebiasaan ini ternyata bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius. Lalu, apa saja yang terjadi pada tubuh saat menahan buang air besar? Berikut ulasan lengkapnya.
Mungkin Anda pernah mengalami situasi di mana harus menahan BAB karena tidak ada toilet di sekitar atau sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Sesekali menahan BAB mungkin tidak berbahaya, tetapi jika menjadi kebiasaan, dampaknya bisa merugikan kesehatan Anda. Jangan anggap sepele, ya!
Menahan BAB secara terus-menerus dapat mengganggu fungsi normal sistem pencernaan dan memicu berbagai komplikasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa saja konsekuensi dari kebiasaan buruk ini agar Anda bisa lebih peduli terhadap kesehatan pencernaan Anda.
Sembelit: Feses Mengeras dan Sulit Dikeluarkan
Salah satu dampak paling umum dari menahan BAB adalah sembelit. Ketika Anda menahan BAB, usus besar akan terus menyerap air dari feses. Akibatnya, feses menjadi lebih keras dan kering, sehingga sulit untuk dikeluarkan. Kondisi ini menyebabkan:
- Rasa tidak nyaman di perut
- Nyeri perut
- Kesulitan saat buang air besar
Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam The American Journal of Gastroenterology, sembelit kronis dapat meningkatkan risiko terjadinya wasir dan fisura ani. Jadi, jangan tunda BAB jika sudah terasa ingin, ya!
Wasir (Ambeien): Pembengkakan Pembuluh Darah di Anus
Mengejan terlalu keras saat mengeluarkan feses yang keras akibat sembelit dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar anus dan rektum membengkak dan meradang. Kondisi ini dikenal sebagai wasir atau ambeien. Gejala wasir meliputi:
- Rasa sakit saat BAB
- Gatal di sekitar anus
- Pendarahan saat BAB
Wasir bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kasus yang parah, wasir mungkin memerlukan tindakan medis seperti operasi untuk mengatasinya.
Fisura Ani: Luka atau Robekan di Sekitar Anus
Feses yang keras juga dapat menyebabkan luka atau robekan pada jaringan di sekitar anus, yang disebut fisura ani. Kondisi ini sangat menyakitkan dan dapat menyebabkan pendarahan saat BAB. Fisura ani seringkali disebabkan oleh:
- Sembelit kronis
- Mengejan terlalu keras saat BAB
Jika Anda mengalami fisura ani, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter mungkin akan merekomendasikan salep atau obat-obatan untuk meredakan nyeri dan mempercepat penyembuhan luka.
Inkontinensia Tinja: Hilangnya Kontrol Terhadap BAB
Kebiasaan menahan BAB secara terus-menerus dapat melemahkan otot-otot di rektum yang berfungsi untuk mengontrol BAB. Akibatnya, Anda bisa mengalami inkontinensia tinja, yaitu kondisi di mana feses keluar tanpa disadari. Inkontinensia tinja dapat sangat memalukan dan mengganggu kualitas hidup seseorang.
Menurut data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, inkontinensia tinja lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, tetapi juga bisa dialami oleh orang yang lebih muda akibat kebiasaan menahan BAB.
Perforasi Gastrointestinal: Kondisi Darurat Medis yang Mengancam Jiwa
Dalam kasus yang sangat jarang, menahan BAB dalam waktu yang sangat lama dapat menyebabkan robekan atau lubang pada dinding saluran pencernaan. Kondisi ini disebut perforasi gastrointestinal dan merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.
Perforasi gastrointestinal dapat menyebabkan infeksi serius dan mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Gejala perforasi gastrointestinal meliputi:
- Nyeri perut yang hebat
- Demam
- Mual dan muntah
Impaksi Feses: Penyumbatan di Usus Besar atau Rektum
Feses yang keras dan kering dapat menyangkut di usus besar atau rektum, menyebabkan penyumbatan yang disebut impaksi feses. Kondisi ini dapat menyebabkan:
- Nyeri perut
- Kembung
- Mual dan muntah
- Tidak bisa buang air besar
Impaksi feses biasanya memerlukan intervensi medis untuk mengeluarkannya. Dokter mungkin akan menggunakan enema atau manual removal untuk mengatasi kondisi ini.
Radang Usus Buntu (Apendisitis): Peningkatan Risiko Akibat Penumpukan Feses
Meskipun hubungannya tidak selalu langsung, penumpukan feses di usus besar dapat meningkatkan risiko terjadinya radang usus buntu atau apendisitis. Radang usus buntu adalah peradangan pada usus buntu yang dapat menyebabkan nyeri perut yang hebat, demam, dan mual.
Jika tidak segera ditangani, radang usus buntu dapat menyebabkan komplikasi serius seperti peritonitis, yaitu infeksi pada lapisan perut.
Perlambatan Pergerakan Usus: Gangguan Fungsi Normal Usus
Menahan BAB dapat mengganggu fungsi normal usus dan memperlambat pergerakannya. Kondisi ini dapat memperburuk sembelit dan masalah pencernaan lainnya. Usus yang bergerak lambat dapat menyebabkan feses menumpuk dan mengeras, sehingga semakin sulit untuk dikeluarkan.
Kanker Usus Besar: Peningkatan Risiko dalam Jangka Panjang
Meskipun tidak secara langsung disebabkan oleh menahan BAB, kontak feses yang lama dengan dinding usus besar dapat meningkatkan risiko paparan zat karsinogenik dan meningkatkan risiko kanker usus besar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan usus besar dengan buang air besar secara teratur.
Buang air besar secara teratur adalah bagian penting dari menjaga kesehatan pencernaan. Jangan abaikan sinyal tubuh Anda untuk BAB. Jika Anda mengalami kesulitan buang air besar atau sering merasa perlu menahan BAB, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.