Jangan Anggap Remeh Sering Alami Biduran, Begini Cara Penanganan
Jangan anggap remeh jika Anda sering mengalami biduran! Kondisi kulit yang gatal ini bisa menjadi indikasi adanya penyakit yang lebih serius.
Biduran, atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai urtikaria, merupakan kondisi kulit yang ditandai dengan munculnya ruam merah atau bentol-bentol yang gatal, dan terkadang disertai rasa perih atau panas. Banyak orang mengalami biduran, baik hanya sekali dalam hidup mereka maupun berulang kali.
Meskipun sering dianggap sebagai masalah ringan, biduran yang terjadi berulang kali atau berlangsung lama dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
Menurut informasi dari laman kesehatan NHS UK, biduran umumnya akan membaik dalam beberapa hari dan dapat diatasi secara mandiri dengan menggunakan obat antihistamin. Namun, jika gejala biduran sering muncul, bertahan lebih dari enam minggu, atau disertai dengan gejala serius seperti sesak napas, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Liputan6.com akan membahas lebih mendalam mengenai kaitan antara biduran dan berbagai penyakit, cara penanganannya, serta waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter, pada Senin (18/8).
Biduran
Biduran, atau yang dikenal dengan istilah urtikaria, bukanlah suatu kondisi yang muncul tanpa alasan. Ketika tubuh bereaksi terhadap suatu pemicu, sel-sel kulit akan melepaskan histamin dan zat kimia lainnya yang menyebabkan pembuluh darah kecil melebar. Hal ini menyebabkan timbulnya bentol, ruam merah, dan rasa gatal. Beberapa penyebab umum biduran yang sering dialami banyak orang, menurut NHS UK, ACAAI, dan AAD, antara lain:
1. Alergi Makanan
Alergi makanan menjadi salah satu pemicu biduran yang paling umum. Makanan yang sering menyebabkan reaksi meliputi kacang tanah, kacang pohon (seperti almond, kenari, dan mete), telur, susu sapi, kedelai, gandum, ikan, dan kerang. Reaksi alergi dapat muncul dalam waktu singkat, mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam setelah makanan tersebut dikonsumsi. Dalam beberapa kasus, bahkan sedikit paparan saja bisa cukup untuk memicu reaksi. Contohnya adalah seseorang yang alergi terhadap kacang dapat mengalami biduran hanya dengan menyentuh atau mencium aroma kacang tersebut. Menurut ACAAI, alergi makanan sering menjadi penyebab biduran akut pada anak-anak, sedangkan pada orang dewasa, penyebabnya lebih sering berasal dari obat-obatan.
2. Obat-obatan Tertentu
Reaksi alergi terhadap obat juga sering kali menyebabkan timbulnya biduran. Beberapa antibiotik seperti penisilin dan sulfa, serta obat pereda nyeri seperti aspirin dan ibuprofen, merupakan pemicu yang umum. Selain menyebabkan biduran, reaksi alergi terhadap obat dapat menimbulkan gejala serius seperti sesak napas, pusing, atau pembengkakan wajah. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk menginformasikan kepada dokter mengenai riwayat alergi mereka sebelum mengonsumsi obat. Dalam beberapa kasus, dokter dapat melakukan uji kulit (skin test) untuk memastikan apakah obat tertentu menjadi penyebab alergi.
3. Gigitan atau Sengatan Serangga
Sengatan dari lebah, tawon, semut api, atau gigitan nyamuk dapat memicu biduran pada beberapa orang. Reaksi yang muncul biasanya ringan, hanya berupa bentol kecil dan rasa gatal. Namun, bagi individu yang sangat sensitif, sengatan serangga bisa memicu reaksi alergi yang lebih berat, yang dikenal sebagai anafilaksis, yang dapat berbahaya. Menurut AAD, reaksi alergi akibat gigitan serangga termasuk dalam kategori kondisi darurat medis, terutama jika disertai dengan sesak napas atau pembengkakan tenggorokan. Oleh karena itu, pasien dengan riwayat alergi terhadap sengatan serangga sering disarankan untuk membawa auto-injector epinefrin.
4. Faktor Lingkungan dan Fisik
Biduran juga dapat muncul akibat rangsangan fisik tertentu, yang dikenal dengan istilah physical urticaria. Beberapa contoh pemicu termasuk:
- Suhu dingin: Misalnya, saat berenang di air es atau terkena angin dingin, yang dikenal sebagai cold urticaria.
- Suhu panas dan keringat: Dikenal sebagai cholinergic urticaria, biasanya muncul saat tubuh kepanasan setelah berolahraga, mandi air panas, atau bahkan saat merasa cemas.
- Tekanan pada kulit: Disebut dermatographism atau pressure urticaria, terjadi akibat pakaian ketat, ikat pinggang, atau tas yang menekan kulit terlalu lama.
- Paparan sinar matahari: Dikenal dengan istilah solar urticaria. Meskipun jarang, reaksi ini bisa muncul hanya dalam beberapa menit setelah kulit terpapar sinar matahari. Umumnya, biduran jenis ini tidak berbahaya, tetapi bisa sangat mengganggu karena sulit untuk dihindari jika pemicunya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
5. Infeksi dan Penyakit Tertentu
Biduran tidak selalu disebabkan oleh alergi. Menurut NHS UK dan ACAAI, infeksi virus seperti flu, hepatitis, mononukleosis, hingga COVID-19 dapat menimbulkan biduran sebagai salah satu gejala. Infeksi bakteri seperti radang tenggorokan (strep throat) dan infeksi saluran kemih juga dilaporkan dapat menjadi pemicu. Selain itu, beberapa penyakit autoimun dan gangguan kelenjar tiroid sering kali dikaitkan dengan biduran kronis. Dalam kasus yang jarang terjadi, biduran bisa menjadi gejala awal dari penyakit serius seperti vasculitis (radang pembuluh darah) atau kanker. Oleh karena itu, biduran yang berlangsung lama perlu mendapatkan pemeriksaan medis yang mendalam.
6. Stres dan Faktor Emosional
Banyak orang tidak menyadari bahwa stres emosional dapat memicu biduran. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang dapat memengaruhi sistem imun, yang pada sebagian orang dapat menyebabkan pelepasan histamin berlebih. Hal ini mengakibatkan timbulnya biduran meskipun tidak terdapat alergi atau infeksi. Fenomena ini dikenal dengan istilah stress-induced urticaria. Penderita umumnya menyadari bahwa biduran sering muncul saat beban kerja tinggi, kecemasan berlebih, atau kurang tidur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi relaksasi, olahraga ringan, dan manajemen stres dapat membantu mengurangi frekuensi kekambuhan.
7. Idiopatik (Tidak Diketahui Penyebabnya)
Meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, sekitar 30-50% kasus biduran kronis tetap tidak diketahui penyebabnya. Kondisi ini disebut chronic idiopathic urticaria. Menurut laporan medis, kondisi ini sering dialami oleh perempuan berusia 20-40 tahun dan dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Meskipun tidak berbahaya, biduran idiopatik sangat mengganggu kualitas hidup karena rasa gatal dan bentol yang terus-menerus muncul. Terapi biasanya difokuskan pada pengendalian gejala dengan antihistamin jangka panjang.
Sebagian besar kasus biduran umumnya bersifat ringan dan dapat diatasi secara mandiri
Sebagian besar kasus biduran umumnya bersifat ringan dan dapat diatasi secara mandiri. Menurut NHS UK dan ACAAI, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk penanganannya.
1. Mengonsumsi Antihistamin
Antihistamin merupakan obat utama yang digunakan untuk meredakan rasa gatal dan bentol yang disebabkan oleh biduran. Disarankan untuk memilih jenis non-drowsy yang tidak menyebabkan kantuk, terutama jika digunakan dalam jangka panjang.
2. Kompres Dingin
Mengompres area kulit yang gatal dengan kain dingin dapat membantu mengurangi peradangan yang terjadi. Langkah ini bisa memberikan kenyamanan dan mengurangi ketidaknyamanan akibat gatal.
3. Menggunakan Pelembap atau Krim Anti-gatal
Penggunaan krim mentol atau losion calamine dapat membantu mengurangi rasa panas dan gatal yang muncul. Ini adalah cara yang efektif untuk memberikan bantuan sementara pada kulit yang teriritasi.
4. Menghindari Pemicu
Jika penyebab biduran sudah diketahui, seperti makanan atau obat tertentu, sebaiknya hindari hal-hal tersebut. Mengidentifikasi dan menghindari pemicu adalah langkah penting dalam mencegah kambuhnya biduran.
5. Memakai Pakaian Longgar
Pakaian yang ketat dapat meningkatkan gesekan atau tekanan pada kulit, yang dapat memperburuk kondisi biduran. Oleh karena itu, mengenakan pakaian longgar sangat dianjurkan untuk mengurangi iritasi.
6. Mengonsumsi Obat Resep Dokter Jika Diperlukan
Pada kasus biduran yang lebih berat, dokter mungkin akan meresepkan kortikosteroid, obat anti-inflamasi, atau imunomodulator. Ini bisa menjadi solusi yang diperlukan untuk mengatasi gejala yang lebih serius.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Tidak semua kasus biduran memerlukan perhatian medis segera. Namun, menurut NHS UK dan AAD, ada beberapa kondisi di mana Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter, antara lain:
- Biduran berlangsung lebih dari 6 minggu (chronic urticaria).
- Gejala sering kambuh tanpa penyebab yang jelas.
- Disertai demam, nyeri, atau perasaan tidak enak badan.
- Muncul pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan (indikasi angioedema).
- Mengalami kesulitan bernapas, menelan, atau suara serak tiba-tiba (tanda reaksi alergi parah/anaphylaxis).
Jika Anda mengalami gejala darurat seperti sesak napas, pembengkakan yang parah, atau pingsan, segera hubungi layanan gawat darurat karena kondisi tersebut dapat mengancam nyawa.
Berikut adalah beberapa kalimat efektif mengenai FAQ seputar biduran: 1. Apa penyebab biduran? 2. Bagaimana cara mengobati biduran? 3. Apakah biduran menular kepada orang lain? 4. Kapan biduran biasanya muncul? 5. Apa saja gejala biduran yang umum? 6. Apakah makanan tertentu bisa memicu biduran? 7. Bagaimana cara mencegah biduran? 8. Kapan sebaiknya pergi ke dokter untuk biduran? 9. Apakah biduran bisa sembuh dengan sendirinya? 10. Apa perbedaan biduran dengan alergi lainnya? Jika ada pertanyaan lain, silakan ajukan!
1. Apakah biduran selalu disebabkan oleh alergi?
Biduran tidak selalu disebabkan oleh alergi. Selain itu, kondisi ini juga dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti infeksi, stres, atau kondisi fisik seperti suhu yang ekstrem.
2. Apakah biduran menular?
Biduran bukanlah penyakit yang dapat menular. Meskipun demikian, kondisi ini bisa muncul akibat infeksi virus yang memang bersifat menular.
3. Apakah biduran bisa sembuh total?
Kebanyakan kasus biduran akan sembuh dalam beberapa hari tanpa meninggalkan bekas. Namun, untuk kasus biduran kronis, gejala dapat bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
4. Apakah anak-anak bisa terkena biduran?
Ya, anak-anak juga dapat mengalami biduran. Mereka cenderung lebih rentan terhadap kondisi ini, terutama akibat alergi makanan, infeksi virus, atau gigitan serangga.
5. Apakah biduran berbahaya?
Secara umum, biduran tidak berbahaya. Namun, jika disertai gejala seperti sesak napas, pembengkakan tenggorokan, atau pusing yang parah, hal tersebut dapat menjadi tanda anafilaksis yang memerlukan penanganan medis segera.
Sumber Rujukan
- NHS UK. Hives (Urticaria). www.nhs.uk
- American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (ACAAI). Hives (Urticaria): Causes, Symptoms & Treatment. www.acaai.org
- American Academy of Dermatology (AAD). Hives: Signs and Symptoms. www.aad.org