Bukan Karena Pubertas, Ini Alasan Kenapa Orang Dewasa Juga Sering Jerawatan
Kondisi ini dikenal sebagai jerawat dewasa atau adult acne, yang dapat sangat memengaruhi penampilan dan rasa percaya diri seseorang.
Jerawat sering kali dianggap sebagai masalah yang hanya dialami oleh remaja, tetapi kenyataannya, banyak orang dewasa juga menghadapi tantangan ini. Kondisi ini dikenal sebagai jerawat dewasa atau adult acne, yang dapat sangat memengaruhi penampilan dan rasa percaya diri seseorang.
Fenomena jerawat pada orang dewasa menjadi semakin umum, bahkan di kalangan mereka yang tidak pernah mengalami masalah ini pada masa remaja. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab jerawat tidak hanya berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama pubertas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya.
Meski penyebab jerawat dewasa tergolong kompleks, terdapat banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mengurangi masalah kulit ini. Dengan mengenali pemicu yang spesifik dan menerapkan strategi perawatan yang sesuai, Anda dapat memperoleh kulit yang lebih bersih dan sehat.
Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai alasan yang menyebabkan jerawat muncul pada usia dewasa, mencakup faktor internal dan eksternal. Jerawat dewasa dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari komedo hingga jerawat kistik yang meradang, dan sering kali meninggalkan bekas yang sulit untuk dihilangkan.
Faktor Hormonal dan Genetik
Salah satu faktor utama yang menyebabkan jerawat pada orang dewasa adalah perubahan hormon. Penelitian yang dilakukan oleh Joshua Zeichner dan rekan-rekannya pada tahun 2017 mengungkapkan beberapa alasan mengapa orang dewasa dapat mengalami jerawat.
Pertama, hormon androgen yang terdapat pada pria dan wanita dapat merangsang kelenjar sebaceous untuk memproduksi minyak (sebum) secara berlebihan. Jika produksi sebum ini tidak terkontrol, maka akan menyumbat pori-pori dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri penyebab jerawat, seperti Propionibacterium acnes.
Pada wanita, fluktuasi hormon sering kali terjadi selama siklus menstruasi, kehamilan, pascapersalinan, atau ketika memasuki masa perimenopause dan menopause. Selain itu, kondisi seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, yang pada gilirannya dapat memicu jerawat kistik yang parah. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), jerawat hormonal pada wanita dewasa biasanya muncul di area dagu, rahang, dan leher.
Di samping itu, faktor genetik juga memiliki pengaruh yang signifikan. Jika orang tua atau anggota keluarga dekat Anda memiliki riwayat jerawat dewasa, kemungkinan Anda juga akan mengalaminya lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya predisposisi genetik terhadap kondisi kulit ini, di mana struktur dan fungsi kelenjar minyak serta respons peradangan dapat diturunkan.
Stres dan Gaya Hidup
Stres merupakan salah satu faktor umum yang dapat menyebabkan jerawat pada orang dewasa. Saat seseorang mengalami stres, tubuhnya akan memproduksi hormon kortisol yang dapat meningkatkan jumlah minyak pada kulit. Peningkatan sebum ini membuat kulit lebih rentan terhadap penyumbatan pori-pori dan peradangan. Stres yang berkepanjangan dapat memperburuk jerawat yang sudah ada atau bahkan memicu kemunculan jerawat baru.
Dikutip dari TIME, Senin (4/8), stres dapat memicu pelepasan hormon CRH (corticotropin-releasing hormone) dan kortisol yang berperan dalam meningkatkan produksi minyak (sebum) serta menyebabkan inflamasi pada kulit. Hal ini berkontribusi terhadap pembentukan jerawat dan memperlambat proses penyembuhan luka pada kulit.
Selain itu, gaya hidup modern juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan kulit. Pola makan yang tinggi gula dan produk olahan, kurang tidur, serta paparan polusi lingkungan dapat memperburuk kondisi kulit. Makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi, meskipun masih dalam tahap penelitian, diduga dapat memicu peradangan serta jerawat.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi diet yang tinggi gula dan produk susu dengan timbulnya jerawat.
Produk Kosmetik & Perawatan Kulit
Penggunaan produk perawatan kulit dan kosmetik yang tidak sesuai dapat menjadi penyebab masalah kulit. Produk yang memiliki sifat komedogenik, yaitu yang dapat menyumbat pori-pori, atau yang terlalu abrasif, dapat mengiritasi kulit dan memicu timbulnya jerawat.
Menurut Verywell Health, fenomena ini dikenal dengan istilah acne cosmetica. Acne cosmetica merupakan jerawat yang ringan namun berlangsung lama, yang disebabkan oleh bahan-bahan komedogenik dalam produk kosmetik atau perawatan kulit. Gejala yang muncul biasanya berupa komedo tertutup (whiteheads) atau bintik kecil, dengan sedikit atau tanpa peradangan, terutama pada area yang sering menggunakan produk tersebut.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, sebuah artikel dari SkinHelp Dove Press Study menjelaskan bahwa produk kosmetik yang berat atau berminyak, seperti foundation, tabir surya, lotion, dan bedak padat, mengandung bahan-bahan seperti lanolin, mineral oil, petrolatum, shea butter, coconut oil, oligosiloxane, yang dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan komedo. Selain itu, produk yang mengandung pewarna tertentu (D&C Red dyes), pewangi, atau silikon (seperti cyclopentasiloxane dan dimethicone) juga bisa menjadi penyebab munculnya jerawat.
Penelitian di Korea menunjukkan bahwa penggunaan bedak dan foundation dapat meningkatkan risiko jerawat hingga 3,5 kali lipat dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan produk tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih produk yang sesuai dengan jenis kulit dan memiliki label 'non-comedogenic' atau 'non-acnegenic' untuk menghindari masalah ini.
Strategi Efektif Mencegah dan Mengatasi Jerawat Dewasa
Perawatan jerawat pada orang dewasa membutuhkan pendekatan yang teratur dan menyeluruh. Berikut adalah beberapa strategi yang efektif untuk mencegah dan mengatasi masalah jerawat pada dewasa:
- Mulailah dengan menerapkan rutinitas perawatan kulit yang konsisten, menggunakan produk yang tidak menyumbat pori-pori. Menggunakan pembersih wajah yang lembut, pelembap yang tidak berat, serta tabir surya adalah langkah dasar yang penting untuk menjaga kesehatan kulit.
- Hindarilah mencuci wajah terlalu sering atau menggosok kulit dengan keras, karena hal ini dapat memperburuk iritasi yang ada.
- Bahan aktif seperti asam salisilat, benzoil peroksida, atau retinoid topikal sering kali disarankan untuk mengatasi jerawat. Retinoid, khususnya, efektif dalam membersihkan pori-pori dan mengurangi peradangan serta membantu regenerasi sel kulit. Namun, penggunaan bahan ini harus sesuai dengan anjuran dokter kulit, terutama karena retinoid dapat menyebabkan kulit menjadi kering atau sensitif pada awal pemakaian.
- Selain perawatan yang diterapkan pada kulit, perubahan gaya hidup juga sangat penting. Kelola stres dengan cara melakukan yoga, meditasi, berolahraga, atau melakukan hobi yang menenangkan.
- Pastikan untuk mengonsumsi makanan yang seimbang, hindari makanan yang berpotensi memicu jerawat seperti makanan tinggi gula dan olahan, serta usahakan untuk tidur cukup, minimal 7-8 jam setiap malam.
- Apabila jerawat yang dialami cukup parah atau tidak menunjukkan perbaikan dengan perawatan mandiri, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, seperti terapi hormonal, antibiotik oral, atau prosedur medis lainnya.