Alasan Anak Sering Berulah kepada Orangtua dan Cara Menghadapinya
Anak sering rewel ke orangtua karena merasa aman untuk mengekspresikan emosi. Ini tanda ikatan kuat, bukan kegagalan pola asuh.
Dalam dunia pengasuhan anak, ada satu fenomena yang kerap membingungkan banyak orangtua: mengapa anak tampak lebih sering rewel, berulah, atau menunjukkan emosi negatif hanya di hadapan orangtuanya, khususnya ibu? Banyak orangtua yang merasa frustrasi ketika anak bersikap manis di luar rumah atau kepada orang lain, namun berubah drastis saat kembali ke rumah. Pertanyaan ini bukan hanya muncul dari rasa ingin tahu, tetapi juga dari kelelahan emosional yang dirasakan para orangtua.
Kenyataannya, perilaku tersebut justru mencerminkan adanya ikatan emosional yang kuat antara anak dan orangtuanya. Anak merasa aman dan nyaman mengekspresikan semua emosinya, termasuk kemarahan, kesedihan, dan frustrasi, kepada orang yang mereka percayai sepenuhnya. Fenomena ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk kenakalan atau kekurangan dalam pola asuh.
Melalui artikel ini, kita akan mengupas alasan mengapa anak sering kali berulah kepada orangtuanya, serta strategi konkret untuk menghadapinya dengan lebih bijak dan penuh pengertian. Memahami hal ini akan membantu orangtua membangun hubungan yang lebih sehat dan harmonis dengan anak.
Mengapa Anak Lebih Sering Berulah kepada Orangtua?
Salah satu alasan utama mengapa anak menunjukkan perilaku "lebih buruk" kepada orangtuanya, terutama ibu, adalah karena mereka melihat orangtua sebagai tempat paling aman untuk meluapkan emosi. Seorang pengguna TikTok bernama Jenna sempat mengangkat fenomena ini, menyebut ibu sebagai "sumur emosional" bagi anak. Artinya, anak mengandalkan ibu sebagai tempat untuk menyalurkan perasaan yang tak bisa mereka ungkapkan di tempat lain.
Crystal Britt, LCSW, seorang pekerja sosial klinis berlisensi, mengatakan bahwa anak-anak cenderung menunjukkan sisi emosional terdalam mereka kepada orang yang mereka percaya. "Ketika seorang anak bertindak lebih emosional terhadap salah satu orangtuanya, itu sering kali karena mereka merasa aman untuk menunjukkan emosi yang mungkin telah mereka pendam sepanjang hari," ujarnya.
Dr. Zishan Khan, seorang psikiater anak dan remaja, menambahkan bahwa kedekatan emosional yang tinggi membuat anak merasa bebas berekspresi. "Bukan berarti ayah lebih tegas atau anak takut padanya. Ini lebih tentang siapa yang memiliki ikatan paling kuat dengan anak. Biasanya, ibu memiliki keintiman emosional yang lebih tinggi, sehingga anak merasa lebih bebas mengekspresikan emosinya kepada mereka," jelasnya.
Perilaku ini sebenarnya bukanlah tanda bahwa orangtua telah gagal dalam mengasuh. Justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa anak merasa sangat terhubung dengan orangtuanya. Mereka tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun, bahkan emosi negatif sekalipun.
Strategi Menghadapi Anak yang Sering Berulah di Rumah
Meskipun perilaku anak yang hanya rewel kepada orangtua merupakan tanda hubungan yang sehat, tidak berarti orangtua harus menanggung seluruh beban emosional sendirian. Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk menciptakan keseimbangan dalam pengasuhan dan menjaga kesehatan mental seluruh anggota keluarga.
Pertama, penting bagi orangtua untuk berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan. Jika ibu cenderung menjadi tempat pelampiasan emosi anak, maka ayah perlu lebih aktif terlibat dalam aspek emosional pengasuhan. Menurut para ahli, keterlibatan kedua orangtua dalam aktivitas anak dapat membantu membagi beban emosional dan menciptakan rasa aman yang merata dari kedua belah pihak.
Kedua, orangtua perlu menyamakan aturan dan batasan. Anak-anak akan lebih mudah menyesuaikan diri jika aturan di rumah konsisten antara ayah dan ibu. Ketika keduanya memberikan batasan yang sama, anak akan belajar bahwa mereka tidak bisa bermain-main dengan aturan hanya karena berganti pengasuh.
Ketiga, luangkan waktu berkualitas secara individual bersama anak. Waktu khusus ini bukan hanya untuk bermain, tetapi juga untuk membangun komunikasi emosional yang mendalam. Anak akan belajar bahwa kedua orangtuanya sama-sama terbuka, bisa dipercaya, dan dapat menjadi tempat curhat.
Keempat, orangtua perlu menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Merawat diri bukanlah bentuk egoisme, tetapi keharusan agar tetap bisa hadir secara utuh bagi anak. Meluangkan waktu untuk beristirahat, berbicara dengan pasangan, atau bahkan mencari bantuan profesional jika dibutuhkan, adalah langkah bijak dalam menjaga keseimbangan.
Penting juga untuk memahami bahwa setiap anak memiliki cara unik dalam mengekspresikan emosinya. Beberapa anak mungkin menangis, berteriak, atau marah ketika kelelahan secara emosional. Alih-alih membalas dengan kemarahan, cobalah untuk memvalidasi perasaan mereka. Kalimat seperti "Ibu tahu kamu capek dan marah, itu tidak apa-apa," bisa menjadi jembatan empati yang sangat berarti bagi anak.
Bangun Hubungan yang Sehat dan Saling Menguatkan
Ketika anak berulah hanya kepada Anda, itu bukanlah cerminan dari kegagalan sebagai orangtua. Justru itu adalah tanda bahwa Anda telah menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya. Meskipun kadang melelahkan, penting untuk menyadari bahwa ekspresi emosi anak adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang sehat.
Dengan memahami alasan di balik perilaku ini dan menerapkan strategi pengasuhan yang tepat, Anda dapat menciptakan lingkungan rumah yang lebih harmonis dan penuh pengertian. Jadikan momen-momen penuh emosi itu sebagai peluang untuk memperkuat ikatan dan membantu anak belajar mengenali serta mengelola perasaannya dengan lebih baik.
Karena pada akhirnya, pengasuhan bukan hanya tentang mendidik anak menjadi baik, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat, saling percaya, dan penuh cinta tanpa syarat.