Waspada! Tahukah Anda, Puncak Musim Hujan Diprediksi November-Desember 2025? DLH Ingatkan Potensi Banjir Katingan
Dinas Lingkungan Hidup Katingan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai Potensi Banjir Katingan pada puncak musim hujan November-Desember 2025. Apa saja pemicu dan dampaknya?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat. Peringatan ini terkait potensi banjir yang diperkirakan akan melanda wilayah tersebut pada puncak musim hujan.
Kepala DLH Katingan, Yobie Sandra, menjelaskan bahwa puncak musim hujan diprediksi terjadi antara November hingga Desember 2025. Kondisi ini berpotensi menimbulkan genangan air dan banjir di berbagai daerah.
Peringatan ini didasarkan pada data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta kondisi lingkungan terkini. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
Prakiraan Cuaca dan Pergeseran Musim
Berdasarkan data BMKG, musim kemarau di Katingan pada tahun 2025 berlangsung lebih singkat. Periode kemarau hanya terjadi selama empat bulan, yakni dari Juni hingga September. Puncak kemarau tercatat pada bulan Agustus, dengan penurunan signifikan titik panas atau hotspot.
Pada bulan Juli, terpantau 116 titik hotspot, yang kemudian turun menjadi 44 titik pada Agustus. Memasuki awal September, jumlah hotspot hanya tersisa 10 titik, menandakan perubahan pola cuaca. Sejak pertengahan September, sebagian besar wilayah Katingan sudah mulai memasuki musim hujan.
Data menunjukkan peningkatan curah hujan yang drastis. Curah hujan September mencapai 272 mm, jauh lebih tinggi dibanding Agustus yang hanya 115 mm. Prakiraan cuaca mengindikasikan intensitas hujan akan terus meningkat.
Pada akhir September 2025, curah hujan diprediksi berada di kisaran 200–300 mm/bulan. Angka ini bisa naik hingga 300–400 mm/bulan pada Oktober, dengan intensitas hujan ringan hingga tinggi. Musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang, mulai akhir September hingga Februari 2025.
Faktor Pemicu dan Dampak Potensi Banjir
Selain tingginya curah hujan, potensi banjir di Katingan juga dipicu oleh faktor lain yang signifikan. Kondisi sungai yang semakin dangkal akibat sedimentasi tahunan menjadi penyebab utama. Sedimentasi ini menghambat aliran air dari hulu ke hilir.
Terhambatnya aliran air menyebabkan air meluap dan menggenang lebih lama di berbagai wilayah. Fenomena ini terutama terjadi di daerah aliran sungai (DAS) Katingan bagian tengah dan hilir. Hal ini memperparah risiko terjadinya banjir.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Katingan, Noga Yetra, menambahkan bahwa risiko bencana hidrometeorologi perlu diwaspadai. Bencana tersebut meliputi banjir, genangan air, dan tanah longsor.
Dampak sekunder dari bencana hidrometeorologi juga menjadi perhatian serius. Peningkatan kasus penyakit diare dan demam berdarah dengue (DBD) berpotensi terjadi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat sangat diperlukan.
Kesiapsiagaan Lintas Sektor untuk Mitigasi
Yobie Sandra menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana ini. Koordinasi antar instansi terkait sangat krusial untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama secara efektif.
Instansi yang menangani kebencanaan, khususnya, diimbau untuk lebih proaktif. Mereka harus mempersiapkan langkah-langkah mitigasi dan respons yang cepat. Tujuannya adalah agar dampak cuaca ekstrem bisa diminimalisasi sejak dini.
Kesiapsiagaan meliputi penyediaan logistik, evakuasi, dan penanganan pascabencana. Edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi banjir juga menjadi bagian penting dari upaya mitigasi. Dengan demikian, kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.
Sumber: AntaraNews