Warga Tapteng Bergantung Mata Air Perbukitan Akibat Longsor, Picu Krisis Air Bersih Tapteng
Banjir dan longsor parah merusak jaringan air bersih di Tapanuli Tengah, memaksa warga bergantung pada mata air perbukitan dan memicu Krisis Air Bersih Tapteng yang berkepanjangan.
Warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kini menghadapi tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada 25 November lalu telah merusak infrastruktur vital, termasuk jaringan distribusi air bersih.
Kondisi ini memaksa ribuan penduduk untuk mengandalkan pasokan air dari mata air perbukitan. Mereka harus membeli air galonan demi kelangsungan hidup di tengah krisis yang melanda daerah tersebut.
Kerusakan parah pada jaringan PDAM menyebabkan aliran air terhenti total di banyak area terdampak. Akibatnya, aktivitas mandi, memasak, dan mencuci menjadi sangat sulit dilakukan oleh warga setiap harinya.
Mereka terpaksa mencari alternatif, salah satunya dengan membeli air dari kios-kios yang menjual air dari Perbukitan Aek Matauli. Fenomena ini terlihat jelas di Kecamatan Pandan, khususnya di sepanjang Jalan Zainal Hutagalung dan Jalan Madse Gelar Kesayangan. Kios-kios air dadakan bermunculan di setiap sudut jalan untuk memenuhi permintaan yang tinggi.
Situasi ini tidak hanya menambah beban finansial warga, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan pasokan air bersih di masa mendatang. Krisis Air Bersih Tapteng ini memerlukan penanganan yang cepat dan efektif.
Ketergantungan pada Mata Air Perbukitan dan Beban Ekonomi Warga
Tora Limbong, warga Kecamatan Pandan, mengungkapkan bahwa pasokan air dari Perbukitan Aek Matauli menjadi satu-satunya harapan. Ia dan banyak warga lainnya belum mengetahui kapan layanan PDAM akan kembali normal. "Beginilah kami hari-hari ini menggunakan air Matauli untuk memasak, mandi," kata dia. Setiap hari, mereka harus membeli air untuk kebutuhan memasak dan mandi, sebuah rutinitas baru yang membebani.
Ketergantungan ini menciptakan antrean panjang di kios-kios air, menandakan betapa mendesaknya kebutuhan akan air bersih di Tapteng. Desiana, warga Sibuluan, juga merasakan dampak langsung dari krisis ini, terutama kesulitan mendapatkan air minum sejak longsor. Bukit dekat tempat tinggalnya juga terdampak parah. "Segeralah pak tolong diselesaikan. Kami tidak terus-terusan bergantung pada sumber air disini. Tentu lebih banyak pengeluaran kami," kata dia.
Desiana berharap perbaikan jaringan distribusi PDAM dapat segera diselesaikan agar tidak terus-menerus bergantung pada sumber air alternatif. Beban pengeluaran rumah tangga mereka meningkat drastis karena harga air per galon atau drum plastik berkapasitas 20 liter dijual Rp2.000, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp32 ribu per hari untuk konsumsi dan mencuci.
Ryo, pemilik salah satu kios air, menjelaskan bahwa sebagian besar kios tidak menaikkan harga jual meskipun permintaan melonjak. Semangat gotong royong juga terlihat, di mana warga urunan membeli selang untuk menarik air dari sumber. "Saling membantu saja lah kita," kata dia. Namun, solusi jangka panjang tetap sangat dibutuhkan untuk mengatasi Krisis Air Bersih Tapteng ini.
Bantuan Air dan Tantangan Kualitas Air Pasca-Longsor
Meskipun ada bantuan air dari pemerintah daerah, relawan, dan legislator setempat melalui mobil tangki, kualitas air menjadi perhatian. Bantuan air tersebut umumnya hanya bisa digunakan untuk mencuci pakaian. "Benar itu pak, sudah ada bantuan, tapi warga tidak menggunakannya untuk minum-masak, beberapa airnya keruh karena diambil dari air sungai yang sekarang karena longsor bercampur lumpur begitu," ungkap Ryo. Ini menyoroti perbedaan signifikan antara ketersediaan air dan akses terhadap air bersih yang aman untuk diminum.
Dampak bencana pada 25 November sangat luas di Tapanuli Tengah. Berdasarkan data yang dilaporkan Kantor SAR Nias, pada hari ke-12 pascabencana, total 115 orang meninggal dunia. Selain itu, 169 orang masih dalam pencarian dan 549 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Angka-angka ini menggambarkan skala kerusakan dan tantangan pemulihan infrastruktur.
Pemulihan infrastruktur dasar seperti jaringan air bersih menjadi prioritas utama untuk mengembalikan kehidupan normal warga. Krisis air bersih ini bukan hanya masalah logistik, tetapi juga kesehatan masyarakat. Akses terbatas terhadap air minum yang layak dapat memicu berbagai penyakit. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat perbaikan jaringan PDAM guna memastikan pasokan air bersih yang stabil dan aman bagi seluruh warga Tapteng.
Sumber: AntaraNews