Warga Sumbang Banyumas Tegas Suarakan Penolakan Tambang di Kaki Gunung Slamet
Ratusan warga Kecamatan Sumbang, Banyumas, menggelar aksi damai menolak aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet yang dinilai merusak lingkungan, menyuarakan Penolakan Tambang Banyumas demi masa depan generasi.
Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang, Banyumas, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, menyuarakan penolakan keras terhadap aktivitas pertambangan. Penolakan ini berlokasi di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Aktivitas tambang tersebut dinilai merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat setempat.
Aksi penolakan ini diwujudkan dengan mendatangi langsung area tambang yang berada di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, Kecamatan Sumbang. Pada Minggu (11/1), warga menggelar aksi damai tanpa orasi, fokus pada pengecekan kondisi lahan yang rusak. Mereka juga memasang spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang sebagai bentuk protes.
Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, Eka Wisnu, menegaskan bahwa penolakan ini merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang. Solidaritas ini ditujukan kepada masyarakat Desa Gandatapa yang merasakan langsung dampak negatif dari aktivitas penambangan pasir hitam tersebut. Penolakan Tambang Banyumas ini menggarisbawahi kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan.
Solidaritas Warga Menuntut Lingkungan Lestari
Eka Wisnu menjelaskan bahwa aksi penolakan ini adalah wujud solidaritas terhadap warga Gandatapa yang terdampak langsung. Pemasangan spanduk menjadi simbol tegas sikap warga terhadap keberadaan tambang. Warga bukan menolak aturan atau kebijakan pemerintah, melainkan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari aktivitas pertambangan.
Dampak tersebut mencakup kerusakan lingkungan dan keberlanjutan hidup generasi mendatang. Eka Wisnu khawatir anak cucu mereka akan mewarisi bencana jika aktivitas tambang terus berlanjut. Oleh karena itu, penolakan ini menjadi sangat penting bagi kelestarian alam dan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Slamet.
Solidaritas ini menunjukkan komitmen kuat masyarakat Sumbang untuk melindungi lingkungan mereka. Mereka percaya bahwa menjaga kelestarian alam adalah investasi penting untuk masa depan. Penolakan ini juga menjadi suara bagi mereka yang merasakan langsung dampak buruk pertambangan.
Dampak Nyata Kerusakan Infrastruktur dan Penurunan Debit Air
Dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat adalah kerusakan infrastruktur jalan yang terjadi dalam waktu singkat. Jalan-jalan yang baru saja diperbaiki kini kembali rusak di beberapa titik. Kerusakan ini diakibatkan oleh lalu lalang kendaraan berat pengangkut hasil tambang yang melintas setiap hari.
Ironisnya, pihak tambang tidak pernah menyentuh perbaikan jalan yang rusak tersebut. Semua perbaikan hanya menunggu anggaran dari pemerintah, padahal kerusakan terjadi begitu cepat. Kondisi ini menambah beban bagi pemerintah daerah dan mengganggu mobilitas warga setempat.
Selain infrastruktur, penurunan debit air juga menjadi keluhan serius warga. Penurunan ini sangat berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Eka Wisnu menilai kondisi ini akan semakin memburuk jika aktivitas penambangan terus berlangsung tanpa pengawasan dan evaluasi ketat. Penurunan debit air mengancam mata pencarian petani dan ketersediaan air bersih.
Pengawasan KLH/BPLH dan Harapan Penutupan Total
Di depan area tambang, terpasang tanda peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia. Tanda ini menunjukkan bahwa area tersebut sedang dalam pengawasan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup. Namun, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas pertambangan tetap berjalan seperti biasa.
Eka Wisnu menyatakan bahwa warga bukan alergi aturan, tetapi mereka mempertimbangkan efek dan dampak jangka panjang pertambangan. Keberadaan tanda pengawasan tanpa diikuti penghentian aktivitas tambang menimbulkan pertanyaan besar. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran akan efektivitas pengawasan yang dilakukan.
Harapan utama warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang adalah penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut. Mereka berpendapat bahwa penutupan sementara, seperti yang pernah terjadi di lokasi lain, tidak cukup. Penutupan total dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk menjawab keresahan masyarakat dan mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Penolakan Tambang Banyumas ini menuntut tindakan tegas dari pihak berwenang.
Sumber: AntaraNews