Trivia: Mengapa Pancasila Kian Penting? BPIP dan DPR RI Gencarkan Sosialisasi Pancasila ke Mahasiswa Sultra
BPIP dan DPR RI menggelar sosialisasi Pancasila kepada ratusan mahasiswa Sultra, menyoroti penurunan minat generasi muda dan pentingnya Pancasila sebagai perekat bangsa di tengah kemajemukan. Mengapa ideologi negara ini krusial bagi masa depan?
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) belum lama ini menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Acara yang berfokus utama pada Pancasila ini ditujukan kepada ratusan mahasiswa di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sosialisasi tersebut dilatarbelakangi oleh kekhawatiran mendalam terhadap potensi penurunan minat generasi muda terhadap Pancasila. Anggota Komisi XIII DPR RI, Ali Mazi, mengungkapkan bahwa pelajaran tentang Pancasila seolah tidak lagi diminati dalam dua dekade terakhir, padahal Pancasila merupakan dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum.
Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi utama persatuan bangsa di tengah kemajemukan. Para pemateri menekankan pentingnya Pancasila sebagai perekat di antara beragam budaya, adat, dan bahasa daerah yang dimiliki Indonesia.
Pancasila: Fondasi Utama Perekat Bangsa
Ali Mazi menyoroti peran vital Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Indonesia memiliki kekayaan budaya, adat, dan bahasa daerah yang sangat beragam, namun semua itu dapat dipersatukan melalui ideologi Pancasila.
"Kita memiliki beragam budaya, adat, dan bahasa daerah, namun semua itu dipersatukan dalam bahasa Indonesia. Itulah tujuan berpancasila, menjadi perekat bangsa di tengah kemajemukan," kata Ali Mazi.
Dia menegaskan bahwa keberagaman Indonesia yang begitu besar hanya bisa dipersatukan dan dipertahankan melalui ideologi Pancasila. Tanpa Pancasila, persatuan bangsa akan terancam oleh perbedaan-perbedaan yang ada.
Oleh karena itu, sosialisasi Pancasila kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, menjadi sangat krusial untuk memastikan nilai-nilai luhur ini terus dipegang teguh.
Tantangan Bahasa dan Etika di Era Digital
Perwakilan BPIP RI, Juli Budi Soeharto, menyoroti fenomena komunikasi di kalangan generasi muda, terutama Gen Z, yang kerap menggunakan bahasa prokem di media sosial. Menurutnya, hal ini berpotensi menggerus nilai bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa adat dan lokal.
"Adik-adik harus menyadari bahwa sumber bahasa Indonesia adalah bahasa adat atau lokal. Oleh karena itu, jangan melupakan bahasa ibu sebagai identitas budaya," ucap Juli Budi.
Ia juga menjelaskan bahwa adab dan etika adalah pondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam nilai-nilai keagamaan, adab memiliki posisi yang lebih tinggi daripada ilmu, menunjukkan pentingnya perilaku yang baik.
Juli Budi mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang harus diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat, bukan hanya melalui mekanisme voting. "Perbedaan adalah sunatullah. Maka jalan terbaik adalah musyawarah, sebagaimana sila keempat Pancasila yang menekankan hikmat kebijaksanaan," jelasnya.
Implementasi Nyata Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari
Di tempat yang sama, Ketua DPRD Sultra, Laode Tariala, menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan semata. Ia menekankan pentingnya mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata sehari-hari.
"Implementasi Pancasila harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat. Kalau itu dilakukan, bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang luhur, berbudaya, dan berkarakter," kata Tariala.
Tariala juga menilai generasi muda, terutama mahasiswa, memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam merawat ideologi Pancasila, khususnya di era digital saat ini.
Dengan demikian, sosialisasi Pancasila ini diharapkan dapat membangkitkan kembali kesadaran dan semangat mahasiswa untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan mereka.
Sumber: AntaraNews