Trivia: Bergerak Aktif dan Berpuasa, Kunci Utama Pencegahan Penyakit Jantung Menurut Wagub Sultra
Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, mengajak masyarakat untuk aktif bergerak dan berpuasa sebagai strategi utama dalam pencegahan penyakit jantung, yang dikenal sebagai pembunuh nomor satu.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, secara tegas mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat guna mencegah penyakit jantung. Ajakan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya serius pemerintah daerah dalam menekan angka kasus penyakit yang dikenal sebagai "pembunuh nomor satu" di dunia.
Dalam sebuah kesempatan di Kendari, Minggu (28/9), Wagub Hugua mengungkapkan dua strategi utama yang efektif dalam pencegahan penyakit jantung. Menurutnya, memperbanyak aktivitas fisik atau bergerak aktif serta menjalankan ibadah puasa dapat secara signifikan mengurangi potensi serangan jantung.
Ia juga menekankan bahwa masyarakat tidak boleh memandang remeh ancaman penyakit jantung yang mematikan. Kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan jantung dan kualitas hidup masyarakat Sultra secara keseluruhan.
Pentingnya Gaya Hidup Aktif dan Berpuasa dalam Pencegahan Penyakit Jantung
Ir. Hugua, Wakil Gubernur Sultra, menggarisbawahi bahwa perilaku hidup sehat adalah fondasi utama dalam pencegahan penyakit jantung. Ia secara khusus menyoroti manfaat dari aktivitas fisik yang intens dan praktik berpuasa sebagai metode yang disarankan oleh para ahli kesehatan.
Menurut Hugua, "Pemerintah provinsi menaruh harapan besar kepada masyarakat untuk berperilaku sehat. Kalau ahli kesehatan menyarankan ada dua, berpuasa dan banyak gerak tubuh," ujarnya saat menghadiri acara Jantung Sultra Run. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Jantung se-Dunia di Kendari.
Penyakit jantung seringkali disebut sebagai salah satu pembunuh terbesar di dunia, sehingga upaya pencegahan menjadi sangat krusial. Dengan mengadopsi kebiasaan bergerak aktif dan berpuasa, masyarakat diharapkan dapat membangun benteng pertahanan yang kuat terhadap risiko penyakit ini.
Komitmen Pemerintah Provinsi Sultra dalam Penanganan Penyakit Jantung
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tidak hanya mengimbau, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit jantung. Hal ini diwujudkan melalui peningkatan fasilitas kesehatan dan penyediaan tenaga medis yang profesional.
Wagub Hugua menjelaskan bahwa keberadaan Rumah Sakit Jantung Oputa Yi Koo, yang dilengkapi dengan fasilitas medis memadai, menjadi salah satu wujud keseriusan pemerintah. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa fasilitas tidak akan optimal tanpa kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat.
"Karena kesehatan adalah mandatori, kesehatan, pendidikan, agro maritim dan infrastruktur, itu semua penting tapi yang utama itu kesehatan," kata Hugua. Pernyataan ini menegaskan prioritas pemerintah terhadap sektor kesehatan.
Selain fasilitas, Pemprov Sultra juga terus berupaya menyediakan tenaga medis ahli, termasuk dokter spesialis jantung. "Kalau fasilitas kesehatan bagus, insya Allah ditambah edukasi semacam ini, angka masyarakat yang terkena penyakit jantung turun," jelasnya, menunjukkan optimisme terhadap upaya kolektif ini.
Edukasi dan Data Penurunan Kasus Penyakit Jantung di Sultra
Upaya pencegahan penyakit jantung juga didukung kuat oleh peran edukasi yang dilakukan secara rutin. Ketua Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI) cabang Kendari, dr. Sjarief Subidjakto, menyatakan bahwa edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat sangat membantu menekan angka kasus di Sultra.
"Kita harus selalu mengingatkan bahwa pembunuh nomor satu jangan jadi nomor satu," ucap dr. Sjarief, menekankan pentingnya kesadaran publik. Edukasi ini bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan jantung mereka.
Data menunjukkan hasil positif dari berbagai upaya yang telah dilakukan. Pada tahun 2018, jumlah masyarakat yang terkena penyakit jantung mencapai sekitar 10.000 kasus. Namun, berkat kerja keras dan kolaborasi, angka tersebut berhasil diturunkan menjadi 8.000 kasus pada tahun 2025.
Penurunan ini tidak lepas dari ketersediaan sumber daya manusia yang memadai. Sultra kini memiliki 11 dokter spesialis penyakit jantung, 72 perawat ahli, serta 30 dokter yang sedang menempuh pendidikan profesi di bidang kardiologi. "Jadi jumlah penyakit jantung bisa ditekan, karena dokternya banyak, sarana kesehatan bagus dibantu kesadaran masyarakat," tambah dr. Sjarief, menggarisbawahi sinergi antara fasilitas, tenaga medis, dan kesadaran masyarakat.
Sumber: AntaraNews