Tragis, Remaja Putri di Garut Bunuh Diri Diduga karena Dilarang Main Game Online di HP
Peristiwa itu terjadi di rumah korban saat ibunya pergi bekerja ke kebun.
Remaja putri (14) nekat mengakhiri hidupnya di rumahnya. Korban nekat melakukan itu saking marahnya usai dilarang ibu bermain ponsel.
Aksi nekat yang dilakukan sang remaja putri, diketahui terjadi pada Rabu (15/1). Hal tersebut pun dibenarkan Kapolsek Pasirwangi resor Garut, Iptu Wahyono Aji saat dikonfirmasi Jumat (17/1).
“Memang benar ada kejadian tersebut (remaja nekat akhiri hidupnya) Rabu kemarin. Kasusnya langsung kami tangani,” kata Aji.
Kronologi
Aji menjelaskan bahwa sang remaja putri adalah anak sulung dari empat bersaudara. Kejadian tragis itu pertama kali diketahui adik korban pada Rabu pagi pukul 07.30.
“Pada saat kejadian, di rumah hanya ada korban dan tiga adiknya. Satu usia sekolah, sedangkan yang dua masih balita. Untuk ibunya saat kejadian sedang bekerja sebagai buruh kebun yang cukup jauh dari rumah,” jelasnya.
Setelah adiknya menemukan korban, langsung melapor ke tetangga dan diteruskan ke pihak kepolisi yang kemudian mendatangi lokasi tempat kejadian perkara. Polisi masih mendalami kasus ini dan penyebab korban nekat bunuh diri.
“Jadi anaknya ini katanya kerap main HP, main game Mobile Legend (ML) dan Free Fire (FF). Kalau bangun siang, adiknya yang balita tidak ada yang jaga sedangkan ayah tirinya ini bekerja sebagai tukang kebun juga di Aceh,” sambungnya.
Menurut Aji, beberapa saat setelahnya, jenazah sang remaja putri langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum. Pihaknya bersama unsur musyawarah pimpinan kecamatan pun sudah melayat ke rumah duka dan memberikan santunan.
Terkait kejadian itu, anggota DPRD Garut dari Partai Nasdem, Mira Lestari Fitriani menyampaikan keprihatinannya. Dia menekankan akan pentingnya perhatian bersama tentang kesehatan mental anak-anak dan remaja, khususnya di tengah kondisi sosial yang kompleks.
“Tentunya saya sangat prihatin, ini harus menjadi peringatan bahwa ada banyak tekanan yang dirasakan oleh anak zaman sekarang, baik dari keluarga, lingkungan, dan teknologi. Tentunya kita tidak bisa memandang masalah ini sari satu sisi saja,” kata Mira.