Diskusi Anak Muda Ungkap Tantangan Keberagaman, dari Rekrutmen Kerja hingga Ruang Digital
Penyelesaian berbagai persoalan sosial perlu dimulai dengan mendengarkan berbagai perspektif melalui pendekatan design thinking.
Persoalan diskriminasi dalam proses rekrutmen kerja hingga menguatnya polarisasi di ruang digital menjadi sorotan dalam diskusi Piknik Sore di Taman: Generasi Muda, Identitas, dan Masa Depan Kohesi Sosial, yang digelar 5P Global Movement Indonesia sebagai pre-event Harmony in Diversity Award, Sabtu (27/6), di Taman Bendera Pusaka, Jakarta.
Diskusi yang menghadirkan puluhan anak muda tersebut diawali dengan pertanyaan peserta mengenai praktik rekrutmen kerja yang dinilai masih mempertanyakan latar belakang suku pelamar.
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk pembahasan mengenai sejauh mana nilai keberagaman benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai slogan, tetapi juga dalam praktik sosial dan dunia kerja.
Program Manager Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Nawang Wulan, Risdo Simangunsong, menilai konsep "keaslian" identitas di masyarakat Indonesia perlu dipahami secara lebih kritis.
"Yang asli di Jakarta itu rawa, jadi yang asli Jakarta cuma kodok," katanya dikutip Selasa (30/6).
Menurut Risdo, narasi mengenai kemurnian etnis maupun budaya sulit dipertahankan apabila ditelusuri dari sejarah perkembangan masyarakat Indonesia yang sejak lama dibentuk melalui perjumpaan berbagai kelompok.
Sementara itu, Apriyani Supriatna dari Ruber Innovation Lab mengatakan keberagaman tidak cukup dipahami sebagai perbedaan identitas, tetapi harus menjadi pendekatan dalam membangun kolaborasi.
Ia menilai penyelesaian berbagai persoalan sosial perlu dimulai dengan mendengarkan berbagai perspektif melalui pendekatan design thinking.
"Perbedaan pendapat justru bisa jadi sumber inovasi, kalau kita mulai dari empati."
Namun, menurut Apriyani, empati saja tidak cukup tanpa disertai integritas dalam mengambil keputusan.
"Integritas itu soal keputusan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk lingkaran kita sendiri."
Senada, Dirgantara Reksa Ginanjar dari Indonesia Nederland Youth Society mengatakan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat internasional justru memperkuat identitas kebangsaan.
"Semakin banyak bertemu orang dari berbagai penjuru dunia, identitas sebagai orang Indonesia justru semakin terasa. Di balik keberagaman ada keberagaman lagi yang lebih besar."
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan keberagaman masih menjadi persoalan global, termasuk meningkatnya sentimen rasial terhadap kelompok imigran di sejumlah negara Eropa.
Dalam sesi diskusi, Risdo juga menyoroti berbagai tantangan inklusivitas di Indonesia, mulai dari pengakuan terhadap keberagaman identitas hingga akses bagi penyandang disabilitas.
"Kita perlu benar-benar terbiasa dengan ragam identitas."
Ia menilai penguatan kohesi sosial harus diwujudkan melalui kebijakan dan ruang publik yang benar-benar inklusif, bukan sekadar menjadikan kebinekaan sebagai narasi.
Selain itu, perkembangan media sosial juga dinilai menghadirkan tantangan baru melalui terbentuknya social bubble yang membuat masyarakat semakin jarang berinteraksi dengan pandangan berbeda.
Menurut Risdo, solusi tidak hanya bergantung pada perubahan algoritma platform digital, tetapi juga pada kesadaran pengguna untuk memperluas perspektif.
"Kita bisa cari selera FYP dan algoritme yang berbeda. Biasakan diri dengan yang berbeda."
Diskusi yang dipandu Maria Bellen, Operations Manager Endgame, merupakan bagian dari rangkaian Harmony in Diversity Award, sebuah program penghargaan yang bertujuan mendorong berbagai inisiatif dalam memperkuat kohesi sosial di kawasan Asia Tenggara.
Melalui forum tersebut, penyelenggara berharap ruang dialog antargenerasi dapat memperkuat kesadaran bahwa keberagaman tidak hanya perlu dirayakan sebagai identitas bangsa, tetapi juga diwujudkan melalui praktik yang inklusif dalam kehidupan sehari-hari.