Tim Sekaba Kalsel Gencarkan Edukasi untuk Cegah DBD, Sasar Anak-anak
Tim Sehat Kayuh Baimbai (Sekaba) Kalimantan Selatan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak, guna cegah DBD yang kasusnya terus meningkat di wilayah tersebut.
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan tren peningkatan signifikan setiap tahun, memicu perhatian serius dari berbagai pihak. Menanggapi kondisi ini, Tim Sehat Kayuh Baimbai (Sekaba) Kalsel mengambil langkah proaktif dengan mengintensifkan program edukasi kepada masyarakat. Fokus utama program ini adalah meningkatkan pemahaman serta kesadaran akan pentingnya pencegahan DBD, terutama di kalangan anak-anak.
Nurhalisa Wibawa, Ketua Tim Sekaba Kalsel, menyatakan bahwa edukasi ini krusial mengingat tingginya angka kasus DBD. Upaya sosialisasi telah dimulai di beberapa wilayah, termasuk Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, dan akan terus diperluas. Tim Sekaba bertekad untuk menjangkau seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan agar pesan pencegahan dapat tersebar luas.
Pembentukan Sekaba pada September 2025 menandai komitmen lintas kampus antara Unlam Banjarbaru dan Poltekkes Banjarbaru dalam mengampanyekan budaya hidup sehat dan bersih. Kolaborasi erat juga terjalin dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, memanfaatkan media sosial Promkes Dinkes untuk penyampaian informasi. Pendekatan edukasi disesuaikan dengan karakteristik anak-anak, menjadikan metode penyampaian yang menyenangkan sebagai kunci keberhasilan.
Fokus Edukasi dan Jangkauan Sekaba di Kalsel
Tim Sekaba Kalsel memfokuskan edukasi pencegahan DBD pada kelompok usia anak-anak, menyadari bahwa mereka adalah kelompok yang paling rentan. Nurhalisa Wibawa menekankan bahwa metode penyampaian harus disesuaikan dengan dunia anak yang identik dengan bermain. Hal ini dilakukan agar informasi tentang bahaya dan cara pencegahan DBD dapat diterima dengan baik dan efektif oleh mereka.
“Angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Selatan terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahun, dan kondisi ini menjadi perhatian serius,” ucap Nurhalisa Wibawa. Oleh karena itu, tim ini berupaya keras untuk memperluas jangkauan sosialisasi ke seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Setelah sukses di Banjarmasin dan Banjarbaru, agenda selanjutnya mencakup Martapura dan Pelaihari (Tanah Laut).
Selain sosialisasi langsung, Sekaba juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan melalui media sosial Promkes Dinkes. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat penyebaran informasi dan edukasi terkait DBD kepada khalayak yang lebih luas. Dengan berbagai upaya ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pencegahan DBD dapat meningkat secara signifikan.
Inovasi dan Tantangan Tim Sekaba dalam Pencegahan DBD
Dalam upaya pencegahan gigitan nyamuk, Tim Sekaba Kalsel telah mengembangkan inovasi berupa lotion alami. Lotion ini dirancang khusus untuk anak-anak, mengingat data menunjukkan bahwa kasus DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia tersebut. “Kami membuat lotion alami yang bisa mereka gunakan sebagai pencegahan gigitan nyamuk. Ini terbukti cukup efektif,” tutur Nurhalisa Wibawa, menyoroti efektivitas produk tersebut.
Meskipun demikian, M Zidan Rizky, salah satu anggota Tim Sekaba, mengakui adanya tantangan dalam memberikan edukasi kepada anak-anak. “Ketika sosialisasi, kita harus memahami dunia mereka. Itu tantangannya,” kata Zidan. Selain itu, menyelaraskan jadwal kegiatan menjadi kendala tersendiri karena anggota tim berasal dari kampus yang berbeda, memerlukan koordinasi yang cermat dan kesabaran.
Herlianti Oktavia, anggota Tim Sekaba lainnya, berharap adanya dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah di masa mendatang. “Dukungan ini sangat penting agar suatu saat kami bisa duduk bersama dalam diskusi dan aksi nyata pencegahan serta penanganan DBD,” harapnya. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat langkah-langkah Sekaba dalam mengatasi permasalahan DBD di Kalsel.
Sumber: AntaraNews