Tahukah Anda, Ibu Adalah Madrasah Pertama? Mendikdasmen Ungkap Peran Ibu Bentuk Karakter Anak Generasi Hebat
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan peran ibu sangat vital dalam membentuk karakter anak yang kuat dan cerdas. Temukan bagaimana ibu menjadi fondasi utama generasi hebat!
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, baru-baru ini menekankan pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter anak. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara di Jakarta, menegaskan bahwa ibu adalah fondasi utama bagi lahirnya generasi penerus bangsa yang kuat dan berakhlak mulia.
Menurut Mendikdasmen Mu’ti, kontribusi ibu sangat vital untuk menciptakan anak-anak yang cerdas, memiliki karakter tangguh, serta terhindar dari potensi menjadi generasi rapuh (fragile generation). Peran ini dimulai jauh sebelum anak lahir, bahkan sejak masa kehamilan.
Pendidikan karakter yang kuat dan komprehensif, menurutnya, berawal dari lingkungan keluarga, khususnya dari sosok seorang ibu. Hal ini mencakup berbagai aspek, mulai dari nutrisi yang dikonsumsi hingga suasana hati ibu selama mengandung.
Ibu: Pendidik Pertama dan Utama Sejak Dini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti secara tegas menyatakan bahwa ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Peran krusial ini dimulai sejak seribu hari pertama kehidupan anak, sebuah periode emas yang sangat menentukan perkembangan mereka.
“Kalau kita ingin membangun generasi Indonesia yang hebat dan kuat, dimulai oleh para ibu karena pendidikan itu dimulai sejak dalam kandungan, bahkan dari nutrisi pada makanan yang dikonsumsi, bacaan, hingga suasana hati ibu hamil, semuanya berpengaruh pada pembentukan karakter anak,” ujar Mendikdasmen Mu'ti.
Lebih lanjut, Mu’ti menjelaskan bahwa peran ibu tidak hanya terbatas pada aspek fisik dan kognitif, tetapi juga merambah ke dimensi spiritual dan akhlak anak. Sikap, cara mendidik, merawat, dan berinteraksi seorang ibu memiliki dampak signifikan terhadap nilai-nilai yang akan diinternalisasi oleh sang anak.
Riset juga mendukung pandangan ini, menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan air susu ibu (ASI) secara penuh selama dua tahun memiliki ketahanan fisik dan kemampuan kognitif yang lebih baik. Ini adalah bukti nyata bagaimana perhatian dan kasih sayang ibu sejak dini berkontribusi pada pengembangan potensi anak.
Sinergi Tiga Pilar Pendidikan dan Program Kemendikdasmen
Selain peran sentral ibu, Mendikdasmen Mu’ti juga menekankan pentingnya sinergi antara rumah, sekolah, dan masyarakat dalam upaya membentuk karakter anak. Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada institusi sekolah semata.
“Untuk mendidik satu anak diperlukan satu kampung. Artinya, pendidikan harus menjadi kerja bersama. sekolah, keluarga, hingga lingkungan bermain harus sejalan dalam menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, Kemendikdasmen kini tengah mengembangkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini berfokus pada pemahaman makna, menumbuhkan daya juang, dan semangat belajar sepanjang hayat, bukan sekadar mengejar nilai ujian.
Mu’ti berharap sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar, di mana guru berperan sebagai teladan. Proses pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan generasi dengan karakter kuat, beriman, serta beradab. Kemendikdasmen juga memiliki program "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" sebagai upaya konkret dalam membentuk karakter anak sejak dini.
“Ibu adalah madrasah pertama. Kalau kita ingin generasi Indonesia yang hebat, kuat, dan berkeadaban, mari kita mulai dari peran ibu-ibu,” pungkas Mendikdasmen Mu'ti, menggarisbawahi kembali betapa vitalnya peran ibu dalam membangun masa depan bangsa.
Sumber: AntaraNews