SMA Soteria Mahardika Dukung Banyumas Jadi Kota Pendidikan dengan Konsep Interkultural
SMA Soteria Mahardika di Baturraden resmi diluncurkan, siap berkontribusi wujudkan Banyumas sebagai kota pendidikan melalui konsep interkultural yang unik dan inovatif.
Peluncuran SMA Soteria Mahardika di Baturraden, Banyumas, pada Sabtu lalu, mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Banyumas. Kehadiran sekolah ini dinilai mampu mendukung upaya mewujudkan Banyumas sebagai kota pendidikan. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan kontribusi nyata sekolah dalam memperkuat kualitas pendidikan.
Melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Banyumas, Junaidi, Bupati Sadewo Tri Lastiono menyampaikan bahwa sekolah ini diharapkan mencetak generasi muda unggul. Generasi tersebut harus berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Pendidikan tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter kuat.
SMA Soteria Mahardika mengusung konsep pembelajaran interkultural yang mengintegrasikan keragaman budaya Indonesia dengan perkembangan ilmu pengetahuan global dalam proses pembelajaran. Konsep ini diharapkan mampu membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan kecakapan sosial. Sekolah ini hadir sebagai alternatif pendidikan berkualitas di Banyumas.
Peran Strategis SMA Soteria Mahardika dalam Visi Kota Pendidikan Banyumas
Pemerintah Kabupaten Banyumas menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama dalam pembangunan daerah. Visi menjadikan Banyumas sebagai kota pendidikan dan pariwisata menjadi landasan kuat bagi berbagai inisiatif. Kehadiran SMA Soteria Mahardika dianggap melengkapi berbagai program pendidikan yang telah dikembangkan pemerintah daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyumas, Junaidi, menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki segmentasi dan karakteristik berbeda. SMA Soteria Mahardika, dengan kekhasan fasilitasnya, mendukung kolaborasi guru dan inovasi pembelajaran. Pendidikan harus mampu membangun etika, budaya, empati, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong.
Menurut Junaidi, hal ini penting selain capaian akademik yang juga harus diperhatikan. Bupati Sadewo Tri Lastiono juga menekankan bahwa pendidikan harus membentuk peserta didik yang memiliki karakter kuat. Mereka harus mampu berpikir kritis, kreatif, dan berkolaborasi di tengah masyarakat yang semakin beragam.
Konsep Interkultural dan Kurikulum Inovatif
Konsultan Pendidikan SMA Soteria Mahardika sekaligus Direktur Eksekutif Nusa Widyantara Indonesia (NWI), Dwi Agus Yuliantoro, mengungkapkan bahwa sekolah ini mengusung konsep interkultural. Konsep ini mengintegrasikan keragaman budaya Indonesia dengan ilmu pengetahuan global dalam proses pembelajaran. Kurikulum sekolah dikembangkan dari keragaman yang ada di masyarakat.
Kurikulum tersebut juga mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan pada tingkat lokal hingga internasional. Kepala SMA Soteria Mahardika, Tabita Christiana, menambahkan bahwa pendekatan interkultural mendorong peserta didik berpikir global. Pendekatan ini juga membantu peserta didik memahami identitas diri dan latar belakang budaya masing-masing.
Pada tahun ajaran pertama, SMA Soteria Mahardika telah memperoleh satu rombongan belajar. Sekolah menargetkan tiga rombongan belajar dengan jumlah ideal 25-30 siswa per kelas. Konsep sekolah interkultural dipilih karena mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi.
Fasilitas, Program, dan Harapan untuk Masa Depan
Ketua Yayasan Soteria Mahardika, B Rudy Christinanto, menyatakan bahwa yayasan didirikan pada tahun 2023. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Purwokerto dan Banyumas. Yayasan ini berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
Selain menyediakan program beasiswa, SMA Soteria Mahardika juga memiliki fasilitas asrama. Ada pula program live-in melalui kerja sama dengan masyarakat sekitar bagi siswa yang berasal dari luar daerah. Program ini bertujuan membangun kemampuan bersosialisasi dan kemandirian siswa melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Ketua Tim Kerja Kesetaraan Pendidikan dan Wajib Belajar Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Irfan Harry Prasetiya, berharap kehadiran SMA Soteria Mahardika dapat memperkuat kolaborasi antarsekolah di Banyumas. Ia juga menyoroti tantangan dunia pendidikan dalam peningkatan capaian belajar dan pembentukan karakter. Rudy Christinanto optimistis SMA Soteria Mahardika akan menjadi alternatif pendidikan berkualitas.
Sumber: AntaraNews