Sejarah Pasar Induk Kramat Jati: Dari Legenda hingga Revitalisasi Modern
Temukan sejarah Pasar Induk Kramat Jati yang kaya dan upaya revitalisasi terkini di tengah tantangan modern.
Ratusan kios di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, telah dilalap si jago merah, pada 15 Desember 2025. Akibatnya, PD Pasar Jaya mengalami kerugian mencapai kurang lebih Rp10 miliar.
Pasar Kramat Jati merupakan salah satu pasar tradisional di Jakarta Timur. Pasar tradisional ini memiliki sejarah yang panjang dan menjadi pusat perbelanjaan yang berpengaruh bagi masyarakat.
Kawasan Kramat Jati di Jakarta Timur memiliki sejarah yang unik dan menarik. Nama 'Kramat Jati' berasal dari banyaknya pohon jati yang tumbuh besar dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Pasar Induk Kramat Jati, yang didirikan pada tahun 1895, menjadi pusat perdagangan penting di wilayah ini.
Pasar ini mengalami berbagai perubahan signifikan, terutama setelah dibangun kembali pada era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sejak saat itu, pasar ini telah menjadi salah satu pasar induk terbesar di Jakarta, berfungsi sebagai jantung distribusi sayuran dan buah-buahan ke seluruh Jabodetabek.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Induk Kramat Jati juga menghadapi tantangan, termasuk kebakaran yang menghanguskan sejumlah kios. Namun, upaya revitalisasi yang dilakukan oleh Perumda Pasar Jaya menunjukkan komitmen untuk menjaga keberlanjutan pasar ini.
Sejarah Kawasan Kramat Jati
Kawasan Kramat Jati mulai tercatat secara administratif pada tahun 1891 sebagai Wijk V di bawah Meester Cornelis. Pada masa penjajahan, daerah ini bukan bagian dari Batavia, melainkan Afdeeling Meester Cornelis. Setelah kemerdekaan, Kramat Jati menjadi kawedanan berdasarkan UU No. 22 tahun 1948.
Nama Kramat Jati berasal dari pohon jati yang tumbuh di kawasan tersebut, di mana salah satu pohon dianggap keramat. Masyarakat sering datang untuk berdoa di pohon tersebut, meskipun hal ini dikecam oleh tokoh agama.
Sejarah Pasar Induk Kramat Jati
Pasar Kramat Jati didirikan pada tahun 1895 dan menjadi pusat perdagangan vital di kawasan tersebut. Awalnya, pasar ini hanya berupa bangunan sederhana yang digunakan oleh pedagang lokal. Namun, pada tahun 1971 atau 1973, Pasar Induk Kramat Jati yang dikenal saat ini dibangun, menjadikannya salah satu pasar induk terbesar di Jakarta.
Pasar ini memiliki luas sekitar 14,7 hektar dengan bangunan seluas 83.605 meter persegi dan ribuan kios. Pasar Induk Kramat Jati berperan penting dalam distribusi sayuran dan buah-buahan ke pasar-pasar di Jabodetabek.
Perkembangan dan Revitalisasi
Pasar Induk Kramat Jati dikelola oleh Perumda Pasar Jaya, yang telah melakukan berbagai upaya revitalisasi. Pada tahun 2017, kebakaran menghanguskan sekitar 90 kios, dan pemerintah berencana membangun kembali pasar tersebut setelah investigasi selesai.
Program penataan pasar dimulai pada tahun 2024, melibatkan sekitar 200 pedagang. Penataan ini mencakup pembangunan gapura, pengecatan, dan fasilitas lainnya. Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menyatakan bahwa progres penataan telah mencapai 36 persen hingga pertengahan Juni 2025.
Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Mandiri juga dilakukan untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar. Program revitalisasi ini melibatkan dukungan dari sektor swasta melalui CSR, serta adopsi teknologi oleh pedagang untuk memasarkan produk secara online.