Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu: Menguak Romantisme dan Realita Kota Tepian
Buku 'Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu' karya Syafruddin Pernyata mengajak menelusuri jejak sejarah Samarinda, dari kota sungai hingga metropolis penyangga IKN, mengungkap romantisme dan realita masa lalu.
Buku "Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu" karya Syafruddin Pernyata menjadi sekoci ingatan di tengah modernisasi Kota Tepian. Publikasi ini mengajak pembaca menengok kembali identitas Samarinda yang terus berubah. Kota ini kini menjadi penyangga penting bagi Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Lebih dari setengah abad lalu, Samarinda adalah permukiman berbasis sungai dengan suara klotok dan jeep willys yang bersahut-sahutan. Kini, pemandangan itu digantikan ponton batu bara, hotel bertingkat, dan gemerlap kota metropolitan. Buku ini mendokumentasikan transformasi tersebut.
Berangkat dari kepingan cerita di grup maya History of Samarinda (HoS), buku ini bukan sekadar nostalgia. Syafruddin Pernyata menyoroti evolusi kota yang dipacu eksploitasi sumber daya alam. Ia merekam kehidupan sebuah kota yang tumbuh dari tepian Sungai Mahakam.
Transformasi Ekonomi dan Lonjakan Populasi Samarinda
Samarinda mengalami transformasi ekonomi signifikan yang membentuk wajahnya saat ini. Kota ini tidak hanya tumbuh secara organik, melainkan didorong oleh eksploitasi sumber daya alam yang masif. Penulis menggunakan istilah "emas hijau" untuk masa kejayaan kayu dan "emas hitam" untuk era batu bara.
Bab-bab dalam buku ini berfungsi sebagai peta waktu bagi transisi ekonomi tersebut. Ada bab khusus yang membahas kisah di balik pabrik tripleks Samarinda. Bagi generasi milenial atau Gen Z hari ini, mungkin sulit membayangkan kota mereka pernah menjadi pusat industri kayu lapis jaya.
Transformasi ini berdampak pada demografi kota, dengan lonjakan penduduk dari 609.380 jiwa pada 2009 menjadi 834.824 jiwa pada 2023. Ledakan populasi ini adalah konsekuensi logis dari daya tarik ekonomi Samarinda, menarik pendatang untuk mengadu nasib.
Perubahan demografi ini mengubah struktur sosial kota dari masyarakat sungai menjadi entitas urban yang heterogen. Narasi ini penting karena memberikan konteks pada data demografi yang disajikan penulis.
Romantisme Artefak Budaya Pop Lokal Samarinda
Kekuatan utama buku "Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu" terletak pada catatan sejarah kecil yang sering terlewatkan. Syafruddin Pernyata memotret artefak budaya pop lokal yang pernah mewarnai keseharian warga. Ini menghadirkan sisi romantisme kota.
Salah satu yang paling ikonik adalah keberadaan jeep willys. Dalam bab "jeep willys jadi taksi", pembaca diajak mengenang masa ketika kendaraan sisa Perang Dunia II ini disulap menjadi angkutan kota dengan kabin kayu. Ini adalah potret ketangguhan dan kreativitas warga dalam menyiasati keterbatasan infrastruktur masa lalu.
Buku ini juga merekam evolusi hiburan rakyat, seperti dalam bab "misbar, gerimis bubar". Istilah misbar, bioskop terbuka tanpa atap, adalah fenomena universal di Indonesia era 70-80an. Syafruddin memberikan konteks lokal Samarinda yang khas, menyoroti nuansa komunal yang kini hilang.
Penulis juga mengangkat tempat-tempat legendaris yang kini mungkin hanya tinggal nama atau berubah wujud. Kisah tentang Toko Buku Ang Siang Tjin atau Toko Aziz adalah ode bagi literasi masa lalu. Mengenang toko buku fisik yang pernah menjadi pusat peradaban kota terasa melankolis sekaligus penting, cerita Syafruddin.
Realita Sejarah dan Isu Abadi Kota Tepian
Syafruddin Pernyata tidak hanya menampilkan sisi manis masa lalu Samarinda. Buku ini jujur dalam memotret realitas sosial yang beragam, termasuk sisi-sisi kelam atau tabu. Ini menunjukkan kedalaman dan objektivitas penulis dalam menyajikan sejarah.
Bab "kisah wanita penghibur tentara Jepang (Jugun Ianfu)" mengingatkan bahwa tanah Samarinda juga menyimpan luka sejarah pendudukan yang pedih. Begitu pula dengan bab "Lamin Indah dan Hostess" serta "Gunung Steleng", yang menyiratkan dinamika kehidupan malam dan sisi lain kota yang seringkali absen dari brosur pariwisata.
Penyebutan lokasi-lokasi spesifik seperti Selili, Sungai Kerbau, dan Sungai Kapih (yang disebut penulis sebagai 4S) memberikan kedalaman geografis. Samarinda bukan hanya pusat kota di tepian Mahakam, melainkan kumpulan kampung dengan karakteristik uniknya masing-masing.
Bahkan, isu "Banjir, Ikam Hanyarkah di Samarinda?" menegaskan bahwa masalah banjir adalah warisan lama. Isu ini hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung usai, seolah menjadi bagian dari DNA kota tersebut.
Menjaga Memori di Era Penyangga IKN
Penerbitan buku ini menemukan momentum penting di era sekarang, terutama dengan penetapan sebagian Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Nusantara. Samarinda kini berada pada posisi strategis sekaligus rentan sebagai kota metropolitan penyangga.
Syafruddin memprediksi populasi Samarinda mungkin mencapai 1 juta jiwa dalam sepuluh tahun ke depan. Prediksi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan peringatan akan potensi tergerusnya karakter asli kota di tengah modernisasi yang pesat.
Ketika Bandara APT Pranoto kini sibuk didarati pesawat dan pelabuhan peti kemas semakin padat, kisah perahu tambangan dalam bab "Balarut Tambangan Sayang Menyisih Ilung" menjadi penyentuh hati. Ini menunjukkan kontras antara masa lalu dan kini.
Buku "Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu" pada akhirnya bukan sekadar kumpulan cerita usang. Ini adalah upaya melawan lupa, bertindak sebagai jangkar agar warga Samarinda tidak kehilangan pijakan. Sebuah kota tanpa ingatan hanyalah sekumpulan infrastruktur tak bernyawa.
Sumber: AntaraNews