Profil Sjafrie Sjamsoeddin, Pernah Kawal Presiden Soeharto Kini Jabat Menteri Ad Interim Polkam
Sjafrie sementara waktu memiliki tugas ganda karena saat ini juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).
Nama Sjafrie Sjamsoeddin kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai ad interim Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan menggantikan Budi Gunawan.
Sjafrie sementara waktu memiliki tugas ganda karena saat ini juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).
Pengangkatan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 86P Tahun 225 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih periode 2024-2029.
Sjafrie merupakan orang dekat Prabowo sejak berada di militer. Posisi ini barangkali wajar diberikan Presiden bukan karena dekat saja, namun rekam jejaknya.
Sjafrie lahir di Ujungpandang (kini Makassar), Sulawesi Selatan, pada 30 Oktober 1952. Ia menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dan lulus pada 1974, satu angkatan dengan Prabowo Subianto.
Latar belakang militernya semakin kuat setelah mengikuti berbagai pendidikan lanjutan, mulai dari Lemhannas, Seskoad, Sesko TNI, hingga Dik Pandu Udara.
Karier militernya diawali di Kopassandha—cikal bakal Kopassus—sebagai Komandan Peleton Grup 1. Sejak akhir 1970-an hingga awal 1990-an, ia menempati berbagai posisi strategis di satuan elite itu, termasuk Komandan Kompi, Perwira Intel, Wakil Asisten Operasi, hingga Komandan Batalyon.
Pengawal Presiden Soeharto
Salah satu periode penting dalam perjalanan militernya adalah ketika Sjafrie dipercaya sebagai bagian dari satuan pengawal pribadi Presiden Soeharto.
Tugas ini membawanya mendampingi Presiden ke berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa dan Timur Tengah.
Kepercayaan itu meneguhkan reputasinya sebagai prajurit terlatih yang disiplin dan loyal.
Dari Danrem hingga Pangdam Jaya
Selepas bertugas di Kopassus, kariernya menanjak. Pada 1995 ia menjabat Komandan Korem 061/Suryakencana Bogor.
Hanya setahun berselang, ia dipercaya menjadi Kepala Staf Garnisun Ibu Kota dengan pangkat brigadir jenderal, kemudian Kepala Staf Kodam Jaya pada 1996.
Puncaknya pada 1997, Sjafrie diangkat menjadi Panglima Kodam Jaya, menggantikan Mayjen Sutiyoso yang kala itu terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Jabatan tersebut membuatnya menjadi salah satu tokoh penting TNI di ibu kota pada masa transisi yang penuh dinamika menjelang Reformasi.
Jabatan Strategis di TNI dan Kementerian Pertahanan
Setelah menjabat Pangdam Jaya, Sjafrie dipercaya menempati sejumlah posisi strategis lain, antara lain Koordinator Staf Ahli (Korsahli) TNI dan Kepala Pusat Penerangan (Puspen) TNI.
Pada 2005, ia masuk ke jajaran sipil birokrasi pertahanan sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan.
Meski pelantikannya kala itu sempat diwarnai protes dari kelompok aktivis HAM, Sjafrie terus melanjutkan kariernya hingga kembali dipercaya menduduki kursi Wakil Menteri Pertahanan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.