Prabowo Grogi Pidato Perdana di Parlemen Turki
Prabowo mengaku grogi lantaran kali pertama berpidato sebagai presiden di luar negeri.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato perdananya di hadapan parlemen Turki. Prabowo mengaku grogi lantaran kali pertama berpidato sebagai presiden di luar negeri.
"Saya ingin menyampaikan bahwa ini adalah pidato pertama saya sebagai presiden republik Indonesia di depan parlemen di luar Indonesia, jadi saya mengakui bahwa saya agak grogi," kata Prabowo di Ankara, Turki, Kamis (10/7).
Baginya merupakan sebuah kehormatan besar berdiri di hadapan parlemen Turki sebagai jantung demokrasi.Prabowo menganggap lawatannya ke Turki tak hanya kunjungan kenegaraan saja. Melainkan momen pribadinya sebagai seorang sahabat.
"Saya datang ke Turkiye tidak hanya sebagai presiden republik Indonesia, tapi sebagai seorang sahabat, seorang saudara, sebagai seseorang yang hatinya tersentuh oleh tanah ini, oleh sejarahnya, oleh perjuangannya, oleh rakyatnya," ucapnya.
Prabowo menyebut, Turki memiliki tempat khusus yang istimewa di hati rakyat Indonesia. Bagi rakyat Indonesia, Turki adalah peradaban Muslim yang terbesar bagi umat Islam di Indonesia.
"Bagi kami Turkiye adalah penerus peradaban Utsmani, peradaban Ottoman," ucap Prabowo.
Prabowo ke Turki untuk Perkuat Prinsip Multilateralisme
Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) mengatakan, lawatan Prabowo ke Turki merupakan tindak lanjut atas undangan Presiden Recep Tayyip Erdogan saat berkunjung ke Indonesia pada Februari lalu.
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Philips Vermonte menyatakan kunjungan Prabowo Subianto ke Turki akan mempererat hubungan bilateral kedua negara melalui kerja sama strategis yang mendukung prinsip multilateralisme.
"Dunia saat ini telah bergerak ke arah bilateralisme, yang sebagian didorong oleh rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan China," kata Philips.
Meski bilateralisme dapat membantu dua negara merespons ketidakpastian dan dampak rivalitas geopolitik, kata Philips, dunia ini terlalu kompleks untuk ditangani hanya oleh dua negara.
Dikatakan Philips, Indonesia dan Turki memiliki modal kuat untuk terus mengedepankan semangat multilateralisme di tengah dinamika global yang semakin kompleks.Alasannya, kedua negara dikenal konsisten dalam mendorong penyelesaian damai, dialog, dan inklusivitas, menjadikan keduanya mitra dalam memperkuat kerja sama internasional.
"Seperti, Developing Eight (D-8) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mendorong aksi kolektif dalam agenda pembangunan, serta menumbuhkan rasa solidaritas dan tanggung jawab bersama di antara negara-negara berkembang," ujarnya.
Sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh, kata Philips, kedua negara memiliki suara yang diperhitungkan dalam isu reformasi PBB, Bank Dunia, IMF, dan berbagai lembaga multilateral lainnya.
Selain itu, Indonesia dan Turki juga memiliki hubungan strategis dengan negara-negara sehaluan, termasuk partisipasi aktif dalam forum MIKTA untuk merealisasikan sistem internasional yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan negara berkembang.