Perjalanan Panjang Peraih Adhi Makayasa Akpol 2025, Anak Jenderal dari Kecil Sudah Tahu Intel
“Ketika ikhtiar sudah sampai garis batas, artinya sudah maksimal. Maka setelah itu biarkan doa dan takdir bertarung di atas langit.”
Sore hari itu, mentari mulai condong ke barat saat suasana di Jalan Teratai Putih 1 Gang 11, Duren Sawit, Jakarta Timur, dipenuhi riuh anak-anak bermain dan beberapa pria yang bercengkerama di sebuah warung.
Langkah berhenti di depan rumah dua lantai bercat putih. Tak tampak penjagaan, tak pula terlihat papan nama. Siapa sangka, rumah sederhana itu dihuni oleh seorang jenderal bintang dua.
Di halaman, seorang perempuan sedang menjemur pakaian. Senyumnya hangat saat menyambut sapaan. Ia adalah Hening Fitricia, ibu dari Fathan Putra Rifito, taruna Akademi Kepolisian 2025 yang meraih penghargaan Adhi Makayasa—penghargaan tertinggi bagi lulusan terbaik.
Saat memperkenalkan diri, Hening menyimak dengan penuh perhatian. Tak lama, seorang pria mengenakan kaus dan sarung keluar dari dalam rumah, membuka pagar, dan mengajak masuk ke ruang tamu kecil yang tertata rapi. Ia adalah Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono, ayah Fathan.
Di ruang sederhana itu, cerita tentang sang anak pun mengalir, perlahan namun dalam.
Fathan adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya, Aurelia Putri Rifito, kini tengah menempuh studi S2 di Glasgow University, Inggris, mengambil jurusan Creative Industry. Dalam keluarga kecil ini, kehangatan adalah napas utama. Mereka menyebut diri sebagai “tim” alih-alih sekadar keluarga.
"Jadi kalau satu bersedih, kita semua bersedih. Malah saya sering panggil mereka bro, sist. Prinsip kami satu: jangan sampai memalukan keluarga, dan yang kedua, harus berprestasi setinggi-tingginya," ujar Barito.
Sebagai anggota aktif Polri, Barito pernah menjabat sebagai Kasat Intel di Singkawang, Kapolres di Konawe, dan pengasuh taruna di Akpol. Ia mengenang momen saat Fathan kecil menunjukkan naluri detektifnya.
Suatu siang, saat duduk di kelas 4 SD, Fathan masuk ke ruang kerja sang ayah di Polres Konawe. Di meja, terdapat map bertuliskan “Rahasia”. Ia menatapnya lama lalu bertanya, “Ayah, ini surat Intel?”
"Saya langsung kaget. Ini anak memang punya naluri," ucap Barito sambil tersenyum.
Awalnya, Fathan dirancang untuk menjadi ilmuwan karena memiliki IQ tinggi. Nilai UN matematikanya pun sempurna. Namun, jalan hidupnya mulai mengarah ke dunia kepolisian setelah ia masuk SMA Taruna Nusantara.
Pada tahun pertamanya di sana, Barito bertanya:
“Kamu mau ke mana?”
“Aku mau ke Akpol saja, Yah,” jawab Fathan mantap.
Sejak itu, Barito dan istrinya mempersiapkan segala hal untuk membantu sang anak menempuh jalan panjang menuju Akademi Kepolisian. Meski anak seorang jenderal, tak ada kemudahan yang diberikan.
“Kita berjuang selama tiga tahun, mulai dari kelas 1. Semua kita persiapkan,” ujar Barito.
Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, kegiatan belajar dipindahkan ke daring. Namun Barito tetap memutuskan Fathan tinggal di Semarang agar "merasakan aura" persiapan Akpol.
Selama masa itu, Hening mendampingi Fathan di Semarang. Sementara Barito menyetir dari Jakarta tiap akhir pekan untuk memantau perkembangan anaknya, bahkan aktif berkonsultasi dengan guru-gurunya.
Fathan lulus dari SMA Taruna Nusantara dengan nilai tinggi, bahkan diterima di UGM dan Undip. Namun hatinya tetap pada Akpol. Saat mengikuti seleksi di Jawa Tengah, ia menempati peringkat kedua.
Setelah diterima di Akpol, Barito bertanya lagi:
“Apa cita-cita kamu setelah jadi Taruna Akpol?”
“Aku ingin Adhi Makayasa,” jawab Fathan.
Sebagai mantan pengasuh Akpol, Barito tahu bahwa cita-cita seperti itu tidak biasa. Kebanyakan taruna hanya ingin masuk drumband atau jadi senar utama.
“Ada lima aspek penilaian Adhi Makayasa: pengetahuan, keterampilan, kesehatan, perilaku, dan karakter. Saya analisis anak saya. Saya bilang ada tiga kunci jadi Adhi Makayasa,” ujar Barito.
“Apa, Yah?” tanya Fathan.
“Pertama, kamu harus punya kemampuan. Kedua, kamu harus punya kemauan. Tapi dua hal ini tidak cukup tanpa yang ketiga: kamu harus jadi petarung,” tegas Barito.
Sejak saat itu, Barito dan Hening semakin intensif mendampingi Fathan. Keduanya berbagi peran: sang ibu merawat fisik dan emosi, sang ayah menjadi pelatih dan penasihat.
Fathan pun bersinar di Akpol. Ia bukan hanya cemerlang secara akademik, tetapi dipercaya menjadi pemimpin forum aspirasi taruna—semacam DPR internal—sejak tingkat pertama.
“Teman-temannya sudah istirahat, dia masih kerja mempersiapkan kegiatan esok hari,” ujar sang ayah.
Pengumuman kelulusan terbaik datang dari Humas Akpol. Namun, Fathan lebih dulu mengabari keluarganya lewat pesan WhatsApp:
“Ayah, Ibu, Alhamdulillah aku sudah dapatkan Adhi Makayasa. Semua tidak bisa aku dapatkan kalau enggak berkat dukungan dan doa dari Ayah dan Ibu, termasuk Aurel.”
Pesan itu membuat Barito dan Hening menangis haru. Semua kenangan perjuangan selama bertahun-tahun seolah diputar kembali dalam benak mereka.
“Saya tahu betul bagaimana perjuangan itu. Saya percaya Akpol adalah lembaga yang fair. Dan sekarang, dengan media sosial, semua bisa terbuka,” ujar Barito.
Tak butuh waktu lama, kabar gembira itu langsung dikirimkan kepada sang kakak di Inggris.
Kini, Barito hanya berharap Fathan tumbuh sebagai polisi yang baik dan rendah hati.
“Di jabatan apapun, dalam kondisi apapun, jadilah polisi yang baik dan penolong. Karena sejatinya polisi itu ya penolong, sekecil apapun. Saya selalu tekankan: punya karakter yang baik, agar bisa mewarnai institusi,” ucapnya.
Sementara Hening berharap Fathan bisa menjadi agen perubahan di tubuh Polri.
“Saya ingin dia jadi make changing,” ujarnya singkat, penuh harap.
Menutup perbincangan, Barito mengutip kalimat yang pernah disampaikan presenter Najwa Shihab:
“Ketika ikhtiar sudah sampai garis batas, artinya sudah maksimal. Maka setelah itu biarkan doa dan takdir bertarung di atas langit.”