Perarakan Arca Kristus Raja Perkuat Damai di Ambon, Komitmen Pemkot Jaga Toleransi
Pemerintah Kota Ambon tegaskan komitmen jaga nilai damai dan toleransi lewat Perarakan Arca Kristus Raja. Kegiatan ini jadi simbol kerukunan antarumat beragama.
Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Maluku, menegaskan komitmennya untuk memperkuat nilai damai, toleransi, dan kerukunan. Hal ini diwujudkan melalui Perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam yang diselenggarakan oleh Gereja Katolik Paroki Santo Joseph-Passo.
Perayaan ini merupakan sebuah acara besar bagi Gereja Katolik yang bertujuan memberikan penghormatan kepada Kristus Yesus sebagai Raja Alam Semesta, Raja Kemuliaan, dan Raja Damai. Kegiatan ini tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga sosial bagi seluruh warga kota Ambon.
Penjabat Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette, menyampaikan apresiasi Pemkot terhadap kegiatan ini. Ia juga menegaskan tiga pesan penting yang dapat dimaknai dari Perarakan Arca Kristus Raja tersebut, yang relevan bagi kehidupan bermasyarakat.
Pesan Penting dari Pemkot Ambon
Robby Sapulette menjelaskan bahwa ada tiga pesan utama yang ingin disampaikan Pemkot Ambon melalui kegiatan ini. Pertama, perarakan ini mengajak umat Katolik untuk menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Kedua, pengakuan terhadap Kristus sebagai Raja Damai harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini berarti umat diharapkan dapat menghadirkan shalom atau damai sejahtera di manapun mereka berada, menciptakan lingkungan yang harmonis.
“Ketiga, kegiatan ini mencerminkan sikap kebersamaan, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama. Dengan toleransi, Pemkot dapat melaksanakan program-program prioritas secara baik,” ujar Robby Sapulette, menekankan pentingnya kerukunan untuk pembangunan kota.
Makna Spiritual dan Seruan Perdamaian
Vicaris Jenderal Keuskupan Amboina, RD. Anton Kawole Lerek, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai makna Perarakan Arca Kristus Raja. Ia menegaskan bahwa perarakan ini adalah bentuk penghormatan umat Katolik kepada Yesus sebagai Raja di atas segala raja.
RD. Anton Kawole Lerek juga mengklarifikasi bahwa pengarakan arca ini bukan merupakan bentuk penyembahan berhala. Ia membandingkannya dengan tradisi umat Israel yang mengarak Tabut Perjanjian, sebagai simbol penghormatan dan kehadiran ilahi.
Lebih dari sekadar ritual, RD. Anton Kawole Lerek mengingatkan makna yang lebih dalam dari perarakan tersebut. Ia menyerukan panggilan untuk terus hidup berdampingan secara damai, sesuai dengan ajaran Yesus.
“Tuhan harapkan dari kita, tidak hanya kita jalan lalu capek dan selesai. Tetapi yang paling penting, marilah kita hidup berdampingan secara damai seperti yang diteladankan dan diperintahkan oleh Yesus,” katanya. Kegiatan perarakan tahun ini mengusung tema: “Melalui Kegiatan Perarakan Arca Kristus Raja Alam Semesta Mari Katong Wujudkan Kota Ambon, Maluku dan Indonesia Pung Bae.”
Sumber: AntaraNews