Kupang, NTT – Jumat Agung menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat Kristiani, khususnya di Kota Kupang. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menekankan bahwa hari suci ini bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang keteguhan iman dan harapan yang tak pernah padam di tengah berbagai tantangan. Pernyataan ini disampaikan usai dirinya mengikuti Ibadat Jumat Agung di Paroki St. Petrus Rasul TDM, Kupang, pada Jumat (03/4).
Menurutnya, perayaan Jumat Agung melambangkan sebuah perjalanan yang penuh hambatan dan rintangan, namun selalu berakhir dengan harapan dan kebangkitan. Ia mengajak seluruh umat beriman untuk berani memikul salib kehidupannya masing-masing, sebagai bagian dari upaya mewujudkan harapan dan kebangkitan, termasuk bagi kemajuan Kota Kupang. Pesan ini relevan mengingat kondisi global dan efisiensi pemerintah pusat yang penuh dinamika.
Makna pengorbanan yang mendalam dalam Jumat Agung juga ditegaskan oleh Pastor Rekan Paroki St. Petrus Rasul TDM, Romo Deodatus Parera, Pr. Dalam khotbahnya, Romo Deodatus menyampaikan bahwa penderitaan Yesus membuka jalan dari kegelapan menuju terang. Ibadat Jumat Agung sendiri berlangsung khidmat dan lancar, diikuti oleh ratusan umat Katolik dari berbagai wilayah di Kota Kupang dan sekitarnya.
Advertisement
Advertisement
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menggarisbawahi bahwa Jumat Agung adalah simbol pengorbanan, kesunyian, serta jalan yang penuh hambatan. Namun, ia meyakini bahwa di setiap ujung kesulitan selalu ada harapan dan kebangkitan. Peristiwa Jalan Salib Yesus, menurutnya, menjadi kesempatan berharga bagi umat untuk meneguhkan diri dan berani menghadapi tantangan hidup.
Dalam konteks Kota Kupang, Wali Kota mengajak masyarakat untuk tidak berhenti berharap, bahkan di tengah berbagai kesulitan. Baik itu efisiensi anggaran, kondisi pemerintah pusat, maupun situasi global seperti konflik di Timur Tengah, harapan harus terus dijaga. Setiap individu memiliki 'salib'nya sendiri, namun makna sejati Jalan Salib adalah pengorbanan yang pada akhirnya membawa harapan dan kebangkitan.
Momentum Jumat Agung ini menjadi ajakan reflektif bagi setiap orang untuk mempertanyakan keberanian mereka dalam memikul beban hidup. Wali Kota Widodo juga menyampaikan ucapan Selamat Jumat Agung dan menyambut Paskah, berharap perayaan ini membawa harapan dan kebangkitan bagi semua.
Advertisement
Advertisement
Sementara itu, Pastor Rekan Paroki St. Petrus Rasul TDM, Romo Deodatus Parera, Pr., dalam khotbahnya, menyampaikan pesan mendalam tentang cinta sejati. Ia menjelaskan bahwa penderitaan dan sengsara Yesus adalah jalan dari kegelapan menuju terang. Yesus, kata Romo Deodatus, menunjukkan cinta yang tulus, rela memberi tanpa pamrih, berkorban, melayani, dan melepaskan, tanpa mencari keuntungan diri sendiri melainkan mengutamakan kebaikan orang lain.
Romo Deodatus juga mengingatkan bahwa luka-luka Yesus menjadi sumber penyembuhan bagi dosa-dosa manusia. Dari pengorbanan itulah lahir keselamatan dan pembaruan bagi umat. Dalam keheningan salib, umat diajak untuk percaya, karena iman dan harapan diuji serta dimurnikan dalam penderitaan.
Pada akhirnya, kebangkitan akan datang bagi mereka yang tetap percaya dan teguh dalam iman. Pesan ini menguatkan bahwa di balik setiap penderitaan, selalu ada janji kebangkitan dan pembaruan bagi umat yang setia.
Advertisement
Advertisement
Ibadat Jumat Agung di Paroki St. Petrus Rasul TDM, Kupang, berlangsung dengan khidmat dan lancar, dihadiri oleh ratusan umat Katolik. Suasana ibadat yang penuh refleksi ini menjadi bukti nyata kekhusyukan umat dalam memperingati hari wafat Yesus Kristus.
Pelaksanaan ibadat ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu pada pukul 12.00 WITA dan pukul 15.00 WITA, memungkinkan lebih banyak umat untuk berpartisipasi dan merenungkan makna Jumat Agung. Kehadiran Wali Kota Kupang dalam ibadat ini juga menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan keagamaan dan pentingnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.
Sumber: AntaraNews
Advertisement