Penyintas Bencana Agam Mulai Tempati Hunian Sementara di Kayu Pasak
Ribuan penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini menempati hunian sementara Agam yang dibangun BNPB, menandai langkah awal pemulihan pascabencana.
Sebagian besar penyintas bencana banjir bandang dan longsor di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai menempati hunian sementara. Relokasi ini berlangsung di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak pada Sabtu (24/1) malam, menandai babak baru bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam.
Hunian sementara ini dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memberikan tempat tinggal layak bagi warga terdampak. Peresmian fasilitas ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara dan daerah. Kehadiran mereka menegaskan komitmen pemerintah dalam penanganan pascabencana.
Proses kepindahan para penyintas ke hunian sementara Agam telah dimulai sejak Sabtu sore. Mereka terlihat memindahkan berbagai perlengkapan rumah tangga, mulai dari kasur hingga alat masak. Antusiasme terlihat jelas di wajah para penyintas yang kini memiliki tempat bernaung.
Peresmian dan Proses Penempatan Hunian Sementara
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno secara resmi membuka hunian sementara tersebut. Acara peresmian juga dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Agam Benni Warlis turut hadir dalam momen penting ini.
Sejak Sabtu sore hingga malam, suasana di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak dipenuhi aktivitas. Para penyintas sibuk memindahkan barang-barang pribadi mereka ke unit hunian baru. Gerobak dorong dan pikulan menjadi alat bantu utama dalam proses relokasi ini.
Erna Fitrina, salah seorang penyintas, mengungkapkan kegembiraannya saat mulai menata barang di hunian barunya. “Saya mulai memindahkan kasur, alat masak, kompor gas, pakaian dan peralatan lainnya pada Sabtu (24/1) sore. Langsung saya susun di ruangan itu,” ujarnya. Malam itu menjadi malam pertama bagi Erna dan penyintas lainnya untuk tinggal di hunian yang lebih aman.
Anak-anak penyintas juga menunjukkan keceriaan mereka dengan bermain di halaman hunian sementara. Mereka berlarian dan bersenda gurau, seolah melupakan trauma bencana yang pernah dialami. Bantuan peralatan tempat tinggal dari BNPB turut melengkapi fasilitas di 117 unit hunian sementara ini.
Kisah Penyintas dan Harapan Baru
Erna Fitrina menceritakan pengalaman pahitnya saat rumahnya di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, hancur total diterjang banjir bandang. “Rumah kami habis dan tersisa hanya lantai,” kenangnya. Saat kejadian, Erna dan suaminya sedang berada di Bukittinggi untuk membawa orang tuanya berobat, sebuah keberuntungan di tengah musibah.
Penyintas lain, Melisa, juga mengalami nasib serupa. Rumahnya di Gunggun, Nagari Salareh Aia, kini masuk dalam zona merah. Lokasi rumahnya yang berada di Sungai Batang Nanggang, pusat banjir bandang, menyebabkan bagian depan dan belakang rumahnya terseret arus. Penetapan zona merah ini berarti rumahnya tidak bisa lagi ditempati.
Dengan mendapatkan hunian sementara ini, Melisa merasa sangat bersyukur. Ia berharap mendapatkan tempat tinggal yang cukup layak. Harapan besar kini tertumpu pada program pemerintah untuk hunian tetap di masa mendatang, demi kehidupan yang lebih stabil.
Dampak Bencana dan Upaya Pemulihan
Bupati Agam Benni Warlis mengonfirmasi bahwa 117 unit hunian sementara di SDN 05 Kayu Pasak telah siap ditempati. “Masyarakat sudah bisa menempati hunian sementara setelah diresmikan,” tegasnya. Kesiapan ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam penanganan pascabencana.
Bencana banjir bandang, tanah longsor, dan banjir yang melanda Agam pada akhir November 2025 lalu meninggalkan duka mendalam. Data menunjukkan 166 orang meninggal dunia dan 36 orang dinyatakan hilang. Ribuan rumah juga mengalami kerusakan parah, dengan 2.284 unit hancur.
Selain itu, 121 unit sekolah terdampak dan berbagai fasilitas umum lainnya juga mengalami kerusakan. Total kerugian akibat bencana yang melanda 16 kecamatan di Agam diperkirakan mencapai sekitar Rp6,51 triliun. Angka ini menunjukkan skala kerusakan yang masif dan tantangan besar dalam upaya pemulihan.
Pembangunan hunian sementara Agam ini menjadi bagian dari upaya pemulihan jangka pendek. Pemerintah terus berupaya menyediakan solusi jangka panjang berupa hunian tetap. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Sumber: AntaraNews