Awal Kebangkitan: Hunian Sementara Jadi Harapan Baru Korban Bencana Agam

Setelah dua bulan mengungsi, korban bencana banjir bandang dan longsor di Salareh Aia, Agam, akhirnya menempati hunian sementara (huntara) yang baru diresmikan, menandai awal kebangkitan mereka.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Awal Kebangkitan: Hunian Sementara Jadi Harapan Baru Korban Bencana Agam
Ratusan korban banjir bandang di Salareh Aia, Kabupaten Agam, kini menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun BNPB, menjadi secercah harapan untuk memulai kehidupan baru setelah kehilangan tempat tinggal. Ini adalah awal kebangkitan bagi mereka. (AntaraNews)

Di tengah duka akibat bencana banjir bandang dan longsor, secercah harapan mulai menyinari warga Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada Sabtu (24/1) malam, para penyintas bencana mulai menempati hunian sementara (huntara) yang telah rampung dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Peresmian huntara ini menjadi momen penting bagi ratusan keluarga yang sebelumnya harus tinggal di pengungsian, termasuk di ruang kelas SDN 05 Kayu Pasak. Kehadiran huntara sederhana berukuran 6x3,6 meter ini memberikan mereka kembali privasi dan ruang untuk memulai hidup baru.

Suharmes (45), salah satu korban yang rumahnya hanyut, mengungkapkan rasa syukurnya dapat menempati huntara bersama keluarganya setelah hampir dua bulan mengungsi. Huntara ini menjadi simbol kehadiran negara dan awal kebangkitan bagi para penyintas.

Suharmes, seorang ayah tiga anak yang sebelumnya memiliki warung, harus merelakan usahanya luluh lantak diterjang banjir bandang. Meski demikian, ia memilih untuk bersyukur dan melihat kejadian ini sebagai cobaan yang memiliki hikmah. Baginya, keselamatan keluarga adalah yang utama.

Dengan senyum yang tak lepas, Suharmes menyatakan bahwa bantuan yang mengalir dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, TNI, Polri, serta relawan sangat berarti. Ia optimis akan kembali membuka usaha untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, memulai langkah dari nol.

Pasangan Sawaludin (51) dan Yusmarni (45) juga merasakan kebahagiaan serupa. Setelah berpindah-pindah dan menumpang di rumah sanak saudara sejak bencana 27 November 2025, kini mereka memiliki tempat tinggal sementara.

Yusmarni berharap pemerintah dapat membantu memperbaiki lahan persawahan mereka yang rusak parah, agar dapat kembali produktif dan menopang kebutuhan keluarga serta biaya sekolah kedua putrinya. Malam pertama di huntara dihabiskan para penyintas dengan menata barang-barang mereka, sementara anak-anak bermain ceria di halaman.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, penanganan rehabilitasi bencana alam harus dipercepat. Semua sektor, mulai dari infrastruktur hingga pemulihan ekonomi, menjadi prioritas.

Pratikno, yang juga menjabat Ketua Tim Pengarah Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, menyoroti pentingnya pemulihan produktivitas penyintas. Perbaikan jalan, jembatan, jaringan listrik, BBM, lahan pertanian, UMKM, dan pasar menjadi fokus utama.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, saat meresmikan huntara, menyatakan harapannya agar warga terdampak dapat segera pulih dan bangkit. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk mempercepat penanganan bencana.

Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga fokus pada penguatan kelembagaan untuk pencegahan dan mitigasi bencana di masa depan, serta perbaikan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Di Kabupaten Agam, sebanyak 117 unit hunian sementara telah siap ditempati oleh para penyintas. Ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam proses pemulihan pascabencana.

Bupati Agam Benni Warlis menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, provinsi, Polri, TNI, relawan, dan organisasi masyarakat atas bantuan dan dukungan dalam pemulihan bencana, khususnya pembangunan huntara.

Huntara ini memungkinkan para penyintas untuk kembali menjalani aktivitas keluarga secara lebih normal, tidak lagi berdesakan seperti di tempat pengungsian. Meskipun bersifat sementara, fasilitas ini menjadi jembatan penting menuju pembangunan hunian tetap.

Dengan adanya huntara, diharapkan para korban bencana dapat fokus pada pemulihan mental dan ekonomi, sembari menunggu pembangunan hunian permanen yang lebih layak dan aman.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi