Pentingnya Pengasuhan Digital: Orang Tua Wajib Kuasai Demi Motorik Anak
Psikolog di Kalimantan Timur menekankan bahwa orang tua wajib menguasai keterampilan pengasuhan digital untuk melindungi perkembangan motorik anak dari ancaman kecanduan gawai harian dan eksploitasi privasi.
Psikolog Nuraida Wahyu Sulistyani dari Kalimantan Timur menyoroti urgensi bagi orang tua untuk menguasai keterampilan pengasuhan digital. Hal ini demi menyelamatkan perkembangan motorik anak dari ancaman kecanduan gawai harian yang semakin masif.
Nuraida, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Psikologi Wilayah Kalimantan Timur, mengungkapkan banyak orang tua kini mencari jalan pintas dengan memberikan gawai agar anak diam. Tindakan ini dilakukan sementara mereka sibuk sendiri, termasuk dalam membuat konten.
Interaksi satu arah dari layar gawai secara signifikan menghambat kemampuan sensorik dan motorik fisik anak pada masa usia emas, yakni antara satu hingga lima tahun. Pernyataan ini disampaikan di Samarinda pada hari Sabtu.
Dampak Negatif Gawai dan Eksploitasi Anak dalam Pengasuhan Digital
Penggunaan gawai yang tidak tepat pada anak usia dini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada tumbuh kembang mereka. Psikolog Nuraida Wahyu Sulistyani menegaskan bahwa pengenalan teknologi pada anak-anak sebenarnya masih diperbolehkan. Namun, hal tersebut harus tepat sasaran dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan usia mereka.
Nuraida juga mengkritik keras tindakan orang tua yang sengaja mengeksploitasi privasi anak untuk konten media sosial. Eksploitasi ini dilakukan hanya demi mendulang pengikut atau meraup keuntungan finansial. Setiap anak memiliki harga diri utuh sehingga mereka mungkin tidak ingin diekspos secara publik, terutama saat sakit atau dalam kondisi berkebutuhan khusus.
Oleh karena itu, orang tua beserta seluruh anggota keluarga terdekat dituntut bersinergi mempelajari pengasuhan era digital. Pembelajaran ini penting sebelum mereka memaksakan anak belajar hal lain.
Prioritaskan Aktivitas Fisik untuk Perkembangan Motorik Optimal
Praktisi psikologi Nuraida tidak menyarankan balita diikutkan dalam pembelajaran bahasa asing, bahkan melalui ranah digital. Stimulasi semacam itu dinilai salah sasaran karena anak pada rentang usia tersebut belum mampu mencapai tahap memahami atau menganalisis informasi. Mereka baru sebatas meniru rutinitas lingkungan sekitarnya.
Orang tua seharusnya memfokuskan keseharian balita pada aktivitas fisik di lapangan terbuka untuk mengasah langsung kelincahan motorik kasar maupun halus. Aktivitas sederhana seperti belajar menggunting kertas, menggambar bentuk bebas, atau bermain sepeda dinilai jauh lebih krusial. Ini jauh lebih penting dibandingkan memaksakan kursus akademis dini.
Kapasitas kecerdasan intelektual seorang balita akan otomatis terbentuk dan berkembang maksimal secara alami. Perkembangan ini akan mengikuti tingkat kematangan fungsi motoriknya.
Peran Selektif Orang Tua dalam Memilih Pendidikan Anak
Sebagai upaya lanjutan dalam pengasuhan digital yang bertanggung jawab, Nuraida menekankan pentingnya selektivitas orang tua dalam memilih sekolah. Kurikulum pendidikan harus benar-benar menjamin kesesuaian dengan setiap tahap tumbuh kembang anak. Pilihan sekolah yang tepat akan mendukung fondasi perkembangan anak secara holistik.
Keseimbangan antara stimulasi digital yang terkontrol dan aktivitas fisik yang memadai menjadi kunci utama. Orang tua perlu memahami bahwa teknologi adalah alat, bukan pengganti interaksi langsung dan pengalaman dunia nyata bagi anak.
Dengan demikian, orang tua memiliki peran krusial dalam membentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan optimal anak. Lingkungan ini mencakup aspek kognitif, sensorik, dan motorik, serta melindungi privasi mereka di era digital.
Sumber: AntaraNews