Konser Slank Bandung: Nostalgia Formasi 14 Pacu Ekonomi Kreatif Lokal
Konser Slank Bandung di Prabuwangi Park sukses jadi ajang nostalgia formasi 14 dan pemantik kebangkitan ekonomi kreatif lokal. Simak bagaimana Slank dan musisi daerah berkolaborasi!
Konser HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour sesi ke-8 sukses digelar di Prabuwangi Park Arcamanik Bandung pada Minggu, 5 Juli 2026. Acara ini menjadi momen nostalgia bagi formasi ke-14 Slank yang legendaris.
Lebih dari sekadar pertunjukan musik, konser ini juga berperan sebagai pemantik kebangkitan industri kreatif dan ekonomi akar rumput di Kota Kembang. Ribuan Slankers dan penikmat musik memadati lokasi, menciptakan suasana meriah yang penuh energi.
Band yang digawangi Kaka, Bimbim, Ivanka, Ridho, dan Abdee ini memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan Bandung. Kota ini menjadi saksi bisu perjalanan karier musik mereka di tanah air.
Ikatan Emosional Slank dengan Kota Kembang
Bagi personel Slank, Bandung bukan hanya sekadar kota persinggahan tur, melainkan tempat penuh kenangan bersejarah. Gitaris Slank, Ridho, mengenang momen penting pada tahun 1997 di Sabuga, di mana formasi Slank saat ini pertama kali manggung.
"Saat itu di Sabuga tahun 1997, formasi Slank yang saat ini pertama kali manggung ya di Bandung. Inget banget, saat itu ngecat-ngecat rambut sama Ivan," kenang Ridho dalam konferensi pers sebelum konser.
Vokalis Slank, Kaka, turut mengiyakan bahwa momen 29 tahun lalu di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) merupakan ujian berat. Momen tersebut sekaligus menjadi tonggak sejarah bagi personel baru saat itu.
Kaka menambahkan, "Saat itu Ridho langsung dapat PR (mengulik) 30 lagu (untuk manggung di Bandung)." Hal ini menunjukkan betapa krusialnya penampilan perdana mereka di hadapan Slankers Bandung.
Konser Slank Bandung Dorong Ekonomi Kreatif Lokal
Nostalgia dalam Konser Slank Bandung ini tidak hanya menjadi ajang hura-hura semata, tetapi juga diadopsi oleh produsen rokok domestik HS untuk menggerakkan sektor padat karya. Konser sesi ke-8 ini sengaja memboyong line up terbanyak dibanding tujuh kota sebelumnya.
Sebanyak sembilan grup musik tampil, dengan memberikan panggung khusus bagi tiga "local heroes" Bandung: DT09, Stand Here Alone (SHA), dan Preman Disko. Inisiatif ini membuka ruang kolaborasi berharga bagi regenerasi pemusik lokal yang lahir dari arus bawah.
Manajer DT09, Reza, menyatakan bahwa ruang kolaborasi ini sangat berarti bagi musisi muda. "Kami grup musik yang juga lahir dari grassroot, lahir dari tribun (Persib Bandung), bobotoh (suporter Persib)," kata Reza, menegaskan akar komunitas mereka.
Pendiri sekaligus vokalis SHA, Mbenk, yang juga seorang Slankers sejak era album PLUR (2004), merasa bangga bisa berbagi panggung dengan idolanya. "Jadi SHA ini tetap ada alur darahnya Slank, saya tidak akan pernah melewatkan momen ini," ujar pria bernama asli Taufik Andryyansyah tersebut.
Di sisi lain, Direktur Komersial HS, Tessa Arya Pradana, mengungkapkan alasan pemilihan Bandung sebagai titik krusial tur. Pemilihan ini didasarkan pada potensi ekonomi makro yang sangat besar.
"Ini membuat Bandung jadi salah satu pasar paling seksi," ucap Tessa, menyoroti daya tarik ekonomi kota tersebut. Selain musisi lokal, Konser Slank Bandung juga berkolaborasi dengan Tony Q Rastafara, The Cloves and The Tobacco, The Sleting Down, Afterskema, dan Mahalara.
Sumber: AntaraNews