PDIP Usul Dapur MBG Dibuat di Sekolah, Cegah Keracunan Massal
Saat itu, Charles meminta pendapat kepada Menkes terkait dengan plus dan minus jika kantin-kantin di sekolah menjadi dapur untuk menyiapkan program MBG.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris turut menyinggung soal dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jika dibuat di sekolah.
Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN RI dan Kepala BPOM.
Saat itu, Charles meminta pendapat kepada Menkes terkait dengan plus dan minus jika kantin-kantin di sekolah menjadi dapur untuk menyiapkan program MBG.
"Bapak sebelah kiri ahli gizi loh, dari pernah di WHO, belakang juga banyak nakes. Jadi, saya minta pandangan itu saja. Kalau bicara bisa atau tidak gampang pak, bangun dapur saja bisa, masa enggak ada sih lokasi sekian puluh meter atau ratus meter di sekolah yang bisa dijadikan dapur," kata Charles dalam rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (1/10).
Menurutnya, jika sekolah tersebut bisa menyediakan MBG bagi murid di sekolah tersebut maka jumlahnya tidak mungkin banyak.
"300, 400 kan lebih simpel. Orang tua murid bisa terlibat, bisa ikut mengendalikan, mengontrol. Belanjanya di pasar-pasar sekitar sekolah, sehingga ekonomi rakyat sekitar juga bergerak," ujarnya.
"Apabila sekolah itu bisa, plus minusnya seperti apa? kita kalau bisa di sekolah, kita tidak lagi bicara soal critical temperature, makanan dimasak tidak lama, sebelum makanan disajikan, jadi enggak ada kekhawatiran makanan nanti harus disimpan di atas 60 derajat, di bawah 5 derajat," sambungnya.
Tanggapan Menkes
Sementara itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin pun menanggapi apa yang dikatakan oleh Charles. Menurutnya, akan ada beberapa masalah.
"Jadi memang kondisi sekolahnya banyak yang jauh dari yang di kota-kota besar. Jadi, saya memahami lah kalau kita mau bikin kebijakan ditaruh di sekolah masalahnya mungkin akan multifikasi, standarnya, gizinya, bisa kena," ujar Budi Gunadi.
Ia pun kemudian menyerahkan hal itu kepada Kepala BGN Dadan Handayani untuk melakukan kombinasi.
"Bahwa nanti apakah ada kombinasi, bagus apa enggak, saya percaya Pak Dadan nanti kalau sudah lebih tenang hidupnya, kan Pak Dadan ini tiap hari ditanya (target) sudah berapa sudah berapa? saya paham juga Pak Dadan underload of pressure untuk melakukan hal yang niatnya baik ini," ucapnya.
Tanggapan Kepala BGN
Dalam kesempatan itu, Dadan pun turut menjawab apa yang ditanyakan oleh Charles. Ia menyebut, jika pihaknya sudah membangun dapur MBG atau SPPG di sekolah di kawasan Bogor, Jawa Barat.
"Salah satu kantin sekolah yang sudah kami buat menjadi SPPG itu di kantin Musowa Bina Insani yang dua bulan lalu juga keracunan pak, itu di tempat," ujar Dadan.
Ternyata, apa yang disampaikan oleh Dadan itu pun kemudian kembali ditanyakan oleh Charles.
"Pertanyaan saya, tadi sekolah yang disebutkan bapak menjadi satu SPPG, itu SPPG yang menyediakan 3.000 porsi untuk sekolah lain juga atau hanya sekolah itu saja?," tanya Charles.
"Pertama, seluruh pegawainya adalah pegawai kantin itu, bahkan chef-nya chef kantin dan kemudian mereka melayani sekolah itu sekaligus sekitarnya," jawab Dadan.
"Artinya ini sama dengan SPPG-SPPG lain, hanya lokasinya saja di sekolah. Ini kan berbeda dengan yang saya sampaikan tadi pak, satu dapur untuk satu sekolah, hanya menyediakan makanan bagi sejumlah murid yang ada di sekolah itu. Jadi jangan diputar-putar pak, kita ini enggak bodoh mohon maaf," ujar politisi Fraksi PDIP tersebut.
Saat itu, Dadan turut mengungkapkan, jika SPPG juga berada di dalam pondok pesantren yang dikelola oleh santri.
"Nah kemudian yang kedua, sekarang itu banyak sekali pesantren-pesantren yang memiliki santri, SPPG-nya juga di dalam santri tersebut. Itu sudah banyak di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Dan terakhir saya sampaikan, nanti di sekolah rakyat yang akan dibangun oleh Kementerian Sosial, nanti SPPG itu melekat di sekolah," papar Dadan.
"Jadi mereka akan ada kurang lebih 1.000 penerima manfaat, sehingga dikasih makan pagi, siang dan malam," pungkasnya.