Pakar: Strategi Offshore Balancing AS Tetap Jadi Pilar Pertahanan Nasional
Dr. Zeno Leoni, pakar grand strategy, menegaskan bahwa Strategi Offshore Balancing AS masih menjadi landasan pertahanan nasional, mendorong sekutu regional berperan lebih besar dan menjaga dominasi global.
Dr. Zeno Leoni, seorang pakar grand strategy Amerika Serikat (AS) dan China, mengungkapkan bahwa strategi pertahanan nasional AS untuk tahun ini tetap konsisten dengan gagasan offshore balancing. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah webinar yang membahas implikasi strategi AS terhadap persaingan kekuatan besar di Indo-Pasifik. Zeno Leoni adalah pengajar Studi Pertahanan di King's College London.
Offshore balancing merupakan pendekatan kebijakan luar negeri di mana negara adidaya seperti AS mengurangi kehadiran militer langsung di luar negeri. Sebaliknya, AS mendorong sekutu regional untuk mengambil alih tanggung jawab dalam menangani ancaman keamanan di kawasan masing-masing. Strategi ini bertujuan untuk menjaga dominasi AS di Belahan Bumi Barat dan mencegah munculnya kekuatan hegemonik lainnya.
Menurut Zeno, Strategi Pertahanan Nasional 2026 secara jelas mengindikasikan kelanjutan pendekatan ini. Meskipun ada pengecualian historis seperti Perang Vietnam serta pendudukan di Irak dan Afghanistan, strategi offshore balancing tetap menjadi tulang punggung kebijakan luar negeri AS. Pendekatan ini mengandalkan kekuatan militer tanpa keterlibatan berskala besar.
Memahami Konsep Offshore Balancing dan Historisitasnya
Dr. Zeno Leoni menjelaskan bahwa sepanjang sejarahnya, AS secara umum telah menerapkan strategi besar offshore balancing. Strategi ini dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuatan global sambil meminimalkan biaya dan risiko keterlibatan militer langsung. AS berupaya mencegah munculnya kekuatan hegemonik lain di Eropa, Asia Timur, Teluk Persia, dan Indo-Pasifik.
Pendekatan ini mengandalkan kekuatan militer yang mumpuni, namun dengan penekanan pada dukungan dan pemberdayaan sekutu regional. Tujuannya adalah untuk memastikan stabilitas tanpa harus menempatkan pasukan dalam jumlah besar di garis depan. Zeno menambahkan bahwa strategi ini pada dasarnya ditujukan untuk menjaga dominasi AS di Belahan Bumi Barat.
Meskipun ada perdebatan tentang pergeseran fokus ke Belahan Bumi Barat, Zeno menilai bahwa Strategi Pertahanan Nasional AS tetap menegaskan pentingnya Eurasia dan jaringan aliansi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada diskusi internal, inti dari strategi AS masih berpusat pada pemanfaatan sekutu untuk menjaga kepentingan globalnya.
Implikasi Strategi Offshore Balancing AS di Indo-Pasifik dan Hubungan dengan China
Terkait kawasan Indo-Pasifik, pemerintahan Trump secara resmi menyatakan bahwa wilayah ini tetap menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia. Oleh karena itu, AS dinilai tidak dapat sepenuhnya menjauh dari kawasan strategis tersebut. Ini menunjukkan kebutuhan struktural bagi AS untuk terus memproyeksikan kekuatannya di Indo-Pasifik.
Mengenai China, Zeno mencatat adanya perdebatan apakah pemerintahan Trump mengurangi fokus persaingannya dengan Beijing. Namun, ia menilai pemerintah AS saat ini lebih pragmatis. Mereka tidak menjadikan isu nilai-nilai dan demokrasi sebagai faktor utama yang bisa memicu konflik terbuka dengan China.
Melalui strategi pertahanan nasionalnya, pemerintahan Trump cenderung mendorong sekutu regional untuk berperan lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan. Pendekatan ini lebih dipilih daripada mengandalkan kekuatan militer AS secara langsung. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar offshor balancing yang menekankan tanggung jawab regional.
Meskipun Presiden Donald Trump kerap menyampaikan pernyataan serupa dan AS memindahkan sejumlah aset militer ke Belahan Bumi Barat, rencana strategis Washington di kawasan itu belum sepenuhnya jelas. Zeno menyoroti bahwa masih ada ketidakjelasan, termasuk terkait serangan terbaru terhadap Venezuela, yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews