Orang Indonesia Narsis
Di era digital, eksistensi tak lagi soal hadir di ruang nyata, tapi di linimasa.
Setiap pagi, bukan alarm yang membangunkan Ani, melainkan deretan notifikasi dari Instagram. Bagi perempuan berusia 22 tahun ini, hari baru tak dimulai tanpa ritual digital yang sudah dijalaninya setahun terakhir, membagikan sepotong kehidupannya ke media sosial.
Dengan cekatan, jari-jari Ani menari di atas keyboard virtual ponsel, mengetik kalimat singkat "A day in my life". Lalu, satu sentuhan ringan di tombol “share” mengunggah video yang merekam rutinitas paginya, bangun tidur, mencuci muka, hingga menyeduh kopi ke feed Instagram.
Tugas pagi itu belum selesai. Dia lanjut membuka aplikasi edit foto. Di layar, terpampang potret dirinya tersenyum saat nongkrong di sebuah kafe. Beberapa ketukan layar menambahkan efek cahaya hangat, stiker lucu, dan kutipan motivasi. Selesai diedit, foto itu meluncur ke fitur ‘Your Story’ Instagram.
Hasilnya? Ratusan like dan komentar masuk dalam hitungan menit. “Baru 7 menit sudah ada 200 like, 110 komentar loh,” kata Ani bangga.
Memiliki lebih dari 20 ribu pengikut, Ani tahu bagaimana membuat setiap unggahannya menarik. Dalam sehari, dia bisa membagikan hingga 20 konten, dari potret makan siang, selfie, outfit harian, hingga curhat singkat.
"Setiap pagi aku wajib posting foto selfie. Siang, sore, malam beda lagi," ujarnya dengan tawa lepas.
Bagi Ani, media sosial bukan sekadar hiburan. Ini adalah bentuk ekspresi diri, panggung virtual tempat dia merasa dilihat dan dihargai. Tiap pujian yang masuk di kolom komentar menjadi pengakuan atas eksistensinya.
“Aku malah merasa lebih diapresiasi di media sosial daripada dunia nyata. Biar dikata narsis, aku nggak peduli,” ucapnya.
Di era digital, Ani adalah satu dari jutaan Gen Z yang menemukan identitasnya dalam pantulan layar ponsel. Di sana, eksistensi tak lagi soal hadir di ruang nyata, tapi di linimasa. Fenomena ini disebut banyak ahli sebagai bentuk narsisme modern.
Narsisme Bagai Pisau Bermata Dua
Narsisme di Indonesia semakin mencolok seiring dengan pesatnya penggunaan media sosial. Platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok telah menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri dan mencari pengakuan dari lingkungan sosial mereka.
Istilah narsisme berasal dari mitologi Yunani, merujuk pada Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Dalam konteks modern, narsisme menggambarkan seseorang dengan rasa cinta berlebihan terhadap diri sendiri, haus akan pujian, dan merasa dirinya lebih penting atau unggul dari orang lain.
Sosiolog Musni Umar menggambarkan narsisme sebagai pisau bermata dua. Dalam kadar wajar, narsisme dapat membantu seseorang mencintai dan menghargai diri sendiri.
"Ini bisa mendorong pencapaian, perawatan diri, dan kepercayaan saat bersosialisasi," kata Musni.
Namun, ketika berlebihan, narsisme justru dapat merusak. Mereka bisa kehilangan empati, memanipulasi orang lain demi citra, dan menjadi sangat bergantung pada pujian.
Menurut Musni, akhir-akhir ini, narsisme tidak lagi sebatas membagikan foto selfie di media sosial untuk mendulang pujian. Fenomena ini telah berkembang menjadi keinginan untuk mengunggah apa saja dengan tujuan viral, tanpa memedulikan apakah konten tersebut menabrak batas moral.
"Karena semua orang ingin dikenal, ingin hebat. Tapi kalau sampai viral tapi merugikan orang saya kira ini harus dihindari," ucap dia.
Sosiolog lain, Sigit Rochadi menilai ada perubahan pola perilaku generasi muda di media sosial. Dari sebelumnya narsis, sekarang cenderung flexing atau pamer. Flexing ini bisa dalam bentuk membagikan foto makanan, barang belanjaan, hingga harta benda lainnya.
"Dalam era klasik, era pemikiran eksistensi itu ditunjukkan dengan pemikiran. Saya berfikir, maka saya ada, itu kan konsepnya dulu. Kemudian di era kejayaan kapitalisme, itu saya berbelanja, maka saya ada," kata Sigit.
Ada dua alasan yang membuat generasi muda suka pamer di media sosial. Pertama, karena interaksi dengan pengguna media sosial lain terbatas. Sehingga foto dan video bisa menjadi jembatan untuk menunjukkan eksistensinya.
Kedua, mendapat imbalan saat membagikan segala aktivitasnya di media sosial. Imbalan itu bukan berupa uang, melainkan like dan komentar.
"Maka media sosial kemudian menjadi sarana untuk mobilitas vertikal, bukan sekedar eksistensi. Tetapi untuk menaikkan derajat yang bersangkutan, semakin banyak disukai, like, semakin banyak dikomen, maka semakin status sosialnya itu meningkat di kalangan teman-temannya," ucapnya.
Gangguan Mental
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mengungkapkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Narsisme, dalam kadar tertentu, dapat dikategorikan sebagai gangguan mental, terutama jika disertai dengan perilaku manipulatif dan kurangnya empati.
Faktor penyebab narsisme meliputi genetik, pola asuh yang tidak baik, pengalaman traumatis, dan pengabaian emosional. Selain itu, media sosial memperkuat kecenderungan ini.
Survei lain menemukan, ada kaitan erat self-esteem atau kepercayaan diri dengan narsistik di media sosial. Semakin tinggi self-esteem, maka semakin tinggi pula perilaku narsistik.
Tak hanya di Indonesia, fenomena narsistik di media sosial juga terjadi hampir di seluruh dunia. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Individual Differences menemukan bahwa tingkat narsisme dan perilaku promosi diri meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja.
Penelitian ini menunjukkan bahwa platform media sosial dapat menjadi arena bagi remaja dengan kecenderungan narsistik untuk menampilkan diri secara berlebihan dan mencari perhatian dari orang lain.
Studi yang melibatkan remaja dari Austria, Belgia, Korea Selatan, dan Spanyol juga menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berfokus pada penampilan diri, seperti sering memposting selfie dan membandingkan diri dengan orang lain, berkorelasi positif dengan tingkat narsisme.
Berkurang Seiring Bertambah Usia
Sifat narsisme bisa berubah dari waktu ke waktu. Musni Umar mengatakan, penambahan usia, padatnya aktivitas, dan pendidikan bisa mengurangi narsisme di media sosial.
"Bisa jadi waktu masih muda ingin sosialisasinya tinggi sehingga narsistik. Berjalannya waktu punya kegiatan padat, sudah tidak muda, narsisme berkurang," ujar Musni.
Penelitian mendukung pandangan ini. Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 37.000 partisipan berusia 8 hingga 77 tahun menemukan bahwa tiga jenis narsisme, agentik (keinginan untuk dikagumi), antagonistik (sikap kompetitif dan manipulatif), serta neurotik (sensitivitas terhadap kritik) mengalami penurunan seiring berjalannya waktu.
Perubahan ini berkaitan dengan peran sosial yang dialami seseorang sepanjang hidup, seperti menjadi pasangan, orang tua, atau pemimpin di tempat kerja, yang menuntut empati, tanggung jawab, dan kerja sama.
Namun, pada kondisi tertentu, sifat narsisme justru meningkat seiring bertambahnya usia. Mereka yang gagal beradaptasi atau memiliki ekspektasi yang tak terpenuhi justru menunjukkan peningkatan narsisme di usia tua.
"Bisa juga semakin lama (narsisme) semakin menjadi kalau dia ingin populer, hebat, terkenal. Karena naluriah manusia seperti itu," jelas Musni.