Menkes Perkuat Layanan Kesehatan dengan 2.701 Pos di 31 Provinsi Sambut Nataru
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa pemerintah menyiapkan 2.701 pos pelayanan kesehatan.
Pemerintah menegaskan kesiapan layanan kesehatan untuk menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bersama Kementerian Dalam Negeri yang digelar di Gedung sasana Bahkti Praja, Gedung C Lantai 3 Kemendagri, Senin, (1/12).
Rapat tersebut dipimpin oleh Menteri Dalam Negri Republik Indonesia (Mendagri), Tito Karnavian dan dihadiri oleh para gubernur, bupati, wali kota, serta seluruh Kepala Dinas Kesehatan se-Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa pemerintah menyiapkan 2.701 pos pelayanan kesehatan sebagai bagian dari pengamanan kesehatan nasional selama masa liburan.
Total 1.171 pos
Dari total pos tersebut dengan total 1.171 pos (43%) berada di jalur arteri, yang menjadi jalur paling padat dan rawan kecelakaan. Pos lainnya disiagakan di tempat tersebut seperti, di rest area tol (90), tempat ramai (386), tempat wisata (331), tempat ibadah (35), serta sarana transportasi seperti pelabuhan (173), terminal bus (107), stasiun kereta (70), dan bandara (21) pos pelayanan kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa konsentrasi besar pos kesehatan di jalur arteri bertujuan memberikan akses cepat bagi pemudik.
"Ini nanti adanya di jalan arteri. Jadi sekitar seribu dua ratus-an itu akan dipasang di jalan arteri," ujarnya Budi Gunadi Sadikin dalam rapat bersama Mendagri dan para kepala daerah.
Kepala Daerah Harus Kawal Pendirian Pos Kesehatan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, meminta seluruh kepala daerah untuk memastikan pendirian pos dilakukan tepat waktu dan sesuai standar. Ia menekankan pentingnya koordinasi karena banyak Dinas Kesehatan kini dipimpin pejabat baru.
"Dinas kesehatan sudah selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tinggal memastikan di lapangan benar-benar siap," kata Budi Gunadi Sadikin.
Instruksi itu mencakup pengecekan kesiapan obat-obatan, pelatihan tenaga medis, dan penyampaian informasi lokasi pos kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga diminta memastikan setiap pos melaporkan kondisi harian untuk memudahkan pemantauan pusat.
Menurut Budi Gunadi Sadikin, keberhasilan pelayanan kesehatan saat Nataru sangat ditentukan oleh kinerja daerah. Ia menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan vital saat perjalanan massal.
Antisipasi Insiden Kesehatan
Budi Gunadi Sadikin, menyebut bahwa mayoritas keluhan pemudik biasanya berupa kelelahan, gangguan pernapasan, dan tekanan darah. Namun, pos tetap ditugaskan menangani kasus yang lebih serius terutama akibat kecelakaan lalu lintas.
"Yang harus dijaga adalah waktu respons. Kalau ada kejadian, kita harus bisa tangani di menit-menit awal,” ujarnya.
Untuk memastikan layanan optimal, pemerintah mengerahkan 20.182 tenaga kesehatan dan non-kesehatan dalam operasi Nataru 2026. Rincian SDM adalah:
3.158 dokter
13.326 perawat
508 tenaga kesehatan tradisional (nakas trad)
1.393 pengemudi ambulans
Edukasi KIE
Selain pemeriksaan kesehatan dasar dan edukasi KIE, sejumlah pos juga menyediakan layanan kesehatan tradisional, seperti akupresur, akupunktur, dan ramuan herbal, bagi pemudik yang mengalami kelelahan selama perjalanan.
Menkes berharap bahwa dengan penambahan pos kesehatan, kesiapan SDM, dan koordinasi daerah yang lebih kuat, risiko kesehatan dan kecelakaan selama Nataru dapat ditekan. Ia menutup dengan optimisme,
"Mudah-mudahan tahun ini lebih aman, lebih sehat, dan kita bisa menjaga masyarakat selama libur panjang.” ujarnya.
Reporter Magang: Ahmad Subayu