Kontribusi Ekonomi Kreatif Tembus Rp24,46 Triliun Selama Nataru 2025/2026

Sektor ekonomi kreatif mencatatkan angka fantastis Rp24,46 triliun, menunjukkan **Kontribusi Ekonomi Kreatif** yang signifikan terhadap PDB nasional selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, serta potensi strategisnya yang berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kontribusi Ekonomi Kreatif Tembus Rp24,46 Triliun Selama Nataru 2025/2026
Sektor ekonomi kreatif mencatatkan kontribusi signifikan sebesar Rp24,46 triliun terhadap PDB nasional selama libur Nataru 2025/2026, menunjukkan potensi strategis yang berkelanjutan menurut Kemenekraf. (AntaraNews)

Sektor ekonomi kreatif mencatatkan capaian luar biasa selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kontribusi ini mencapai angka Rp24,46 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dari total tambahan PDB nasional sebesar Rp48,56 triliun.

Data ini dirilis oleh Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya peran sektor ini sebagai penggerak ekonomi.

Capaian ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi strategis yang besar dan tidak bersifat sesaat. Sektor ini dapat dikelola secara berkelanjutan sebagai tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa data ini membuktikan ekonomi kreatif bukan hanya terdorong oleh momentum libur panjang. Namun, sektor ini mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi, menunjukkan potensi strategis yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

Kajian Kementerian Ekonomi Kreatif juga menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada produk kreatif. Produk-produk seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, serta pengalaman hiburan dan seni menjadi pilihan utama masyarakat. Pergeseran minat ini memperkuat posisi subsektor ekonomi kreatif sebagai pengisi utama belanja masyarakat selama periode liburan.

Hal ini sekaligus membuka ruang perluasan pasar yang lebih besar bagi jenama lokal di berbagai daerah. Dengan demikian, sektor ini tidak hanya berkontribusi pada PDB, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Berdasarkan jejak digital konsumen melalui Google Trends, minat terhadap kuliner meningkat tajam pada 28 Desember 2025. Sementara itu, pencarian terkait hotel kembali melonjak pada 31 Desember 2025 saat puncak perayaan tahun baru.

Pada 25–26 Desember 2025, minat terhadap hiburan keluarga, termasuk bioskop, berada di titik tertinggi. Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi ekonomi kreatif mengikuti ritme liburan dan dapat dipetakan untuk mendukung perencanaan distribusi serta promosi produk kreatif secara lebih efektif.

Hasil survei kinerja usaha juga mencerminkan dampak positif yang signifikan terhadap pelaku usaha di sektor ini. Sebanyak 76,93 persen responden melaporkan peningkatan penjualan, dan 73,08 persen mencatat kenaikan keuntungan selama periode Nataru. Mayoritas pelaku usaha ini berada pada skala mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar terhadap lonjakan transaksi yang terjadi.

Dari sisi belanja wisatawan, pengeluaran terbesar masih dialokasikan untuk transportasi dan akomodasi. Meskipun demikian, belanja produk kreatif seperti makanan, cinderamata, dan belanja ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang. Angka ini memperlihatkan bahwa produk ekonomi kreatif memiliki ruang besar untuk terus diperkuat dalam rantai konsumsi wisata dan kegiatan liburan masyarakat.

Kontribusi langsung terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif selama Nataru berasal dari subsektor kuliner sebesar Rp19,9 triliun. Angka ini diikuti oleh fesyen dengan kontribusi Rp3,9 triliun, dan kriya sebesar Rp0,24 triliun. Data ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, serta akses pembiayaan bagi pelaku usaha agar dapat merespons lonjakan permintaan secara optimal.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky menambahkan, jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem, dampaknya tidak hanya mendorong PDB. Namun, juga akan memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan di pasar nasional maupun internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi