Menengok Geliat Ekonomi Kreatif di Daerah Aliran Sungai Pusur
Pengelolaan lingkungan yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi kelestarian alam.
Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur di Klaten mungkin bisa menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Kawasan ini membuktikan bahwa menjaga kelestarian alam bukan sekadar beban biaya, melainkan investasi yang mampu menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Pengelolaan lingkungan yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi kelestarian alam tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro X (Kanjeng Gusti) sempat meninjau langsung geliat ekonomi kreatif program binaan AQUA berbasis lingkungan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur , New Rivermoon, Klaten, Jawa Tengah.
Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas wisata susur sungai (river tubing) di aliran Sungai Pusur berkembang sebagai sumber penghidupan masyarakat, sekaligus mendorong upaya menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
Kanjeng Gusti menyampaikan bahwa kunjungan hari ini menunjukkan contoh baik bagaimana kolaborasi antara korporasi, komunitas lokal, dan pelaku usaha dapat membangun ekosistem yang bermanfaat.
"Air adalah sumber kehidupan yang sangat penting, dan di sini kita dapat melihat bagaimana konservasi air dan lingkungan dijalankan berdampingan dengan aktivitas masyarakat. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama, karena setiap tindakan yang kita lakukan menjadi wujud nyata bagaimana kita hidup berdampingan dengan manusia dan alam, dimana semuanya akan berdampak pada lingkungan. Semoga ekosistem ini dapat terus bertumbuh, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi banyak orang," ujarnya dikutip di Jakarta, Kamis (7/5).
Kanjeng Gusti kemudian memberikan refleksi mengenai pentingnya kesadaran diri dalam menjaga ekosistem tersebut,
"Adem itu dimulai dari dalam, melalui refleksi untuk melihat kekurangan dan kelebihan diri kita. Dari sanalah muncul keselarasan antara hati dan pikiran, sebuah bentuk mindfulness agar kita lebih jernih dalam mengambil langkah dan keputusan bagi lingkungan," ujar Kanjeng Gusti.
Pengelolaan Sampah dan Keterlibatan Warga
Kegiatan ini berlangsung di salah satu titik aktivitas komunitas di aliran Sungai Pusur. Melalui dialog dan peninjauan lapangan, peserta diajak melihat bagaimana praktik konservasi air, pengelolaan sampah, kebersihan sungai, dan keterlibatan warga menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal bersama para penggiat lingkungan muda.
Senior Manager Public Affairs & Sustainability AQUA, Jeffri Ricardo menjelaskan bahwa upaya menjaga sungai merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
"Ekosistem sungai yang terjaga berperan penting dalam mendukung kesehatan lingkungan secara keseluruhan, termasuk sumber air tanah dalam yang menjadi sumber air AQUA. Karena itu, kolaborasi dengan komunitas menjadi kunci untuk memastikan lingkungan tetap terjaga dan kualitas air dapat dipertahankan," jelasnya.
Sekretaris Pusur Institute dan Perwakilan Penggiat Lingkungan Muda DAS Pusur, Lintang Eka Prakusya menyampaikan bahwa keberlanjutan usaha mereka sangat bergantung pada kondisi sungai.
"Kalau sungainya bersih, orang mau datang, kegiatan bisa berjalan, dan masyarakat banyak juga akan merasakan manfaatnya. Karena itu, menjaga sungai bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keberlangsungan hidup kami," ujarnya.