Menelusuri Tempat Parkir Terakhir Sampah Jakarta, Bukit Limbah di Bantargebang
Truk berkelir oranye itu silih berganti masuk dan keluar lokasi untuk membuang sampah sudah diangkut dari beberapa tempat di Jakarta.
Puluhan truk sampah berukuran besar hingga sedang terlihat mengular panjang sebelum memasuki area pintu masuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Truk sampah itu milik Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
Truk berkelir oranye itu silih berganti masuk dan keluar lokasi untuk membuang sampah sudah diangkutnya dari beberapa tempat di Jakarta. Sebelum membuang sampah dibawanya itu, truk lebih dulu melewati pintu penjagaan untuk melakukan penimbangan.
Setelah selesai ditimbang, para sopir langsung menuju ke lokasi atau zona di mana sampah itu akan dikeluarkan dari truk yang dibawanya.
Usai sampah itu dibuang, truk-truk tersebut tidak langsung keluar meninggalkan Bantargebang. Mereka lebih dulu membersihkan kendaraan dibawanya di lokasi khusus membersihkan mobil sampah.
Namun tidak semua truk ingin membersihkan mobilnya di TPST Bantargebang usai membuang sampahnya. Ada dari mereka yang memang langsung meninggalkan lokasi.
Pantauan merdeka.com di lokasi, terlihat tumpukan sampah yang menjulang tinggi tengah dikeruk oleh beberapa alat berat seperti beko berwarna kuning.
Sampah-sampah yang dikeruk oleh alat berat tersebut berasal dari truk muatan sampah yang setiap harinya memang membawa berbagai jenis sampah.
"Jumlah truk, biasanya TPST Bantargebang itu 1.200-1.300 per hari, namun saat ini ada pembatasan jumlah perhari-nya sekitar 600-900 truk," kata salah satu staf TPST Bantargebang yang enggan disebutkan namanya kepada merdeka.com, Selasa (5/5).
Dari ratusan truk yang membawa sampah tersebut, jika dikalkulasikan menjadi 7.120 ton sampah. Jumlah ini disebutnya berdasarkan sepanjang April 2026, karena adanya pembatasan volume sampah.
"3 shift, tujuannya pembatasan volume sampah yang masuk ke bantargebang," ujar dia.
Ketinggian Sampah
Dibatasinya sampah yang masuk ke Bantargebang, karena memang sudah menggunung hingga mencapai 40 meter. Hal ini turut dirasakan oleh salah seorang warga yang tinggal disekitaran dekat lokasi
Apalagi, dia sudah lama tinggal di dekat lokasi pembuangan akhir sampah. Jarak antara rumahnya dengan gunungan sampah tersebut hanya beberapa meter saja.
"Ya perbedaannya paling ya, dulu mah kalau pembuangan itu kan dalam. Ya sekarang udah tingginya itu, udah tinggi banget gitu, 35-40 meter ada. Tinggi, udah kayak di puncak," ujar salah satu warga berinisial Jay.
Bertetangga dengan Limbah
Dekatnya jarak rumah dengan tempat pembuangan akhir sampah, membuat Jay sudah terbiasa menghirup udara atau aroma yang timbul dari sampah. Terlebih, jika sampah itu sudah membasah alias tidak kering.
Karena, memang truk-truk yang membawa sampah tersebut melewati rumahnya. Bahkan, berhenti di depan rumahnya untuk menunggu giliran masuk ke UPST Bantargebang.
"Kalau udara kayaknya sama sih ya, paling kalau musim hujan tuh rada bau juga. (Karena) Basah. Iya, ya enggak menyengat banget sih (baunya), karena kan udah biasa kalau saya. Kecuali paling kayak ada sampah dari Pasar Induk, mobil lewat itu bau (sampah basah)," ujar Jay.
Tidak Pernah Mengalami Penyakit Pernapasan
Meski setiap hari menghirup udara yang sudah tercampur dengan baunya sampah, Jay bersama keluarganya mengaku tidak pernah mengalami sakit pernapasan. Akan tetapi, justru penyakit yang ia alami hanya seperti meriang hingga pusing akibat terkena hujan.
Selain itu, penyakit lain yang dialaminya itu seperti terkena paku hingga beling pada bagian kakinya. Hal ini pun dianggap menjadi wajar, mengingat lokasi tempat ia tinggal yang tak jauh dari tempat pembuangan akhir sampah.
"Sakit biasa, paling meriang-meriang. Kalau kehujanan," pungkasnya.
Tumpukan gunung sampah di TPST Bantargebang itu sebelumnya diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). Zulhas mengatakan, kondisi sampah yang berada di Jakarta sudah mencapai tahap darurat.
Menurut dia, timbunan sampah Jakarta mencapai sembilan ribu ton lebih per hari. Saat ini, 87 persen pengolahan masih bergantung pada open dumping seperti Bantargebang yang sudah jauh melebihi kapasitas. Bahkan, tingginya Sampah itu diibaratkan olehnya mencapai lantai 17.
"Kalau diukur Bantargebang itu Pak Gubernur seperti gedung berapa lantai itu? 16, 17 lantai ujar Zulhas usai penandatanganan kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan PT Danantara Investment Management di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (4/5)
Oleh karena itu, Zulhas menuturkan, persoalan sampah di Jakarta tersebut menjadi perhatian khusus langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Bahkan Jakarta ini mendapat perhatian khusus dari Bapak Presiden. Kami hampir tiap minggu ditelepon soal sampah, utamanya Bantargebang," ucap Zulhas.