Mendiktisaintek Brian Yuliarto Soroti Krisis Makna Manusia Modern di ITS
Mendiktisaintek Brian Yuliarto soroti krisis makna manusia modern di ITS, menekankan pentingnya spiritualitas dan iman sebagai fondasi di tengah kehidupan yang kompetitif dan serba cepat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyoroti krisis makna yang dialami manusia modern. Sorotan ini disampaikan dalam Kajian Subuh Spesial di Masjid Manarul Ilmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada Sabtu (09/5). Ia menekankan bahwa kesibukan mengejar pencapaian seringkali membuat individu lupa menguatkan hati.
Dalam tausiyah bertema “Subuh, 10 Hari Dzulhijjah, dan Kekuatan Doa”, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini krusial di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang semakin bising dan kompetitif. Shalat Subuh berjamaah, menurutnya, bukan hanya ibadah rutin, tetapi juga simbol kedisiplinan.
Kedisiplinan dan kekuatan iman ini dinilai esensial dalam membangun karakter manusia yang utuh. Brian Yuliarto menegaskan bahwa ilmu dapat membuat seseorang pintar, namun iman dan kedekatan kepada Allah yang menjaga kejujuran saat memiliki kekuasaan. Pembangunan bangsa memerlukan fondasi spiritual selain kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi.
Pentingnya Iman di Tengah Kecerdasan Intelektual
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyatakan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi. Diperlukan fondasi spiritual yang kuat agar lahir manusia berintegritas, berempati, dan berakhlak. Fondasi ini menjadi penyeimbang dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurut Brian, shalat Subuh berjamaah adalah cerminan dari kedisiplinan dan kekuatan iman. Aspek-aspek ini sangat vital dalam membentuk karakter individu. Ia menekankan bahwa meskipun ilmu dapat meningkatkan kepintaran, iman dan kedekatan dengan Allah adalah kunci kejujuran, terutama bagi mereka yang memegang kekuasaan.
Integritas dan akhlak mulia merupakan hasil dari kombinasi antara kecerdasan dan spiritualitas. Tanpa fondasi spiritual, seseorang mungkin kehilangan arah dan makna dalam pencapaian hidupnya. Oleh karena itu, penguatan iman menjadi prioritas utama dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
Tantangan Mental Generasi Muda dan Solusi Spiritual
Tekanan kompetisi global dan gaya hidup modern saat ini seringkali memicu kelelahan mental pada generasi muda. Kondisi ini muncul akibat hilangnya makna hidup di tengah hiruk pikuk pencapaian dan tuntutan yang tinggi. Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyoroti dampak negatif dari kondisi tersebut terhadap kesejahteraan mental.
Untuk mengatasi krisis makna ini, Brian Yuliarto menyarankan pemanfaatan momentum 10 hari pertama Dzulhijjah. Periode ini dapat digunakan untuk memperkuat spiritualitas melalui berbagai amalan. Amalan tersebut meliputi puasa sunnah, sedekah, dzikir, dan doa. Ini adalah cara efektif untuk mengisi kembali kekuatan batin.
Ia juga mengingatkan agar tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Ada banyak persoalan dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika dan kerja keras. Mengutip kisah Nabi Zakariya, Brian mencontohkan keyakinan manusia kepada Tuhan melalui doa yang lembut dan penuh harap di usia senja. Doa menjadi jembatan bagi hal-hal yang melampaui batas nalar.
Sains, Teknologi, dan Spiritualitas untuk Peradaban
Di hadapan sivitas akademika ITS dan masyarakat umum, Brian Yuliarto menegaskan peran perguruan tinggi. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang berprestasi secara akademik. Namun, juga harus menghasilkan individu yang memiliki kepedulian sosial dan keteguhan moral. Keseimbangan ini penting untuk menghasilkan pemimpin masa depan.
Bagi ITS, kajian ini berfungsi sebagai pengingat penting bahwa pengembangan sains dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari nilai kemanusiaan. Spiritualitas menjadi elemen krusial dalam membangun peradaban bangsa yang kokoh. Keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur sangat diperlukan untuk kemajuan berkelanjutan.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menutup tausiyahnya dengan pernyataan bahwa bangsa ini membutuhkan orang-orang yang hatinya hidup. Ini menekankan bahwa kemajuan sejati berasal dari individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang peka dan beriman, siap berkontribusi positif bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews