Mendiktisaintek Dorong Penguatan Kemandirian Teknologi Pertahanan RI di Era VUCA

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan era VUCA.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mendiktisaintek Dorong Penguatan Kemandirian Teknologi Pertahanan RI di Era VUCA
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan era VUCA. (AntaraNews)

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Hal ini untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional di tengah era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA). Penegasan ini disampaikan dalam sebuah kuliah umum yang diselenggarakan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Jakarta.

Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Tahun Ajaran 2026. Acara ini bertujuan untuk membekali Perwira Siswa (Pasis) dengan pemahaman strategis mengenai kepemimpinan digital di era VUCA. Mendiktisaintek menekankan bahwa penguatan teknologi pertahanan adalah kebutuhan strategis negara.

Menurut Menteri Brian, kepemimpinan di era digital membutuhkan fondasi berbasis sains yang kuat. Selain itu, kecepatan dalam pengambilan keputusan serta pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) juga menjadi krusial. Peran pendidikan tinggi sangat penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan analitis.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyoroti bahwa ketika berbicara tentang kepemimpinan digital di era VUCA, sesungguhnya sedang membahas bagaimana bangsa ini menyiapkan manusia unggul. Ini termasuk membangun ilmu pengetahuan, memperkuat inovasi, dan menghubungkan semuanya ke kebutuhan strategis negara. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi pertahanan, tetapi harus menjadi bangsa pencipta dan pengembang.

Perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menghasilkan riset dan inovasi yang dapat mendukung kemandirian teknologi pertahanan. Kolaborasi antara akademisi, industri, dan sektor pertahanan menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan sinergi yang kuat, Indonesia dapat berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri dalam bidang teknologi pertahanan.

Penguatan kemandirian teknologi pertahanan bukan hanya tentang pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga tentang penguasaan teknologi. Ini mencakup kemampuan untuk merancang, memproduksi, dan memelihara sistem pertahanan secara mandiri. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada negara lain dan meningkatkan kedaulatan nasional.

Brian Yuliarto menyatakan pihaknya mendorong agar hasil riset dari perguruan tinggi dapat dihilirisasi secara konkret. Ini dilakukan melalui kemitraan dengan industri, termasuk dalam pengembangan teknologi strategis. Beberapa area teknologi strategis yang disebutkan meliputi sistem data, kecerdasan buatan (AI), hingga komponen industri berbasis semikonduktor.

Upaya hilirisasi riset ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto. Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat kemandirian teknologi nasional sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Dengan demikian, investasi dalam riset dan pengembangan menjadi prioritas nasional.

Pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi inovasi dan pengembangan teknologi pertahanan. Ini mencakup dukungan kebijakan, pendanaan, serta fasilitas yang memadai bagi para peneliti dan industri. Tujuannya adalah agar inovasi lokal dapat bersaing di tingkat global dan memenuhi kebutuhan pertahanan negara.

Komandan Seskoad Mayjen TNI Agustinus Purboyo menegaskan pentingnya penguatan kapasitas kepemimpinan dan integrasi sistem. Ini diperlukan dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Ia menyadari bahwa tantangan ke depan tidak bisa dihadapi secara sektoral.

Diperlukan sinergi antara pendidikan, riset, dan praktik di lapangan agar dapat membangun kapasitas pertahanan yang adaptif dan berkelanjutan. Sinergi ini akan memastikan bahwa setiap kebijakan dan program yang dijalankan memiliki dampak nyata. Hal ini juga akan mendukung kesiapan pertahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman modern.

Integrasi sistem juga mencakup koordinasi antarlembaga pemerintah, militer, dan sektor swasta. Dengan demikian, setiap elemen dapat berkontribusi secara optimal dalam mencapai tujuan bersama. Penguatan kapasitas pertahanan yang adaptif berarti kemampuan untuk terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi serta geopolitik.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi