Menteri Brian Sebut Penguasaan Teknologi sebagai Kebutuhan Mendesak
Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menekankan pentingnya pendidikan dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan bahwa peran pendidikan sangat penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ia berpendapat bahwa kemampuan dalam teknologi saat ini bukan sekadar pilihan, melainkan suatu keharusan bagi generasi mendatang.
"SDM unggul adalah kunci. Penguasaan sains dan teknologi itu adalah salah satu yang harus betul-betul dikuasai oleh negara jika ingin bangkit. Pendidik merupakan garda terdepan dalam proses pembentukan kualitas SDM, karena dari tangan merekalah lahir generasi yang siap menghadapi tantangan zaman," kata Brian. Pernyataan tersebut disampaikan Brian dalam seminar nasional 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian Natal Nasional 2025, yang berlangsung di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, pada Selasa (3/2).
Brian juga menekankan pentingnya pengelolaan SDM yang berkelanjutan, dengan pendidik sebagai kunci utama dalam proses tersebut. Ia mengajak peserta untuk merenungkan peran strategis keluarga, iman, dan pendidikan sebagai dasar pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berdaya saing, sekaligus sebagai perekat persatuan bangsa di tengah perubahan zaman.
"Pendidikan yang dikelola dengan baik akan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan SDM yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing," ungkap Brian.
Dalam keterangan tertulis dari UPH, dijelaskan bahwa rangkaian Natal Nasional 2025 telah dimulai sejak Desember 2025 di sembilan kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, dan Medan. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang refleksi iman dan kebangsaan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata seperti bakti sosial, bantuan bagi korban bencana, dan pemberian beasiswa.
Rektor UPH, Jonathan L Parapak, dalam sambutannya, menekankan bahwa keluarga adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Ia menyatakan bahwa keluarga merupakan ruang pertama untuk membentuk karakter, nilai, dan iman setiap anggotanya agar dapat tumbuh secara utuh dan bertanggung jawab di masyarakat.
"Perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membicarakan nilai-nilai keluarga, ketahanan, dan iman. Dari kampus inilah kita ingin membangun fondasi yang kuat bagi keluarga-keluarga Indonesia ke depan," ujar Jonathan .
Di tempat yang sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait, menegaskan pentingnya membangun Indonesia melalui tindakan nyata yang mendukung kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
"Komitmen tersebut kami wujudkan melalui berbagai inisiatif sosial sepanjang rangkaian Natal Nasional 2025, mulai dari pembagian seribu paket pendidikan senilai Rp 10 juta per penerima di berbagai daerah, renovasi 100 gereja, penyaluran 20 ribu paket sembako di 10 wilayah Indonesia, pembangunan dua jembatan di Papua, distribusi 30 ribu Alkitab ke seluruh Indonesia, hingga bantuan bagi para korban bencana alam," jelas Maruarar.
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), James T Riady, secara terbuka membagikan pengalamannya saat menyadari bahwa hidup tidak hanya diukur dari pencapaian dan reputasi, tetapi juga dari kemampuannya untuk memenangkan hati keluarganya. Dari pemikiran tersebut, ia menyadari bahwa perubahan sejati harus dimulai dari pembaruan diri, dengan menjalani hidup yang berbeda, lebih bertanggung jawab, dan berakar pada kebenaran yang memerdekakan.
"Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat. Ketika relasi keluarga sedang tidak baik, itu bukan akhir dari segalanya. Jangan kehilangan harapan, karena setiap keadaan sulit selalu membuka kesempatan untuk pemulihan," ucap James.