Mendikdasmen Abdul Mu'ti Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter Siswa Berakar di Hati
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya pendidikan karakter siswa yang berakar di hati untuk membentuk generasi berdaya saing, menguasai teknologi tanpa diperbudak, serta memiliki akhlak mulia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti baru-baru ini menekankan pentingnya pendidikan yang menumbuhkan kecerdasan dan nilai hati di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya. Hal ini bertujuan agar ilmu yang didapat siswa tidak hanya sekadar hafalan, melainkan melekat kuat dalam diri mereka. Penekanan ini disampaikan untuk membentuk karakter kuat siswa guna menciptakan generasi muda yang berdaya saing nasional.
Dalam pengajian yang berlangsung pada Sabtu (07/2) tersebut, Abdul Mu'ti menyoroti bahwa ilmu sejati berada di dalam hati, bukan hanya di dalam tulisan atau buku. Konsep ini menjadi fondasi utama dalam pembentukan pribadi yang utuh dan berintegritas. Ia juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) memang krusial, namun manusia tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Menurut Mendikdasmen, teknologi hanya berfungsi selama ada listrik dan jaringan pendukung, sehingga manusia harus tetap memegang kendali. Ia menegaskan bahwa teknologi harus dikuasai, tetapi tidak boleh menjadi "juragan" atau mengendalikan manusia. Pesan ini relevan untuk mempersiapkan siswa menghadapi era digital dengan bijak dan bertanggung jawab.
Fokus Ilmu di Hati dan Penguasaan Teknologi
Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa ilmu yang telah masuk ke hati akan menetap dan tidak akan hilang. Konsep ini menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai dalam proses belajar mengajar. Pendidikan harus mampu menyentuh aspek emosional dan spiritual siswa agar pembelajaran lebih bermakna.
Selain itu, ia menyoroti kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang penting untuk dikuasai. Namun, Mendikdasmen mengingatkan agar penguasaan teknologi tidak menjadikan manusia bergantung sepenuhnya padanya. Teknologi hanyalah alat yang bekerja dengan dukungan listrik dan jaringan, bukan entitas yang harus mengendalikan manusia.
“Teknologi harus kita kuasai, tetapi teknologi tidak boleh menjadi juragan kita. Kita harus berada di atas teknologi, bukan diperbudak olehnya,” ujar Abdul Mu’ti. Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya sikap kritis dan kontrol diri dalam memanfaatkan inovasi digital.
Tiga Karakter Utama Pembangunan SDM
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menguraikan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus berfokus pada pembentukan generasi dengan tiga karakter utama. Karakter tersebut meliputi knowledgeable, capable, dan humble. Ketiga pilar ini diharapkan dapat menciptakan individu yang seimbang dan kompeten.
Generasi knowledgeable diartikan sebagai individu yang berilmu luas dan mendalam, yang dalam Al-Quran disebut ulul ilmi dan rasikhuna fil ilmi. Karakter ini ditumbuhkan melalui kebiasaan membaca, bertanya, dan belajar sepanjang hayat. Pesan Ali bin Abi Thalib juga dicontohkan terkait pentingnya membekali anak dengan keterampilan hidup.
Sementara itu, generasi capable adalah mereka yang memiliki kecakapan hidup dan keterampilan, termasuk penguasaan teknologi dan kemampuan adaptasi. Karakter humble merujuk pada generasi yang ber-akhlakul karimah, berintegritas, mampu bekerja sama, dan memiliki empati sosial. Nilai moral ini dianggap sebagai syarat penting dalam dunia kerja global.
Abdul Mu'ti menegaskan bahwa ilmu tinggi dan keterampilan hebat harus diimbangi dengan akhlak mulia. “Tanpa integritas, orang akan sulit diterima di mana pun,” katanya, menekankan bahwa integritas adalah kunci keberhasilan di berbagai bidang.
Komitmen Kemendikdasmen dan Sejarah Amanatul Ummah
Abdul Mu’ti juga menegaskan komitmen Kemendikdasmen untuk mewujudkan kebijakan pendidikan bermutu untuk semua. Penguatan peran guru menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan ini. Ia percaya bahwa guru yang hebat akan menghasilkan murid yang hebat pula, yang pada akhirnya akan mewujudkan Indonesia yang maju dan bermartabat.
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim, menyatakan rasa syukurnya atas kehadiran Mendikdasmen. Ia mengenang bagaimana Amanatul Ummah dirintis pada tahun 2006 di Pacet, Mojokerto, dengan kondisi yang sangat sederhana dan sulit dijangkau. Saat itu, jumlah santri masih terbatas, hanya 48 orang.
KH. Asep menceritakan bahwa asrama putri bahkan berasal dari bangunan bekas, termasuk bekas kandang ayam yang kemudian dibersihkan dan diperbaiki. Proses pembangunan dilakukan secara bertahap dengan kesederhanaan, namun dilandasi niat kuat untuk membangun rumah pendidikan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada pembentukan karakter santri.
“Sistem pendidikan yang tepat dan bertanggung jawab itu yang kami jaga. Dari kondisi serba terbatas, kami ingin melahirkan lembaga pendidikan yang benar-benar memberi manfaat,” ujarnya, menunjukkan dedikasi pesantren dalam mencetak generasi berkualitas.
Sumber: AntaraNews