Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan bahwa pesantren kini berada pada momen krusial untuk melakukan transformasi menyeluruh. Perubahan ini sangat penting guna menjawab berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks dan dinamis.
Pernyataan tersebut disampaikan Cucun dalam acara peresmian Majelis Al-Halimah di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Musri, Cianjur, Jawa Barat, pada Jumat (23/1). Transformasi yang dimaksud bukan hanya sebatas pembangunan fisik, melainkan juga perubahan fundamental.
Perubahan ini mencakup aspek manusia, metode pembelajaran, hingga tujuan pendidikan pesantren secara keseluruhan. Tujuannya adalah melahirkan generasi santri yang tidak hanya berakhlak mulia tetapi juga memiliki daya saing tinggi di kancah global.
Advertisement
Advertisement
Cucun Ahmad Syamsurijal menyoroti bahwa transformasi pesantren harus melampaui sekadar perubahan infrastruktur. Fokus utamanya adalah adaptasi terhadap arus digitalisasi serta persaingan global yang semakin ketat.
Pesantren, dengan akar yang kuat dalam membentuk karakter bangsa, wajib tetap adaptif terhadap perkembangan zaman. Ini berarti pesantren harus mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan modern.
Melalui adaptasi ini, pesantren dapat memastikan relevansinya tetap terjaga di tengah masyarakat. Kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk terus berkontribusi secara signifikan bagi kemajuan bangsa.
Advertisement
Advertisement
Salah satu pilar utama dalam transformasi pesantren adalah integrasi mendalam antara ilmu agama dan penguasaan sains serta teknologi. Cucun menekankan pentingnya perpaduan ini untuk mencetak santri unggul.
Dari rahim pesantren, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya berakhlakul karimah, tetapi juga memiliki kompetensi tinggi. Santri harus dibekali dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Komitmen terhadap inovasi menjadi hal yang mutlak bagi dunia pesantren. Ini akan memastikan bahwa lulusan pesantren siap bersaing dan memimpin di berbagai sektor pembangunan.
Advertisement
Advertisement
Majelis Al-Halimah diharapkan menjadi simbol kebangkitan intelektual dan spiritualitas santri. Peresmiannya menandai langkah maju dalam upaya transformasi pesantren yang berkelanjutan.
Cucun menyatakan bahwa santri harus siap mengambil peran strategis dalam memimpin berbagai sektor pembangunan. Hal ini sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan pemerintah.
Majelis ini diharapkan menjadi pusat literasi dan konsolidasi gagasan bagi santri dan masyarakat luas. Tujuannya adalah untuk terus berkontribusi bagi kemajuan agama, bangsa, dan negara secara holistik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews