Mayoritas Anak Sekolah di Tulungagung Alami Kelainan Visus Akibat Gawai
Dinas Kesehatan Tulungagung menemukan mayoritas anak sekolah di wilayahnya mengalami kelainan visus atau miopia, yang sebagian besar dipicu oleh penggunaan gawai secara intens sejak usia dini. Temuan ini terungkap melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengungkapkan hasil mengejutkan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025. Mayoritas anak sekolah yang menjalani pemeriksaan kesehatan di Tulungagung teridentifikasi mengalami kelainan visus atau miopia. Kondisi ini, menurut Dinkes, salah satunya disebabkan oleh kebiasaan penggunaan gawai yang intensif sejak usia dini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menjelaskan bahwa program CKG ini dirancang untuk mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan pada anak sekolah, mulai dari jenjang SD hingga SMA. Pemeriksaan ini mencakup seluruh wilayah Tulungagung, menjangkau sekitar 183 ribu anak sekolah.
Dari hasil pemeriksaan sementara, dr. Aris menyatakan, "mayoritas anak mengalami kelainan visus, meski juga ditemukan gangguan lain, seperti prediabetes, prehipertensi, dan gangguan pernapasan." Kondisi miopia atau rabun jauh ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan orang tua di Tulungagung.
Penyebab Utama Kelainan Visus pada Anak Sekolah
Kelainan visus pada anak sekolah di Tulungagung dapat dipicu oleh beberapa faktor, baik anatomis maupun kebiasaan. Secara medis, kelainan ini bisa disebabkan oleh faktor anatomis seperti bentuk bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan retina yang tidak normal. Akibatnya, cahaya tidak jatuh tepat di retina, menyebabkan penglihatan menjadi kabur saat melihat objek yang jauh.
Namun, di luar faktor anatomis, kebiasaan anak yang terlalu sering menggunakan perangkat elektronik menjadi pemicu utama gangguan penglihatan. Paparan radiasi dari gawai, laptop, dan televisi dalam durasi panjang dinilai meningkatkan risiko miopia pada anak usia sekolah. Fenomena ini semakin marak seiring dengan perkembangan teknologi dan akses mudah terhadap perangkat digital.
"Anak-anak sekarang lebih sering berinteraksi dengan perangkat elektronik dibandingkan bermain di luar ruangan seperti generasi sebelumnya, sehingga risiko kelainan visus menjadi lebih tinggi," ujar dr. Aris. Pergeseran gaya hidup ini secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kasus kelainan visus di kalangan pelajar.
Dampak Penggunaan Gawai dan Upaya Pencegahan
Kebiasaan menggunakan gawai dengan posisi yang tidak tepat, seperti sambil tiduran, atau dalam kondisi pencahayaan ruangan yang kurang memadai, semakin memperberat kerja otot mata. Hal ini dapat mempercepat terjadinya gangguan penglihatan pada anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memperhatikan lingkungan penggunaan gawai.
Terkait dengan pencegahan kelainan visus, Dinkes Tulungagung mendorong pembatasan penggunaan gawai pada anak. Selain itu, anak-anak juga diimbau untuk memberi waktu istirahat pada mata, salah satunya dengan melihat objek hijau di lingkungan sekitar. Aktivitas di luar ruangan dapat membantu relaksasi mata dan mengurangi ketegangan.
Apabila anak sudah mengalami kelainan visus, penanganannya meliputi penggunaan kacamata sesuai anjuran medis dan menjaga pencahayaan yang memadai. "Jika sudah mengalami kelainan visus, penanganannya dengan penggunaan kacamata sesuai anjuran medis dan tetap memperhatikan pencahayaan agar otot mata tidak bekerja terlalu berat," kata dr. Aris. Dinkes Tulungagung juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk menyampaikan hasil CKG kepada orang tua atau wali murid, dengan harapan penggunaan gawai pada anak dapat dikendalikan dan tidak mengganggu proses belajar mereka.
Sumber: AntaraNews