Longsor Lebak Terjang Empat Rumah di Cibadak, Warga Diungsikan Akibat Hujan Deras
Bencana Longsor Lebak menyebabkan empat rumah rusak berat di Desa Tambakbaya, Cibadak. Warga terdampak diungsikan karena curah hujan lebat masih berpotensi memicu longsor susulan.
Empat rumah warga di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, mengalami kerusakan berat setelah diterjang bencana longsor. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (08/3) setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas lebat selama beberapa hari terakhir. Lokasi rumah yang terdampak berada tepat di tepi bantaran Sungai Ciujung yang tanahnya mengalami pergeseran.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Sukanta, membenarkan kejadian ini dan menyatakan pihaknya telah mengirim petugas ke lokasi untuk melakukan pendataan terkait kerusakan yang disebabkan longsor. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden longsor ini, namun kerugian material cukup signifikan.
Masyarakat yang terdampak, khususnya tiga kepala keluarga dengan total 25 jiwa, telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat curah hujan masih tinggi dan dikhawatirkan dapat memicu terjadinya longsor susulan di area tersebut.
Dampak Longsor dan Upaya Evakuasi Warga Terdampak
Bencana longsor yang melanda Desa Tambakbaya, Cibadak, menyebabkan empat unit rumah tidak dapat dihuni lagi. Kondisi tanah di sekitar bantaran Sungai Ciujung yang tidak stabil menjadi pemicu utama longsor setelah diguyur hujan deras berkepanjangan. Petugas gabungan dari BPBD dan pemerintah kecamatan segera turun tangan untuk memastikan keselamatan warga.
Camat Cibadak, Apip Saepudin, menjelaskan bahwa empat rumah rusak berat dan tiga kepala keluarga terdampak, namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Para korban diungsikan ke tempat aman, karena hujan masih turun deras dan dikhawatirkan dapat memicu longsor susulan. Tiga kepala keluarga yang terdiri dari 25 jiwa telah berhasil diungsikan dari lokasi berbahaya. Mereka kini menempati rumah kerabat atau lokasi pengungsian sementara yang lebih aman, jauh dari potensi longsor susulan.
Proses evakuasi dilakukan dengan cepat mengingat kondisi cuaca yang masih ekstrem. Apip Saepudin menambahkan bahwa pihaknya bersama petugas gabungan sudah diturunkan ke lokasi untuk mengevakuasi warga, karena hujan masih turun deras, ditakutkan dapat memicu longsor susulan. Tim gabungan berupaya maksimal untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di area rawan bencana demi menghindari risiko yang lebih besar.
Imbauan Peningkatan Kewaspadaan Bencana Longsor Lebak
Menyikapi kejadian ini, Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta, mengimbau seluruh masyarakat agar meningkatkan potensi bencana longsor, sehubungan curah hujan dengan intensitas lebat yang cenderung meningkat. Ia mengingatkan bahwa curah hujan dengan intensitas lebat cenderung meningkat di wilayah Lebak, sehingga potensi bencana longsor, terutama di daerah-daerah yang memiliki kontur tanah labil atau berada di tepi sungai, sangat tinggi.
Camat Cibadak, Apip Saepudin, juga menegaskan pentingnya kewaspadaan kolektif. Pihaknya bersama petugas gabungan akan terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan. Masyarakat diminta untuk segera melaporkan jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau retakan di sekitar permukiman mereka.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menyiapkan langkah mitigasi. Edukasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul aman juga terus disosialisasikan kepada warga. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko dan dampak jika terjadi bencana serupa di masa mendatang.
Kesaksian Warga Terdampak dan Upaya Mandiri
Saepudin, salah seorang warga Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, menceritakan bahwa kondisi rumah miliknya rusak berat akibat longsor sehingga terpaksa dibongkar. Ia khawatir rumahnya roboh diterjang longsor susulan, terlebih curah hujan masih berlangsung.
Bersama dengan tiga kepala keluarga dan 25 jiwa, Saepudin mengungsi ke rumah orang tua dan saudara. Keputusan ini diambil secara mandiri untuk mencari perlindungan dan keamanan. Solidaritas antarwarga dan keluarga menjadi penopang utama dalam menghadapi musibah ini.
Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya permukiman di tepi sungai terhadap bencana alam. Warga berharap adanya bantuan dan perhatian lebih lanjut dari pemerintah untuk proses rehabilitasi dan relokasi. Mereka sangat membutuhkan dukungan agar bisa kembali membangun kehidupan yang lebih aman dan layak di kemudian hari.
Sumber: AntaraNews