Lembar Hidup Baru Umar Patek: dari Bomber Mengerikan, kini jadi Barista
Saat gerbang Lapas Porong Sidoarjo terbuka lebar untuknya pada Desember 2022, Patek melangkah keluar dengan harapan baru.
Di sebuah kafe, aroma kopi rempah menyeruak memenuhi udara, menghangatkan suasana. Di sudut ruangan, seorang pria menatap gelas kopi yang berada di tangannya.
Umar Patek, nama yang dulu pernah menghantui banyak orang, kini meracik kehidupan baru. Meninggalkan masa kelam yang pernah membayanginya.
Saat gerbang Lapas Porong Sidoarjo terbuka lebar untuknya pada Desember 2022, Patek melangkah keluar dengan harapan baru. Namun ternyata dunia tak seperti harapannya. Dunia tidak menyambutnya dengan tangan terbuka!
"Saya bebas dari penjara 7 Desember 2022. Saya luntang-lantung mencari kerja ke sana kemari, tidak ada yang mau menerima saya," kenangnya.
Stigma masa lalunya sebagai Napi teroris begitu lekat. Ke mana pun ia melangkah, jejaknya sebagai eks napiter selalu mengikuti, membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan dan diterima kembali oleh masyarakat. Ternyata tak semudah itu!
Hidup di Kesempatan Kedua
Hingga suatu hari, di awal Januari 2023, seorang dokter sekaligus pengusaha tiba-tiba saja mencarinya. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberikan kesempatan kedua padanya.
"Dokter David mencari saya, hingga akhirnya saya dipertemukan dengannya di (nama kafe) Hedon Estate. Dia bertanya, ‘kerja apa sekarang?’ Saya bilang saya tidak punya kerja. ‘Keahlian apa yang kamu miliki?’ Saya tidak punya," ujar Patek mengingat kembali pertemuan itu.
Mendengar kesulitan yang dihadapinya, dokter tersebut mencoba membantu. Suatu ketika, ia berkunjung ke rumah Patek di Porong, Sidoarjo. Saat itu, Patek menyuguhkan kopi rempah racikan khas ibunya. Secangkir kopi sederhana itu rupanya mengubah nasibnya.
"Saat beliau datang ke rumah saya, saya suguhi kopi, dan di situ beliau merasa suka dan menyuruh saya buatkan kopi seperti ini. Lalu beliau bilang, ‘Kita jual kopi kamu ini ke kafe saya’," tutur Patek menirukan ucapan David.
Namun, menerima tawaran itu bukanlah hal yang mudah bagi Patek. Bayangan masa lalunya membuatnya ragu. Ia takut kehadirannya mencoreng bisnis David, khawatir orang-orang menolak produk buatannya hanya karena nama yang melekat padanya.
"Saya waktu itu menolak, terus menolak. Saya khawatir bisnisnya jatuh karena menerima saya yang statusnya sebagai mantan teroris," ucapnya dengan penuh kekhawatiran.
Tetapi David tidak menyerah. Ia terus memberikan dukungan, menyemangati Patek agar berani melangkah maju. Dengan keberanian yang akhirnya ia kumpulkan, Patek pun resmi meluncurkan ‘Kopi Ramu’, sebuah produk kopi dengan empat varian: kopi rempah, kopi signature, kopi tubruk, dan kopi Ijen.
"Kata ‘Ramu’ itu kalau dibaca dari belakang jadi ‘Umar’. Dulu saya meramu bom, sekarang saya meramu kopi," kata Patek, dengan percaya diri.
Kini, Patek telah menemukan jalannya. Bukan lagi jalan yang dipenuhi kebencian dan permusuhan, tetapi jalan yang membawa kedamaian—melalui kopi, melalui usaha yang dirintis dengan penuh perjuangan, melalui kesempatan kedua yang ia dapatkan.
Dulu, tangannya meramu bom yang menghancurkan. Kini, tangan yang sama meramu kopi, menciptakan kehangatan dan kehidupan baru.
Dan bagi Patek, setiap seruput kopi adalah simbol harapan, sebuah langkah kecil menuju kehidupan yang lebih baik.
Hobi Fotografi Makro
Selain meramu kopi, Umar Patek ternyata juga memiliki hobi baru yang tak kalah menarik. Yakni fotografi makro.
Hobi itu diawali saat bertahun-tahun hidup dalam ruang sempit dan dinding dingin penjara, Patek mencari sesuatu yang bisa mengisi hatinya, sesuatu yang memberinya kehidupan baru, yakni fotografi makro.
"Fotografi yang saya sukai itu genre fotografi makro," katanya, dengan nada penuh ketenangan.
Dunia kecil yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya kini menjadi sesuatu yang luar biasa. Ketika ia melihat tayangan pada televisi berjudul ‘Seni Berburu Foto Serangga’, matanya terbuka. Ia terkagum, bagaimana hal yang nyaris tak terlihat oleh manusia ternyata menyimpan keindahan luar biasa.
"Saya tertarik dengan fotografi makro itu ketika saya masih di dalam penjara, menonton TV tentang fotografi makro menggunakan handphone dengan lensa tambahan yang dijepit di kamera belakang," kenangnya.
Ketika akhirnya bebas bersyarat pada Desember 2022, Patek mulai memburu lensa bekas untuk belajar, mencoba dan gagal berulang kali, hingga akhirnya menemukan komunitas yang membuatnya merasa dihargai.
"Ketika saya bebas dari penjara, di situlah saya mulai mempraktikkan, belajar," ujarnya.
Komunitas fotografi makro ini membawanya ke hutan-hutan, taman nasional, dan tempat-tempat yang dulu tak pernah ia bayangkan akan ia kunjungi. Malam hari, ia memburu serangga kecil, menangkap keindahan yang tersembunyi, menemukan makna dari setiap detail.
Dulu, Patek melihat dunia dalam sekat-sekat yang tegas. Hitam dan putih. "Kami dan mereka." Tapi fotografi makro mengajarkannya bahwa detail terkecil pun bisa menyimpan keindahan luar biasa—bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan harmoni.
Kini, kamera bukan hanya alat untuk menangkap gambar, tetapi juga alat untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Ia telah menemukan fokusnya bukan hanya dalam lensa, tetapi dalam kehidupan.