Kunci Kemandirian Teknologi, Indonesia Dinilai Butuh SDM di Bidang Cloud Computing
ITTS hadir sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan SDM yang siap memenuhi kebutuhan industri cloud computing technology.
Teknologi komputasi awan memiliki berbagai keunggulan karena lebih efisien, aman dan dapat meningkatkan kapasitas lebih baik. Pelaku usaha tidak perlu berinvestasi besar pada infrastruktur fisik, seperti server dan pusat data. Teknologi ini juga mendorong lahirnya talenta-talenta baru dibidang cloud computing technology dengan karier yang cemerlang.
Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan, Onno W Purbo menegaskan saat ini regulasi seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) dan aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (POJK) semakin menegaskan pentingnya penggunaan data center lokal di Indonesia. Namun, tidak cukup hanya dengan infrastruktur fisik.
“Kita juga memerlukan tenaga ahli di bidang networking, cloud infrastructure, DevOps, dan Site Reliability Engineering (SRE) untuk memastikan operasional yang efisien dan aman," kata Onno W Purbo usai menandatangani kerjasama ITTS dengan Sivali Cloud Technologi di Kampus ITTS BSD, Tangerang Selatan.
Dia menerangkan ITTS hadir sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan SDM yang siap memenuhi kebutuhan industri cloud computing technology.
"Mahasiswa kita akan dipersiapkan bukan hanya dengan teori, tetapi dengan pengalaman langsung membangun cloud infrastructure berbasis open-source, memastikan bahwa keahlian yang mereka miliki siap digunakan dalam skala industri," ucap dia.
Menurutnya dengan ekosistem open source yang kuat, ITTS optimis bisa melahirkan generasi DevOps, Site Reliability Engineering (SRE), dan cloud engineers yang siap memenuhi kebutuhan industri. ITTS akan menjadi role model bagi institusi lain dalam mendidik dan melatih talenta unggul di bidang ini.
“Saat ini, perbankan, pemerintahan, dan sektor telekomunikasi di Indonesia semakin membutuhkan solusi private cloud berbasis open-source. Mereka tidak lagi ingin bergantung pada vendor asing yang mahal dan support-nya lambat. Mereka membutuhkan SDM lokal yang bisa membangun dan mengelola infrastruktur mereka sendiri,” tegasnya.
Presiden Direktur Sivali Cloud Technology, Wong Sui Jan, menegaskan alasan kuat Sivali dalam mendorong lahirnya tenaga kerja ahli dan peningkatan kapasitas SDM di bidang cloud computing technology.
"Kebutuhan sumber daya ini yang memacu Sivali untuk meluncurkan Sahabat Ubuntu Indonesia. Jaringan Afiliasi Nusantara (SUI JAN) dan merupakan langkah strategis dari Sivali membentuk wadah komunitas dan jaringan afiliasi open-source yakni Ubuntu Pro yang tangguh di Indonesia," kata Sui Jan.
Program ini, lanjutnya, memang dirancang untuk memberdayakan individu-individu dalam mengembangkan keterampilan manajemen infrastruktur, meningkatkan karier, dan memberikan kontribusi nyata pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital Indonesia.
"Kami yakin, dengan dukungan Sivali dan Canonical, Program SUI JAN akan menciptakan dampak positif dalam perjalanan transformasi digital Indonesia,” ujarnya.
Co-Founder and Executive VP Sivali Cloud Technology, Ryo Ardian mengatakan, kerja sama Sivali dengan ITTS memacu optimisme menguatkan kualitas SDM teknologi informasi.
“Dari sini kita bisa bangun generasi baru yang bakal membangun Indonesia lebih mandiri dan berdaulat di teknologi. Kalau belajar Kubernetes, OpenStack, Ubuntu, kita belajar cara bikin infrastruktur dari nol. Tidak hanya menjadi generasi user, namun kita lahirkan generasi builder yang tentu saja memiliki skill dan nilai tambah untuk menjadi tenaga kerja ahli yang berani dan mampu berkompetisi secara global," tandas dia.