Kudus Book Party Gandeng Fenty Effendy Bedah Buku 'Bawa Mereka Pulang': Kisah Pembebasan 10 ABK Tanpa Tebusan!
Kudus Book Party sukses menggelar bedah buku 'Bawa Mereka Pulang' bersama Fenty Effendy, mengungkap kisah heroik pembebasan 10 ABK Indonesia di Filipina tanpa uang tebusan. Simak detailnya!
Komunitas pecinta literasi Kudus Book Party baru-baru ini sukses menggelar acara diskusi dan bedah buku. Mereka menggandeng penulis kenamaan Fenty Effendy di Taman Oasis Kudus pada Senin, 6 Oktober. Acara ini fokus membahas buku berjudul Bawa Mereka Pulang, yang menceritakan kisah nyata pembebasan 10 anak buah kapal (ABK) Indonesia.
Buku tersebut secara detail mengupas proses pembebasan para ABK yang sempat disandera di Filipina. Kehadiran Fenty Effendy bertujuan untuk berbagi pengalaman dan wawasan mendalam mengenai perjuangan kemanusiaan ini. Kegiatan ini menarik perhatian sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, termasuk guru, mahasiswa, dan pegiat literasi.
Rofida Ilya, Koordinator Regional Kudus Book Party, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya komunitas untuk menumbuhkan budaya literasi. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membangkitkan nilai empati kemanusiaan melalui kisah nyata yang inspiratif. Diskusi berjalan hangat dan penuh semangat, meski digelar pada hari kerja.
Membangun Literasi dan Empati Kemanusiaan
Rofida Ilya menegaskan pentingnya literasi untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. "Bangun literasi itu penting untuk memperkuat kualitas SDM," ujarnya. Ide menghadirkan Fenty Effendy muncul dari keresahan komunitas terhadap minimnya perhatian pemerintah pada gerakan literasi.
Melalui buku Bawa Mereka Pulang, Kudus Book Party ingin menunjukkan bahwa kegiatan membaca memiliki kekuatan besar. Membaca dapat membuka empati, terutama terhadap perjuangan kemanusiaan seperti pembebasan para ABK. Antusiasme peserta cukup tinggi, meskipun acara berlangsung pada hari kerja.
Kudus Book Party berharap semangat literasi dan empati sosial dapat terus tumbuh di kalangan masyarakat Kudus. Mereka ingin literasi tidak hanya sebatas membaca buku, tetapi juga memahami nilai kemanusiaan. Selain itu, belajar dari kisah nyata bangsa sendiri menjadi poin penting yang ditekankan.
Mengungkap Kisah Pembebasan ABK Tanpa Tebusan
Fenty Effendy secara langsung membagikan buku Bawa Mereka Pulang secara gratis kepada para peserta. Buku ini merupakan karya jurnalistik yang mengungkap kisah di balik layar pembebasan 10 ABK Indonesia. Proses pembebasan tersebut berhasil dilakukan tanpa uang tebusan, sebuah fakta yang belum banyak diketahui publik.
"Saya senang sekali bisa hadir di Kudus Book Party. Ini pengalaman pertama dan istimewa, karena Kudus menjadi tempat pertama pembahasan buku Bawa Mereka Pulang yang dibagikan gratis untuk dibaca bersama," kata Fenty. Ia menjelaskan, buku ini menyajikan kisah yang belum banyak diketahui publik (untold story) mengenai proses pembebasan sandera.
Buku tersebut juga merinci drama dan strategi negosiasi yang kompleks di balik keberhasilan tersebut. "Di sini diceritakan siapa yang membebaskan, bagaimana prosesnya dilakukan tanpa uang tebusan, dan perjuangan para negosiator yang bekerja dalam senyap," jelas Fenty. Semua detail penting ini dapat dipelajari dari buku tersebut.
Kegiatan literasi ini mendapat dukungan dari Anggota DPR RI Lestari Moerdijat, yang berperan dalam tim kemanusiaan pembebasan ABK pada tahun 2016. Fenty mengungkapkan, "Setelah sembilan tahun berlalu, baru sekarang publik mengetahui bahwa Ibu Lestari Moerdijat merupakan salah satu pimpinan tim kemanusiaan yang terlibat langsung dalam proses pembebasan para ABK."
Pesan Kritis untuk Generasi Muda
Fenty Effendy menekankan bahwa buku Bawa Mereka Pulang mengandung pesan penting bagi mahasiswa dan generasi muda. Pesan tersebut adalah agar mereka lebih kritis dalam memilah informasi di era media sosial yang serba cepat. Kemampuan untuk membedakan fakta dan opini menjadi sangat krusial.
"Dari buku ini, kita belajar apa itu informasi A1, bagaimana mendapatkan sumber sahih, dan bagaimana memilah kebenaran di tengah derasnya informasi yang belum tentu benar," ujarnya. Buku ini menjadi bahan pembelajaran berharga tentang tanggung jawab dan ketelitian. Hal ini penting dalam mencari fakta di tengah lautan informasi digital.
Kisah pembebasan ABK ini menjadi pelajaran berharga tentang kemanusiaan dan diplomasi tanpa kekerasan. Ini menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan strategi yang tepat, hasil positif dapat dicapai. Buku ini mendorong pembaca untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Sumber: AntaraNews