Konten Lokal Dinilai Masih Menjadi Kunci Daya Saing Media Nasional
Dominasi konten lokal tercermin dari data konsumsi televisi nasional. Dari 100 program teratas setiap tahun, sekitar 94 persen di antaranya secara konsisten.
Di tengah derasnya arus konten digital dan dominasi platform global, konten lokal dinilai masih menjadi kekuatan utama media nasional untuk bertahan dan bersaing. Hal tersebut disampaikan Managing Director Emtek sekaligus CEO Vidio, Sutanto Hartono.
Sutanto mengatakan preferensi audiens di Indonesia hingga kini masih berpihak pada konten dalam negeri, baik di televisi, bioskop, maupun platform digital.
"Kalau kita lihat di Indonesia, konten lokal ini tetap menjadi king konten. Konten yang paling digemari," kata Sutanto dalam Workshop Awal Tahun 2026 Dewan Pers bertajuk Memandang Masa Depan Media: Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas di Era Hiper-Konektivitas di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
Ia memaparkan dominasi konten lokal tercermin dari data konsumsi televisi nasional. Dari 100 program teratas setiap tahun, sekitar 94 persen di antaranya secara konsisten merupakan produksi lokal.
"Secara konsisten tiap tahun kalau kita melihat top 100 program, 94 persennya itu selalu konten lokal," ujarnya.
Menurut Sutanto, temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pola konsumsi media masyarakat berubah seiring perkembangan teknologi digital, minat terhadap konten domestik tetap kuat.
Dominasi serupa juga terlihat di industri perfilman nasional. Pada 2025, hampir 70 persen tiket bioskop yang terjual berasal dari film Indonesia. Bahkan, jumlah penonton bioskop nasional mencatat rekor baru dengan total 80,5 juta tiket terjual dalam satu tahun.
"Di tahun 2025 itu kita melihat hampir 70 persen tiket jualan di bioskop itu sudah film Indonesia, bukan lagi film Hollywood," ungkapnya.
Ia menambahkan capaian tersebut diperkuat dengan keberhasilan dua film Indonesia, Jumbo dan Agak Laen, yang masing-masing menembus lebih dari 10 juta penonton. Menurutnya, pencapaian ini menjadi tonggak baru dalam sejarah perfilman nasional.
"Pertama kali dalam sejarah Indonesia kita menemukan dua judul yang menembus rekor 10 juta tiket," kata Sutanto.
Lebih lanjut, Sutanto menyebut dominasi konten lokal juga terjadi pada platform over the top (OTT). Dari 100 judul teratas yang ditonton di platform OTT, separuhnya merupakan konten produksi Indonesia.
"Kalau kita melihat di top 100 title, ternyata separohnya juga konten Indonesia," ujarnya.
Sinyal Positif
Sutanto menilai fakta-fakta tersebut menjadi sinyal positif bagi industri media nasional di tengah tekanan akibat pergeseran belanja iklan ke platform digital global. Ia menegaskan, kekuatan konten lokal merupakan peluang strategis yang perlu dimaksimalkan agar media nasional tetap relevan dan kompetitif.
Konten yang Jago
"Kalau kita bicara konten Indonesia, harusnya kita yang jago. Nah ini memberikan cerah harapan buat kita. Karena kita melihat ada celah ini yang harus kita fokuskan," tandasnya.