Klarifikasi Menag Nasaruddin Soal Meninggalkan Zakat
Nasaruddin mengaku tidak bermaksud menihilkan kewajiban berzakat bagi umat Muslim.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta maaf atas pernyataannya soal zakat yang menimbulkan kesalahpahaman. Nasaruddin mengaku tidak bermaksud menihilkan kewajiban berzakat bagi umat Muslim.
"Saya Nasaruddin Umar memohon maaf atas pernyataan saya yang terkait dengan zakat yang telah menimbulkan mungkin kesalahpahaman bagi sebagian orang," kata Nasaruddin seperti dikutip dari media sosial Kementerian Agama, Minggu (1/3).
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyatakan, zakat itu adalah fardu ain dan rukun Islam wajib kita tunaikan. Oleh karena itu, pernyataannya saat acara Forum Sarasehan 99 Ekonomi Syariah merupakan bentuk dorongan kepada umat agar dilakukan tidak hanya tindakan berzakat, namun melakukan instrumen lain seperti wakaf, infaq dan sadaqah.
“Maksud pernyataan saya dalam Sarasehan 99 Ekonomi Syariah itu adalah ajakan untuk melakukan reorientasi pengelolaan dana umat, dari sekadar hanya zakat oriented, zakat semuanya serba zakat sebagai kewajiban dasar,menuju optimalisasi beragam instrumen. Baik wakaf, infak, sedekah, jariah, hibah, wasiat, luqathah, fai', ghanimah, mudharabah, musyarakah. Ada 27 itu,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin mencontohkan sejumlah negara berhasil bangkit sektor ekonominya dari praktik selain zakat. Mulai dari Qatar, Kuwait, Emirat Arab, termasuk juga Mesir dan Sudan.
“Mereka itu bangkit itu tidak mengandalkan only zakat ya. Justru wakaf yang paling produktif, paling luas. Di sana instrumen wakaf melalui Kementerian Wakaf menjadi motor penggerak pembangunan yang sangat masif,” kata dia.
Menurut dia, model itulah yang ingin diadopsi untuk mempercepat kemajuan umat di Indonesia.
Ucapan Menag Nasaruddin
Sebagai informasi, berikut pernyataan Nasaruddin sebelumnya yang menjadi kontroversi soal zakat.
'Kalau kita ini (mau) maju sebagai umatnya, kita harus meninggalkan zakat. Zakat itu enggak populer. Quran juga tidak terlalu mempopulerkan zakat. Pada masa Nabi, zakat itu enggak populer. Pada masa sahabat juga enggak populer. Yang populer apa? Sedekah.
Alangkah miskinnya dan alangkah pelitnya umat Islam itu kalau pengeluarannya terhadap agamanya hanya zakat. Cuma 2,5% lho. Bandingkan bunga mudharabah, musyarakah kita itu berapa? Bisa sampai 6, bisa sampai 8, bisa sampai 9% kalau asuransi ya kan? Nah, itu zakat cuma 2,5%. Jadi kalau pengeluaran kita hanya zakat, terlalu pelit kita.'